Tampaknya kedua kakiku langsung menjejak abu dari Wicked Rose yang telah habis terbakar. Dadaku mendadak sesak. Bukan karena sedih atau prihatin, tetapi karena asap yang ada di sini masih cukup tebal. Seorang pengawal menyodorkan masker anti-Alpha kepadaku yang juga merangkap sebagai masker untuk menangkal semacam ini. Aku langsung membungkus hidung dan mulutku dengan benda tersebut.
Setelah bernapas beberapa helaan, aku melepaskannya kembali kemudian berteriak, “Di mana Akora?”
Seorang wanita yang memakai perlengkapan petugas kerajaan langsung berlari-lari kecil ke arahku. Dia membungkukkan tubuh selagi tangan kanannya membuat penghormatan ala Omega—kepalan tangan yang menghadap ke depan di dekat pelipisnya kemudian menarik tangannya tersebut ke samping selebar bahu. Dia adalah Penjaga Sesama, ksatria yang telah kutunjuk secara khusus untuk mengawasi kehidupan rakyat kami secara langsung. Penjaga Sesama adalah instrumen kerajaan yang paling dekat dengan kaum awam kami.
Fakta bahwa ini terjadi di bawah pengawasan Akora menandakan kalau mungkin aku harus mulai mencari kandidat lain untuk menggantikannya.
“Aku di sini, Ratu,” jawabnya setelah melakukan salam.
“Apa-apaan yang terjadi?” erangku ketus. “Bagaimana bisa mereka memiliki akses ke kebun ini?”
Wanita itu tergagap, “Aku sudah memastikan kalau kami sama sekali tidak melakukan kelalaian apa pun. Sesuai permintaanmu, Ratu, kami—”
“Akora,” selaku tegas, “kalau kalian tidak melakukan kelalaian, semua ini tidak akan terjadi.”
Ia menunduk dalam. “Maafkan aku, Ratu.”
Aku membuang napas lelah selagi memijat pelipisku. “Beritahu aku bagaimana kronologinya.”
Akore mengangguk dan memulai kisahnya, “Seperti yang tadi kubilang, kami sudah melakukan semua perintahmu. Kami membangun dinding-dinding tinggi di sekitar kebun dan kami pun menempatkan banyak penjaga di kedua gerbang yang ada—gerbang yang menjadi satu-satunya akses untuk masuk ke dalam.”
“Lalu? Apa ada orang asing yang berhasil masuk?”
Akora menggeleng samar. “Sama sekali tidak ada yang menyaksikan masuknya orang asing,” jawabnya. “Semuanya berjalan seperti biasa sampai ada yang berteriak kebakaran.”
Aku tercenung di sana. Bagaimana bisa ini terjadi? Tidak ada orang asing yang masuk, tetapi mendadak saja kebun kami dilalap si jago merah? Ini tidak masuk akal. Pasti ada detail yang kami lewatkan.
“Bagaimana api itu menyebar?” tanyaku segera. “Dari mana asalnya?”
“Berdasarkan kesaksian para penjaga kebun, apinya berasal dari tengah-tengah kebun,” jawab Akora.
Aku mengumpat kasar. “Itu berarti kualitas semua Wicked Rose telah tercemari asap,” lirihku.
Akora menyetujui. “Mungkin kalau terjadi di salah satu sudut, masih mungkin bagi kami untuk mengevakuasi sebagian tanaman. Namun, semuanya sudah tercemar ketika petugas kebakaran sampai.”
Awalnya aku pikir ini kesalahan teknik. Maksudku, kalau memang tidak ada yang keluar maupun masuk, menyalahkan Para Pemberontak agaknya tidak relevan. Akan tetapi, begitu mendengar penjelasan ini, dendam kesumatku semakin membara di dalam relung.
Berani-beraninya mereka menyentuh sesuatu yang menjadi milikku.
“Bagaimana api itu ditanamkan di sana…?” gumamku pada diriku sendiri.
“Yang menarik adalah, api tersebut tidak ditanamkan di sana,” ujar Akora yang tampaknya masih bisa mendengar gumamanku. “Api itu berasal dari sebuah bom yang berasal dari sesuatu yang jatuh dari langit.”
Aku termenung dengan kepala berputar-putar begitu mendengar penjelasannya. “Jatuh dari langit…?”
Akora mendesah resah. “Aku tahu ini sulit dipahami, tetapi berdasarkan kesaksikan beberapa warga yang kebetulan sedang berada di dataran tinggi saat ledakan terjadi, mereka mengklaim kalau ada sesuatu yang jatuh dari langit tepat ke tengah-tengah perkebunan.”
“Di mana benda itu?” tanyaku langsung. “Aku ingin melihatnya.
Wanita itu menganggukkan kepala kemudian menggiringku untuk menuju ke tengah-tengah kebun. Ada garis polisi berwarna merah yang sekarang mengitari sebuah titik yang katanya adalah menjadi sumber utama ledakan. Ada banyak penjaga yang sedang bersiap di sekitar situ. Juga terdapat beberapa orang berwenang yang tengah berjongkok dengan wajah serius, tetapi sarat dengan kebingungan. Begitu menyadari kedatanganku, mereka semua langsung melakukan salam formal. Kubalas mereka dengan anggukan kepala. Aku langsung masuk ke dalam arena yang telah dilingkari oleh garis polisi.
Seorang detektif bernama Flynn langsung menyapaku dengan salam yang sama. “Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk datang ke sini, Ratu.”
“Sudahi basa-basimu itu dan beritahu aku apa yang terjadi,” ujarku seketika. “Apa yang terjadi di sini?”
Akora yang ada di belakangku menjelaskan, “Kotak hitam ini adalah sumber ledakan yang tadi aku maksud.”
Yang dikonfirmasi oleh Flynn dengan anggukan singkat. “Di dalam kotak ini,”—ia menunjuk ke arah semacam kotak besi yang kini semua sisinya sudah penyok—“kami temukan bahan dasar peledak yang mengonfirmasi kalau ini adalah buatan kaum Alpha.”
Aku mendengus keras. Ini berarti mereka memang dengan sengaja mengumumkan keberadaan mereka. Kaum Alpha memang terkenal dengan berbagai persenjataan mereka yang berbahaya. Namun, setelah usainya peperangan beberapa dekade lalu, aku sama sekali tidak menyangka kalau aku akan kembali menyaksikan amunisi semacam ini. Yang nahasnya malah meledakkan salah satu kebunku yang paling berharga.
“Apa kesimpulan yang kau punya?” tanyaku. “Aku dengar ledakan ini ‘turun dari langit.’ ” Aku membuat tanpa kutip di udara. “Kau punya penjelasan untuk itu?”
Flynn menggeleng samar, wajahnya seakan menyiratkan kalau dia itu sejatinya juga tidak ingin mengakui kalau dia tidak bisa memahami apa yang terjadi. “Yang aku dengar dari beberapa penduduk, kotak ini diikat dengan semacam parasut yang kemudian mendarat tepat di tengah-tengah kebun. Aku bisa mengonfirmasi detail ini karena ini.” Dengan tangannya yang dibalut oleh sarung tangan lateks, Flynn memungut sesuatu yang tampaknya adalah kain yang sebagian hangus terbakar.
“Bagaimana benda ini bisa turun dari atas begitu saja…?” tanyaku kepada diriku sendiri.
“Mungkin Alpha dengan sengaja pergi ke perbukitan tinggi untuk menyerang kita dari udara,” celetuk Akora. “Namun, kalau begitu caranya, aku ragu mereka akan bisa menjatuhkan bom ini dengan sebegitu akuratnya.”
“Itu benar,” Flynn menyetujui. “Aku curiga kalau setelah bertahun-tahun tidak bersinggungan dengan mereka secara langsung, mereka akan kembali dengan penemuan-penemuan yang tidak kalah canggih dengan milik kita. Alpha adalah kaum yang sangat cerdas.”
Aku menatapnya tajam. “Apa tugasmu di sini, Flynn?” sergahku dingin. “Mengagumi mahakarya para makhluk barbar itu?”
Pria tersebut langsung menundukkan kepala selagi mengatakan, “Maaf.”
Aku tentu hendak menceramahinya panjang lebar. Kami tidak memerdekakan diri dari Alpha hanya untuk mengagumi makhluk tidak bermatabat itu. Nyatanya, kami berhasil mendapatkan apa yang kami punya sekarang—kerajaan yang makmur; hilangnya eksploitasi Omega; dan kesejahteraan antar warga—karena kami telah membuktikan kalau kamilah yang cerdas. Bukan sebaliknya.
Kendati demikian, belum sempat mulutku terbuka, seseorang telah memanggil namaku kencang-kencang dari belakang, “Ratu! Ratu Tauriel!”
Begitu aku menoleh, kusaksikan Zion, ketua Serdadu Penyergap—kelompok yang kubentuk untuk membekuk Alpha yang sering bersemayam di pegunungan—tengah berlarian ke arahku. Aku langsung keluar dari dalam lingkaran garis polisi dan menyambutnya. Dari ekspresi yang dia buat, aku tahu bahwa apa yang akan dia beritahukan adalah sebuah berita penting.
“Ada apa?” tanyaku.
Pria itu mengatur napasnya untuk beberapa detik selagi menyalamiku. Sederet kalimat tersebut langsung meluncur dari mulutnya, “Kami berhasil menangkap salah satu Alpha yang menjadi anggota Para Pemberontak.”
Rasanya aku ingin terbang ke angkasa.
*
Begitu mendengar kabar dari Zion kalau dia berhasil memenjarakan salah satu anggota kelompok barbar tersebut, kami semua langsung menempuh perjalanan menuju salah satu pusat penjara yang ada di Desa Vexerdom, masih termasuk ke dalam kerajaaan yang kupimpin, Taevaria. Ketika aku mendarat, mereka semua langsung menyeret salah seorang Alpha dari dalam bangunan.
Tubuh Alpha tersebut kini sudah terlilit oleh rantai yang melintang dari d**a hingga punggungnya. Membatasi pergerakan tangan yang bisa dia buat. Ia pun hanya dibalut oleh semacam kain di sekitar pinggul. Selebihnya dia bertelanjang diri. Para penjaga penjara langsung mendorong bahunya ke bawah, membuat kedua lutut Alpha tersebut menyentuh tanah secara paksa.
Ketika aku mendekatinya, Alpha tersebut sama sekali tidak terlihat takut. Dia malah mendongak untuk menantang tatapanku.
“Kau adalah ratu yang menjijikkan,” desisnya tepat di depan wajahku.
Aku tidak bergeming. Ini adalah reaksi lumrah dari setiap Alpha yang aku temui. Mereka berpikir kalau aku jauh dari kata layak untuk menjadi seorang ratu. Mereka berpikir kalau aku ini adalah wanita lemah yang hanya bisa bersembunyi di balik perlindungan para serdadu Omegaku yang terlatih. Ironisnya, mereka mengatakan ini semua karena para Alpha ini masih belum bisa menerima kalau mereka bukanlah lagi makhluk yang paling berkuasa di muka bumi.
Mereka membenciku karena mereka membenci diri mereka sendiri lantaran begitu mudah untuk kami takhlukkan.
Aku meraih pipi Alpha tersebut, yang jelas saja menolak sentuhanku dengan cara menghentakkan kepala ke belakang. Penjaga yang mengetahui hal ini langsung mencengkeram kepalanya kuat-kuat agar tetap menatapku lurus-lurus. Namun, aku menyuruhnya untuk melepaskannya. Penjaga tersebut menurut. Aku pun memutuskan untuk berlutut tepat di hadapannya.
“Selamat pagi,” ujarku dengan senyuman tipis.
Zion, yang memerhatikan kami dari jauh, sontak berseru lantang, “Ratu, jangan terlalu dekat dengannya!”
Penjaga yang lain pun berseru, “Dia itu barbar! Dia akan menyakitimu!”
Aku menegakkan tubuh dan berkata tegas, “Diam.”
Semua seru-seruan tersebut mendadak hilang ditelan angin. Hanya terdengar suara napas dari Alpha di depanku yang masih memburu tak keruan. Dadanya tersebut tampak kembang-kempis. Dapat kulihat kulitnya yang kecokelatan kini memar di balik rantai-rantai yang membelenggunya. Aku kembali berfokus ke wajahnya. Dengan tanganku yang berlapis sarung tangan berlogo Kerajaan Taevaria, kuraih salah satu pipinya. Untuk beberapa alasan kali ini dia tidak menolak. Senyumku pun kembali mengembang.
“Maaf karena telah memperlakukanmu dengan buruk,” ujarku. Dengan sapu tangan yang ada di dalam kantungku, aku menyeka darah yang menetes dari sudut bibir dan pelipisnya. Salah satu mata Alpha ini memar dan terlihat kebiruan. Pipi kirinya pun membengkak dan darah masih mengucur dari luka di lehernya.
Sayang sekali. Kalau dia tidak menjadi salah satu dari regu pemberontak itu, mungkin aku sudah akan memboyongnya ke ranjang. Pria ini terlihat begitu… cantik.
“Siapa namamu?” tanyaku sejurus kemudian.
Ia tidak bergeming. Senyumanku masih tidak lekang. Satu tanganku meraba lehernya dan mencengkeramnya di sana.
“Aku tadi bertanya,” bisikku tepat di samping telinganya, “siapa namamu?”
Dia langsung terbatuk kemudian dengan setengah mati menjawab, “Keith.”
Langsung kubebaskan lehernya tersebut lalu menepuk-nepuk pipinya yang memar. Ia mendesah kesakitan.
Aku bangkit berdiri dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Kepada Zion aku berbisik lirih, “Aku ingin membawanya pulang.”
Zion sontak terperangah.
*