Chapter 12
^^^
“Bagaimana kalau dia tidak kembali?” tanya Ben pada Sandra yang kemudian hanya mendesah pelan.
“Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa memaksa Galaksi untuk menikahi Ruby. Dia pantas mendapatkan gadis yang lebih baik.”
Ruby menelan makanannya dengan susah payah. Ada rasa sedih ketika Ruby mendengar ucapan sang ibu. Ya, mana mungkin juga mereka memaksa Galaksi untuk menikah dengannya. Galaksi berhak menolak perjodohan itu dan memilih gadis lain.
“Selamat pagi.”
Tahu-tahu, terdengar suara pintu dibuka bersamaan dengan munculnya Galaksi yang seketika membuat ketiganya membisu sesaat karena terkejut.
“Ga-Galaksi?” ucap Sandra terbata. “Kamu kembali?”
Galaksi tersenyum dan mengangguk kecil. “Iya, apa kabar?”
Ruby mengerjapkan matanya dan segera bangkit berdiri. Dihampirinya Galaksi dengan tatapan tak percaya.
“Ka-kamu benar-benar kembali?” tanya Ruby.
Galaksi mengangguk lagi. Tatapan matanya meneduhkan, membuat Ruby mengembuskan napas lega.
“Aku pikir… kamu akan berubah pikiran,” lirih Ruby sembari menunduk dalam.
Galaksi tersenyum. Dia menaruh satu tangannya di puncak kepala Ruby dan menepuknya pelan sebanyak tiga kali. “Maaf aku membuat kamu menunggu lama.”
Ruby tersipu sampai-sampai dia menggigit jari-jarinya. “Iya.”
Galaksi lalu menoleh menatap Sandra dan Ben yang sejak tadi diam memperhatikan dan mencuri dengar pembicaraan mereka. “Besok kita semua akan ke Bali. Persiapan pernikahan sudah selesai, jadi kami akan menikah besok.”
“Besok?” tanya Ruby dan orangtuanya secara bersamaan dengan kaget. Begitu pula dengan Bastian dan Kristal yang sedang berdiri di muka pintu toko.
Galaksi mengangguk. “Iya, besok.”
***
Ruby tidak bisa berhenti tersenyum saat dia membereskan barang-barangnya yang akan dia masukkan ke dalam koper untuk dibawa ke Bali besok. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya dia bersemangat untuk meninggalkan rumah, terutama kamarnya. Selama ini, Ruby selalu meyakinkan diri bahwa dia akan hidup dan mati di kamar ini, bersama dengan mimpi-mimpinya.
Ruby sama sekali tidak berminat untuk menikah dalam waktu cepat karena berpikir tidak mungkin ada pria yang mau menikahinya. Jadi, dia merasa hidupnya tidak memerlukan tempat lain lagi untuk ditinggali selain kamarnya ini. Namun, setelah malam di mana Galaksi melamarnya, pemikiran itu pun berubah. Ruby ingin tinggal bersama Galaksi di rumah mereka yang hangat, yang nantinya ada anak-anak mereka di dalamnya.
Ruby menarik napas dalam-dalam lalu memejamkan matanya. Rasanya… damai jika membayangkan hal yang indah itu terjadi nanti di kemudian hari.
Ruby memasukkan buku-buku karyanya bersama tumpukan baju sambil menitikkan air mata.
Mana dia kira, dia akan sampai pada titik ini. Titik di mana dia akan membuka lembaran baru dalam perjalanan hidupnya bersama seseorang yang kini telah sepenuhnya mencuri hatinya.
“Ruby.” Suara ibunya terdengar dari pintu kamarnya. Tidak biasanya ibunya itu memanggilnya dengan nada rendah seperti itu. Bukannya masuk, Sandra justru berdiri di ambang pintu lalu memanggilnya dengan gerakan tangan.
Ruby mendekat dan bertanya, “Ada apa, Bu?”
“Kristal, dia menangis di kamarnya.”
“Menangis? Kenapa?”
“Sepertinya dia sedih mendengar kalau besok kamu akan menikah. Mungkin, dia mulai merasa kehilangan.”
Ruby mengerjapkan matanya. “Sejak kapan dia menganggapku penting?”
Sandra memukul lengan Ruby. “Sudah sana ajak dia bicara. Katakan sesuatu padanya.”
Ruby tersenyum kecil kemudian mengangguk. “Iya, baiklah.”
***
Jika kebanyakan saudara perempuan menjadi seperti teman di dalam rumah, maka hal itu berbanding terbalik dengan Ruby dan Kristal. Keduanya lebih sering bertengkar dan jarang terlihat akur. Padahal sudah jelas-jelas usia Ruby jauh di atasnya, tapi Kristal justru menganggap Ruby seperti musuhnya di sekolah. Namun, kendati demikian, ada saat-saat di mana mereka menunjukkan cinta mereka sebagai saudara. Meskipun tidak ditunjukkan setiap hari, tapi sebenarnya mereka saling menyayangi satu sama lain. Hanya saja, mereka tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya. Atau bukannya tidak tahu, melainkan gengsi.
Ruby membuka pintu kamar Kristal kemudian bertanya, “Apa aku boleh masuk?”
Dari belakang, tampak Kristal cepat-cepat mengusap wajahnya dengan punggung tangan. “I-iya, masuk saja.
Ruby melangkah masuk lalu duduk di tepi ranjang bernuansa merah muda itu. “Ada apa?”
“Huh? Tidak ada apa-apa.
“Oooh.”
“Kenapa ke sini?”
Ruby menatap Kristal yang masih belum mau menatapnya. “Mungkin, ini adalah terakhir kali aku masuk ke sini. Kamu pasti senang, karena sebentar lagi, kamu akan jadi satu-satunya anak perempuan di rumah ini. Dan tidak akan ada lagi orang yang membuatmu kesal. Kamu bisa melakukan apa pun di rumah ini. Kamu tidak perlu takut lagi karena orang yang suka merebut makananmu akan pergi besok untuk selamanya.”
Entah sejak kapan, Kristal sudah menangis tersedu sambil berkata, “Kakak bicara seolah Kakak mau mati besok.”
Ruby tertawa. “Anggap saja begitu.”
Kristal mendongak, menatapnya dengan mata basah. “Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sedih."
“Sedih kenapa?"
“Aku tahu hubungan kita tidak seperti orang-orang normal lainnya. Aku tidak pernah menurut dengan apa pun yang Kakak katakan. Aku minta maaf, karena sampai hari ini aku masih jadi adik yang menyebalkan.”
Ruby tersenyum kian lebar. “Aku juga bukan kakak yang baik untukmu. Maaf, ya? Aku selama ini sudah sering membuatmu kesal.”
“Aku begitu karena ingin Kakak berubah. Aku juga mau melihat kakak jadi cantik seperti gadis lainnya. Aku malu setiap kali teman-temanku membandingkan kakak denganku. Mereka mengejekmu di depanku dan itu membuatku sedih.”
Ruby menepuk pundaknya. “Santai saja, aku sudah terbiasa sejak kecil.”
“Tapi, aku tidak bisa terus mendengar mereka membicarakan tentang Kakak. Mereka bahkan sampai bilang kalau Kakak bukan anak kandung ibu.”
“Sudah, mulai sekarang jangan dengarkan apa pun kata mereka. Jangan khawatirkan aku lagi. Aku sudah bahagia sekarang.”
Kristal mengusap air matanya. “Aku mungkin akan merindukan Kakak nanti.”
Ruby bergerak mendekat lalu memeluk Kristal. “Aku juga pasti akan merindukan kalian semua.”
Kristal tertegun sesaat. Perlahan tapi pasti, diangkatnya kedua tangan untuk membalas pelukan sang kakak.
Tiba-tiba, pintu kamar membuka dan Bastian langsung berlari ke arah mereka sambil merentangkan tangan. Tapi, sebelum Bastian sampai di dekat mereka, keduanya pun beranjak sehingga Bastian terjatuh ke atas ranjang. Dengan cepat, Kristal melompat ke atas tubuh Bastian dan menggelitik perutnya. Sementara itu, Ruby menarik celana yang dipakainya sampai melorot.
“Apa-apaan ini! Lepaskan aku!” seru Bastian sambil tertawa terbahak-bahak karena merasa geli.
Ruby lalu membuang celana Bastian ke luar jendela sebelum akhirnya berlari keluar kamar disusul Kristal. Di luar kamar mereka terbahak-bahak, membayangkan Bastian yang sekarang pasti merasa marah karena Ruby sudah membuang celananya ke luar. Tak lama kemudian, Bastian keluar dengan raut wajah kesal. Tak lupa dia menyebutkan sumpah serapah untuk keduanya.
“Jangan marah, ini terakhir kalinya aku menganggumu seperti ini,” kata Ruby sambil mengacungkan dua jarinya sebagai permintaan damai.
Bastian memberengut. “Siapa lagi yang akan memberiku uang jajan kalau Kakak pergi. Aku tahu selama ini aku merepotkan Kakak. Tapi, aku sangat menyayangi Kakak. Aku tidak bisa hidup tanpa Kakak.”
“Sudah, jangan menjilat seperti itu. Aku tetap akan mengirimkan kalian uang jajan. Jadi, tolong, jangan minta apa pun pada ibu dan ayah.”
Bastian dan Kristal seketika sumringah.
“Aku mau kalian jangan pernah membuat ibu sedih. Apa pun yang ibu katakan, percayalah, dia hanya memikirkan apa yang terbaik untuk kita.”
Bastian mengangguk. “Iya, aku tahu.”
“Apa Kakak bahagia?” Pertanyaan Kristal itu membuat Ruby mendongak dan menatapnya dengan penuh tanya.
“Apa?”
“Apa Kakak benar-benar bahagia? Apa ini yang Kakak inginkan?”
Ruby tersenyum lebar. “Suatu hari, aku pun tetap harus menikah, bukan?”
“Kami menyukai kak Galaksi. Dia orang yang baik dan dia mau menerima keluarga kita. Tapi, kalau Kakak tidak menginginkan pernikahan ini, Kakak bisa menolaknya. Kami… kami akan menerima apa pun keputusan Kakak.”
Bastian mengangguk. “Iya, itu benar, Kak. Jangan berpura-pura bahagia demi ibu dan ayah.”
Ruby menatap wajah kedua adiknya itu secara bergantian dan tersenyum. “Aku benar-benar bahagia. Jangan khawatir.”
Galaksi yang berdiri tidak jauh dari mereka tampak tertegun sejenak mendengar pembicaraan mereka. Namun, ketika Kristal menyadari kehadirannya, Galaksi langsung menunjukkan seulas senyum.
“Kak Galaksi, kemarilah, ada yang ingin kami katakan.”
Galaksi mendekat lalu menarik kursi di sebelah Ruby. “Apa itu?”
“Setelah kalian menikah nanti, apa kami boleh menginap di rumah kalian selama beberapa hari?” tanya Kristal.
Galaksi tersenyum. “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja boleh. Kalian bisa datang kapan saja dan tinggal selama apa pun yang kalian mau.”
Bastian dan Kristal tampak sumringah. “Kak, tolong, jangan pernah membuat kak Ruby menangis.”
Galaksi melirik Ruby yang juga meliriknya. “Iya, aku tidak akan pernah membuat kakak kalian menangis.”
Ruby menunduk dan tersenyum dalam diamnya. Itu adalah janji yang besar, dan Galaksi mengatakannya dengan mudah. Janji itu pun menciptakan harapan yang besar di hati Ruby. Semoga saja, Galaksi tidak mengingkari janjinya di kemudian hari karena kisah mereka baru saja dimulai….
***