"Yang Mulia--" "Tolong, panggil saja aku Sidra, Paman. Saat ini aku sudah bukan lagi Putra Mahkota. Aku tidak nyaman mendengar Paman terus memanggilku seperti itu," potong Sidra. Loiz beradu pandang dengan Camilo yang hanya berdiam diri, acuh. Dia lalu mengangguk kaku. "Baik, jika itu yang Anda inginkan--ekhem-- saya akan memanggil Sidra seperti sebelumnya." Sidra mengulum senyum tipis, merasa lucu dengan sikap kikuk yang ditunjukkan oleh Loiz. Padahal dulu sebelum Sidra dibawa ke istana, Loiz tahu bahwa dirinya adalah seorang anak dari Kaisar. Namun Loiz masih bisa bersikap biasa saja dan memperlakukan Sidra seperti bukan siapa-siapa. Namun sekarang, pengawal setia Ayahnya itu justru tampak kesulitan bersikap santai padanya, bahkan hanya untuk merubah nama panggilan. "Saya hanya ingi

