"Karena dia mendapatkannya dengan mudah, maka dia juga dengan mudah melemparkannya kepadaku? Apa dia bilang? Dia bilang jika dirinya tidak mengharapkan tahta itu dan aku yang lebih berhak?" Meneguk minuman di tangannya, Arderl kemudian terkekeh pelan. "Omong kosong!" Dia melemparkan gelas emas yang ada di tangannya hingga menciptakan bunyi yang gaduh. Sedangkan Vell yang saat ini sedang bersama dengannya, hanya diam melihat sikap Tuannya yang tengah dikuasai amarah. "Apakah kau sudah melakukan apa yang aku minta?" tanya Arderl kemudian pada Vell. Vell maju satu langkah untuk dekat dengan Arderl, kemudian kepalanya mengangguk. "Sudah, Yang Mulia. Mereka berkata akan secepatnya memberikan balasan sesuai yang diminta oleh Yang Mulia." Arderl ikut mengangguk, kini sebelah kakinya terangk

