Dia, Ruby

1836 Kata
*Gara-gara ini aku belum up.Kaori Davin, mohon bersabar ini ujian. Hahaha **** Di dalam kamarnya yang hanya diterangi oleh cahaya lampu dari snowball berisi patung sepasang pengantin di atas meja, Ruby duduk di depan laptop-nya dengan putus asa. Kepalanya sakit dan rasanya ingin meledak. Bukan sakit karena suatu penyakit, melainkan karena dia tidak tahu harus menulis apa lagi untuk melanjutkan novel terbarunya. Hm-ya, Ruby adalah seorang penulis dan sudah menerbitkan beberapa buku. Ia menulis genre romantis dan sekarang aktif menjadi penulis penuh waktu sebuah platform online berbayar dengan nama pena Pinkerbells. Dalam sehari, Ruby harus menulis sebanyak 4000 kata. Awalnya begitu mudah. Namun, belakangan menjadi sulit ketika ia diserang oleh writer block, penyakit akut yang diderita banyak penulis. Sudah tiga jam, dan dia baru berhasil menulis 50 kata. Benar-benar menyebalkan. Dia harus update malam ini karena para pembacanya sudah mulai menerornya melalui akun-akun media sosialnya. Sebagian dari mereka bar-bar dan itu cukup mengganggu pikirannya. "Astaga, kenapa aku tidak bisa berpikir sama sekali?" keluhnya sambil menekan-nekan dahinya dengan jari. "Ayolah, inspirasi! Muncullah!" Tahu-tahu, pintu kamarnya diketuk dan dibuka dari luar. "Kak Ruby...." "Hmmmm?" Ruby menoleh tanpa minat. Nyaris saja adik perempuannya itu menjerit kaget karena melihat penampilan wajahnya saat itu, juga keadaan kamarnya yang terbilang gelap. "Astaga! Hampir saja aku berteriak. Kupikir tadi Kakak sudah berubah jadi setan," ujar Kristal dan mendengus malas. Ruby menaruh kacamatanya dan menguap. "Ada apa?" "Sebentar lagi toko akan tutup. Ibu meminta tolong agar Kakak membantunya." "Aku sedang menulis." "Sebentar saja. Masa tidak bisa?" "Aku... sedang malas bergerak." Ruby kini menyandarkan kepalanya ke atas meja. "Kalau itu memang kebiasaan Kakak. Lagipula, aku perhatikan, sejak semalam Kakak menulis terus. Tidak bosan, ya?" "Tidak ada orang yang bosan dengan hobinya." "Oh, ya? Memangnya lagi menulis apa?" Gadis berusia 15 tahun itu mendekat. Ia memajukan kepalanya untuk membaca sederet kalimat yang ada di layar laptop. "Aaah, sudah kuduga. Adegan jorok lagi?" "Apa maksudnya dengan adegan jorok?" Kristal menaikkan satu alisnya. "Apa sebelum menulis adegan seperti itu, Kakak membayangkan hal-hal jorok?" Ruby mengangkat kepalanya dan melotot. "Apa?!" "Bagaimana Kakak bisa menulisnya? Apa Kakak pernah melakukannya?" Perkataannya mulai mendobrak tata krama. Bagaimana bisa gadis 15 tahun bertanya hal tabu seperti itu? "Untuk menulis beberapa adegan, aku tidak harus melakukannya. Ada banyak buku dan film yang menggambarkan semuanya." "Oooh, jadi Kakak suka membaca dan menonton hal-hal seperti itu, ya? Benar-benar menjijikkan. Apa itu sebabnya Kakak terlihat aneh setiap kali melihat laki-laki tampan?" "Huh-huh?" Ruby membuka mulutnya, namun ia tiba-tiba bingung mau mengatakan apa. "A-apa maksudnya itu? Aneh bagaimana?" "Kakak akan terlihat seperti orang bodoh setiap kali melihat laki-laki tampan. Kakak akan terus memandanginya sampai air liur Kakak menetes. Apa saat itu Kakak sedang membayangkan hal-hal jorok?" Ke-kenapa dia bisa berkata seperti itu? Ruby jadi gelagapan dibuatnya. "Seharusnya, Kakak menulis sebuah kisah yang edukatif, inspiratif, dan memotivasi. Bukannya membuat cerita seks atas nama cinta yang merusak moral bangsa." Kenapa kata-katanya menjadi setajam silet? "Hei, seks juga butuh edukasi! Kami mengemasnya dengan cinta dan kasih sayang. Lagi pula, banyak penulis yang sudah memberikan peringatan rating usia di sampul depan bukunya, kan? Jika itu ditujukan untuk orang dewasa, kenapa kalian masih membacanya? Jangan menyalahkan penulis. Kami punya pasar sendiri. Kalian saja yang tidak bisa memilih bacaan dengan bijak!" Kenapa adiknya itu tiba-tiba mengomentari apa yang ditulisnya dengan sangat pedas? Kristal sudah seperti seorang penulis yang diam-diam menyamar menjadi pembaca dan melontarkan kata-kata jahat untuk menjatuhkan mental sesama penulis. Dan Ruby, sudah kenyang menghadapi ucapan-ucapan semacam itu sejak ia pertama kali memublikasikan karyanya. "Jangan marah-marah, nanti Kakak jadi cepat tua. Kalau Kakak jadi perawan tua, siapa yang mau menikahi Kakak?" Ruby menggebrak meja. "Pergi dari hadapanku sekarang juga!" Kristal terbahak-bahak melihat ekspresinya kemudian berlari keluar kamar. Merasa tidak terima, Ruby pun bangkit, hendak mengejarnya. Akan tetapi, sayang seribu sayang, ia justru menabrak kaki meja sehingga ia jatuh ke lantai dengan bunyi yang keras, seperti ada guntur di siang bolong. Rumah kayu itu seketika bergetar, membuat para pelanggan toko roti mereka berlarian keluar lantaran mengira saat itu telah terjadi gempa. "Ada apa lagi ini?" Ibunya, yang tadinya sedang melayani pembeli seketika mendengus malas. Bunyi tadi tidak membuatnya terkejut karena hal itu sudah biasa terjadi. "Lama-lama rumah ini bisa roboh," gerutunya. Tak lama kemudian, sepasang kaki berukuran besar menuruni tangga. Langkahnya pelan dan pasti. "Apa tadi ada tikus lagi?" tanya ibunya setelah Ruby sepenuhnya terlihat di depan matanya. Ruby cemberut, ia berjalan mendekat. Tubuhnya yang besar terlihat seperti bantalan yang empuk. Rambutnya yang panjang digulung asal. Pandangannya agak sedikit kabur dikarenakan ia tidak memakai kacamata. "Kristal membuat ulah lagi." "Astaga, kalian itu... selalu saja bertengkar." "Dia yang memulainya." Ruby melihat sekelilingnya. "Kenapa sepi sekali? Apa tidak ada pembeli?" "Tidak ada apanya? Gara-gara suara tadi, beberapa pembeli kabur ketakutan. Mereka kira tadi ada gempa bumi." "Lalu, di mana Kristal?" "Masuk ke kamarnya." "Huh, dasar!" "Lagipula sudah jam sepuluh. Ayo, kita tutup saja toko ini." Sandra bergegas, ia berjalan menuju pintu. "Di mana Bastian dan ayah?" tanya Ruby selagi ibunya menutupi tirai jendela. "Main billiar. Aku sudah bilang agar pulang lebih awal. Tapi, sepertinya mereka sengaja tidak mendengarkanku. Lihat saja! Aku tidak akan membuka pintu!" Dan pintu itu pun ditutup sehingga suara bising kendaraan yang melintas terdengar samar. "Ouh, baiklah." “Hari ini benar-benar melelahkan,” ucap Sandra lalu menguap lebar. Ketika ia membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya ia pada saat melihat Ruby berdiri di dekat trash bag sedang mengambil berbungkus-bungkus roti dari dalam sana dengan terburu-buru “Jangan bilang kamu akan memakan semua sisa roti itu lagi?” Ruby tersentak kaget dan berbalik. Semaksimal mungkin ia berusaha untuk menyembunyikan berbungkus-bungkus roti itu di balik punggungnya. “A-aku hanya mengambilnya sedikit,” jawabnya dan meringis meminta maaf. Namun, sayang, ibunya tidak percaya begitu saja. “Kembalikan semua roti-roti itu ke sana!” sergah wanita berusia 46 tahun tersebut. Ruby menggeleng. “Aku hanya mengambil beberapa. Lagi pula, kita tidak boleh membuang-buang makanan. Dari pada roti-roti itu masuk ke kotak sampah, lebih baik kumakan saja.” “Ini sudah jam sepuluh malam dan kamu masih mengemil roti sebanyak itu? Lihat dirimu! Kamu sudah seperti gorila raksasa yang akan menghancurkan bumi.” Ruby hanya melipat bibir sembari melihat perutnya yang agak menonjol ke depan meskipun sudah ditutupinya dengan kaus oblong yang berukuran besar. “Aku hanya ingin makan, kenapa Ibu melarangku? Apa Ibu tidak kasihan melihatku yang kelaparan ini?” “Kamu selalu merasa kelaparan setiap saat dan itu membuatku kesal sepanjang hari. Astaga, Ruby, kamu ini seorang gadis. Usiamu masih dua puluh dua tahun tapi berat badanmu seratus kilogram. Apa kamu tidak merasa malu?” Ruby hanya menggeleng dengan wajah tanpa dosanya. “Aku merasa baik-baik saja.” Merasa nasihatnya akan menjadi sia-sia seperti biasa, Sandra menarik paksa tangan anak gadisnya itu dan berusaha mengambil alih roti-roti yang berada di genggamannya. Keributan kecil pun terjadi. Ruby berontak dengan cara berputar dan berlari mengelilingi rak-rak yang berada di ruangan tersebut. “Kembalikan roti-roti itu! Dasar anak kurang ajar!” “Tidak! Jangan harap Ibu akan mendapatkannya!” “Heiiii!” Ruby berlari menaiki tangga dan bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dia bersandar di balik pintu dengan napas ngos-ngosan. Meski merasa lelah, tetapi ia senang karena roti-roti itu berhasil ia bawa ke dalam kamar dengan selamat. “Selalu saja seperti ini. Ibu selalu melarangku memakan kalian. Memangnya apa salahnya kalau aku gendut? Aku merasa sehat dan bahagia,” tuturnya di hadapan roti-roti tersebut. Sambil memakan roti abon sapi, Ruby membuka salah satu media sosial di ponselnya. Jarinya berhenti pada sebuah video yang berisi rekaman seorang gadis bersama seorang pria yang sedang berlutut di hadapannya dengan menyodorkan sebuah kotak cincin. Gadis itu bertubuh ramping bak boneka Barbie. Dia terlihat sempurna dengan semua yang dikenakannya. “Will you marry me?” ujar si pria dengan penuh harap. “Ouuuh, ya ampun, manis sekaliiii.” Ruby berkomentar dengan mulut penuh. Tahu-tahu, ia tertegun, memikirkan masa depannya. Perlahan, diliriknya snowball pengantin yang ada di depannya. Dengan penampilan seperti ini, apakah ada seseorang yang mau menikahiku? “Sebentar,” katanya, “Tuhan pasti sudah menyiapkan seseorang yang sangat spesial untuk menjadi teman hidupku. Aku yakin, jodoh tidak akan ke mana dan aku tidak akan jadi perawan tua." **** Ruby terbangun dari tidurnya ketika mendengar ada suara orang memanggil-manggil dari luar rumah. Terkantuk-kantuk, ia turun dan membuka jendela kamarnya. "Ruby, buka pintunya!" seru pria berkepala plontos di bawah sana seraya menunjuk ke depannya dengan tergesa. "Iya, Kakak. Tolong buka pintunya! Aku sudah kebelet!" seru pemuda yang sedang memegangi bagian bawah tubuhnya. Itu Bastian, adik laki-lakinya. Kembaran Kristal yang menyebalkan. "Iya, iya, sebentar!" Ruby lalu membuka pintu kamar dan menuruni tangga. Alangkah terkejutnya ia begitu melihat ibunya duduk di anak tangga dengan raut wajah yang mengerikan. Sepertinya ia sangat marah. "Mau ke mana?" Suaranya juga mengerikan. Seperti bisikan setan. "A-ayah dan Bastian ada di luar." "Biarkan saja. Ini akibatnya kalau mereka tidak mendengarkanku. Lihat jam berapa sekarang?" "Jam dua pagi," lirih Ruby ketika ia menengok jam dinding. Sandra mendengus. "Awas saja kalian!" Ia kemudian menabrak Ruby dan menaiki tangga. Ruby dengan was-was mengikuti ibunya yang masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian, wanita paruh baya itu keluar dengan membawa seember air. Ia berjalan menuju jendela sambil menggerutu. "Apa yang mau Ibu lakukan?" tanya Ruby, meskipun sebenarnya ia bisa mengira apa yang akan terjadi. "Memberikan mereka hukuman." Sandra menjawab ketus. Ia lantas melongokkan kepalanya ke luar jendela. "Oh, istriku yang cantik dan tidak pemarah. Tolong buka pintunya, Sayang!" ujar Ben sambil melambaikan tangannya. "Menjijikkan. Dasar penjilat," lirih Sandra kesal setengah mati. "Ibuuu, buka pintunya! Aku sudah tidak tahan lagiii! Aku akan buang air!" teriak Bastian. Ia tampak gelisah dikarenakan adanya dorongan kuat dari dalam perutnya. "Buang air saja di tong sampah itu!" seru Sandra. Bastian terenyak. "Apa Ibu pikir aku ini kucing liar yang suka buang air sembarangan? Tolonglah, Ibu, buka pintunya! Atau aku akan mengeluarkannya di sini!" Sandra menyeringai. Serta merta, ia menumpahkan air dalam ember sehingga mengenai keduanya. Baik Ben dan Bastian saling pandang selama beberapa detik, sebelum akhirnya sama-sama menoleh ke atas. "Ibuuuu!" "Rasakan! Itu akibatnya jika kalian tidak menepati janji! Selamat malaaam, byeeeee!" Pintu kayu itu pun tertutup. Bastian mengusap wajahnya yang basah lalu menoleh menatap ayahnya. "Ayah..." "Apa?" "Aku akan mengeluarkannya di sini." "Keluarkan saja. Kamu memang tidak punya pilihan." Bastian mendengus malas. "Apa di sini tidak ada saluran pembuangan air? Aku tidak bisa melakukannya dengan berdiri." "Ayah? Bastian! Ayo, cepat masuk!" Ruby tiba-tiba membuka pintu. Ia berbicara sangat pelan supaya ibunya tidak mendengarnya. Bastian lari terbirit-b***t masuk ke rumah diikuti sang ayah yang basah kuyup. "Ibumu benar-benar keterlaluan." Ruby terkikik geli melihatnya. "Tapi, Ayah tetap mencintainya, bukan?" "Tentu saja. Cinta kami sebesar cinta Romeo dan Juliet." Ruby tertawa kecil. Ia kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Hanya dengan mengulurkan tangannya, ia berhasil mendapatkan benda itu. Sebuah buku berjudul Romeo and Juliet. Buku itu ia taruh di atas nakas bersama beberapa buku lainnya. Buku yang menjadi gerbang untuknya memulai sebuah tulisan. Buku itu telah menginspirasinya sehingga ia dapat melahirkan karya-karya dari buah pikirannya. "Terima kasih, Kek," ujarnya, mengingat seseorang yang telah memberikannya buku tersebut. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN