NDS~7

1423 Kata
“Mi, kenapa nggak bilang kalau Anggi ketemu sama Aldi?” buru Rizal tanpa basa-basi ketika memasuki kamar. “Ssshh ...” Dina meletakkan telunjuknya di bibir. “Aldi baru tidur, jangan keras-keras ngomongnya.” Dina memang sengaja tidak memberi tahu, karena sudah waktunya Anggi mengetahui segalanya. Ia lelah jika harus menutupi perihal Aldi terus-terusan, karena putranya juga semakin tumbuh besar. Terlebih setelah Dina mendapat perlakuan kasar dari Nada. Kebetulan, siang tadi Dina bertemu Anggi di toko perhiasan. Untuk itulah, pertemuan itu ia manfaatkan untuk mengenalkan Aldi pada istri pertama Rizal. “Mi.” Rizal memelankan suaranya ketika menghampiri Aldi yang berada di tempat tidur mereka. Ia tersenyum sebentar, saat melihat jagoan kecilnya sudah tertidur lelap. “Aku sudah bilang, kan, nanti ada waktunya kita—” “Sudah terlanjur.” Dina mendudukkan Rizal di tepi ranjang, lalu duduk di pangkuan pria itu dan mengalungkan kedua tangannya. “Kami nggak sengaja ketemu, jadi sudah nggak bisa menghindar lagi. Mana Aldi manggil-manggil mami terus.” “Dan karena itu Anggi minta pisah.” “Ya bagus dong!” seru Dina tidak menyembunyikan rasa bahagianya. Akhirnya, sebentar lagi ia akan menjadi satu-satunya istri Rizal Pangestu. “Kamu tahu yang terjadi kalau aku bercerai dengan Anggi?” Rizal berdecak, karena memikirkan akibat yang akan diterimanya. “Ada harta gono gini yang harus dibagi. Fifty-fifty, dan ada pembagian juga untuk Nada. Begitu sepengetahuanku.” Dina mengerjap pelan. Melepaskan kedua tangannya dari leher Rizal, lalu menatap putranya yang terlelap. “Semuanya dibagi?” “Ya,” angguk Rizal. “Kami nggak punya perjanjian pisah harta, jadi, semua harta bersama saat menikah akan dianggap gono gini.” Dina masih menatap putranya. Ternyata, ini yang menjadi alasan Rizal tidak bisa atau tidak mau bercerai dari Anggi. Semua harta, rumah, dan yang lain-lainnya merupakan harta gono gini yang pasti akan dibagi jika mereka berpisah. “Bagaimana dengan rumah?” tanya Dina kembali teringat dengan rumah Rizal yang cukup besar. “Apa nantinya dijual?” Rizal menggeleng. “Aku sedang mencari cara agar kami nggak cerai.” “Nggak cerai?” Dina seketika bangkit dari pangkuan Rizal. Saat mengingat ada putranya yang terlelap, Dina lantas berbicara pelan. “Aku yakin hartamu masih banyak kalau nanti dibagi dua. Mas masih punya gaji tiap bulan, kan? Ada bonus tahunan juga dan—” “Nggak segampang itu, Mi,” putus Rizal yang juga bicara pelan. Banyak hal yang memang harus Rizal pertimbangkan, sehingga ia tidak bisa melepas Anggi begitu saja. “Itu semua harta yang aku kumpulkan selama 23 tahun menikah dengan Anggi. Kalau harus dibagi dua—” “Mas! Harta bisa dicari lagi,” ujar Dina kemudian berlutut di hadapan Rizal. “Tapi aku dan anakmu? Kami juga butuh ... jangan nomor duakan kami terus-terusan. Mbak Anggi sudah minta pisah, jadi kenapa nggak diturutin aja? Lagian dia juga sudah nggak bisa apa-apa, kan? Jadi, lepasin aja!” “Ini sudah malam,” ujar Rizal kemudian berdiri setelah menggeser tubuh Dina. “Kita bicara lagi, setelah aku bicara sama Anggi. Tidurlah.” “Mas.” “Aku bilang tidur, istirahat.” Rizal pergi menuju kamar mandi. “Aku mau mandi dan pembicaraan kita selesai.” ~~~~~~~~~~~~~ “Mbak Anggi.” Wirda spontan beranjak dari kursinya, saat melihat Anggi menghampiri menggunakan kursi roda. “Sejak kapan? Kok, aku nggak tahu?” “Sejak kecelakaan waktu itu,” ucap Anggi sudah terbiasa melihat keterkejutan rekan atau kawan lamanya ketika melihatnya memakai kursi roda. “Maaf, aku nggak tahu,” ujarnya sembari menunduk lalu memeluk Anggi dengan singkat. “Aku sempat ke rumah sakit, tapi waktu itu Mbak nggak bisa dijenguk karena masih di ICU. Habis itu, aku nggak pernah lagi dengar kabarmu, Mbak.” “Nggak papa,” ujar Anggi seraya tersenyum. “Betah, ya, kamu kerja di sini. Dari magang, loh! Sampai ...” “Sampai tua,” Wirda tertawa sembari menegakkan tubuh kembali dan tersenyum melihat gadis yang berdiri di belakang Anggi. Anggi pun ikut terkekeh. “Oia, ini Nada. Anakku satu-satunya.” Nada segera mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri dengan sopan. “Oia, Mbak, maaf,” ucap Wirda sambil kembali ke kursinya. “Mas Sastra ada tamu dadakan barusan. Klien besar, jadi nggak bisa nolak.” “Apa pertemuannya diundur?” “Cuma undur waktu, bukan hari,” ucap Wirda. “Mbak Anggi mau nunggu atau reschedule?” “Nunggu aja,” jawab Anggi yang memiliki banyak waktu luang jika hanya sekadar menunggu. “Nggak papa.” “Kalau begitu, silakan nunggu di ruangan mas Sastra.” Wirda bergeser beberapa langkah, lalu mempersilakan Anggi dan putrinya menunggu di dalam ruangan. “Bu Widaaa!” Teriakan dua anak kecil yang berlari ke arahnya membuat Wirda menepuk dahi. Namun, ia tidak bisa mengeluh karena kedua bocah itu adalah cucu dari pemilik Firma. “Halooo ...” Wirda segera berdiri tepat di tengah pintu dan merentangkan kedua tangan. “Nggak boleh masuk, ada tamu,” ucapnya lalu menunjuk ruangan yang berseberangan dengannya. “Kalian main di ruangan opa aja, oke?” “Ompa di dalam?” tanya gadis kecil yang rambutnya acak-acakan dan mamakai seragam merah putih yang sudah awut-awutan. “Ompa masih di ruang meeting,” jawab Wirda lalu mengangguk kecil pada Adrian. “Siang, Pak. Anak-anak pulang cepat, ya?” “Si Kakak drama habis imunisasi,” ujar Adrian lalu menunjuk ruangan putranya yang terbuka. “Ada orang?” “Mbak Anggi, mantan sekretaris Bapak dulu,” terang Wirda sambil menghalangi bocah berseragam TK yang hendak masuk ke ruangan. “Anggi Anastasia. Bapak masih ingat? Tadinya mau konsultasi sama Bapak, tapi—” “Ingat!” sela Adrian lalu menunjuk Wirda, memberi isyarat agar wanita itu bergeser. Setelah itu, barulah ia masuk dan terpaku melihat mantan sekretarisnya duduk di kursi roda. “Anggi?” “Pak Adrian!” Anggi dengan segera menjalankan kursi rodanya ke arah Adrian. Menyalami dan menyapa sopan. “Saya Anggi! Bapak masih ingat?” “Anggi, kamu ...” ucapan Adrian menggantung tetapi tangannya menunjuk kursi roda yang dipakai Anggi tersenyum dan bercerita singkat tentang kejadian yang menimpanya. Setelah itu, ia segera memperkenalkan putrinya pada pria tua itu. “Waaah! Kursinya jalan sendiri!” celetuk bocah laki-laki yang tanpa sungkan menghampiri menghampiri Anggi dan langsung duduk di pangkuan. “Cairo! Turun,” titah Adrian tegas. “Pergi keluar sama Kak Milan dan datangi bu Wirda. Opa ada tamu.” “Nggak mau!” tolak Cairo bersedekap. “Nad, bisa tolong bawa cucunya pak Adrian keluar?” pinta Anggi karena perlu bicara serius dengan pria itu, untuk mencari pendapat lain. “Mama perlu bicara sama pak Adrian.” Nada menggaruk kepala. Ia tidak pernah dekat atau “mengasuh” anak sebelumnya. Namun, ia juga tidak bisa mengelak perintah mamanya. “Ikut Kakak keluar ayok!” ajak Nada. “Kita ke minimarket mau? Beli jajan!” “Mauuu!” Milan lebih dulu meraih tangan Nada dan menariknya keluar dengan semangat. “Cairo tinggalin aja!” “Aku ikut!” Cairo langsung turun dari pangkuan Anggi dan berlari menyusul kakak perempuannya. Ia segera meraih tangan Nada yang satunya lalu berjalan bersama-sama menuju lift. “Kak! Aku mau beli cokelat!” celetuk Milan menarik Nada dengan semangat. “Tapi kita makan di bawah aja, biar nggak dimarahin opa!” “Aku mau memen!” pinta Cairo yang berjalan sambil melompat-lompat. “Apa itu memen?” Nada mulai pusing, karena dua bocah yang dibawanya ternyata banyak maunya. “Permen, Kak!” sahut Milan membenarkan ucapan adiknya yang berusia lima tahun. “Okelah!” jawab Nada tidak bisa menolak. “Kita beli cokelat, kita beli permen Nanti kita makan di minimarket aja. Nggak usah balik ke kantor biar nggak ketahuan siapa-siapa.” “Apa maksudnya nggak usah balik ke kantor biar nggak ketahuan siapa-siapa!” “Ompa! Ak—” “Sudah Om bilang, jangan pernah pergi sama orang asing!” Sastra, yang hanya mendengar sepenggal kalimat Nada sontak menarik kedua keponakannya. “Jane, bawa Milan sama Cairo ke ruangan saya. Dan panggil security!” “Iya, Mas!” Dengan sigap, Jane mengambil alih kedua bocah yang langsung bicara saling bersahutan itu dan pergi menjauh. "Dengar!" Sastra menghabiskan jarak dalam sekejap, tangannya langsung mencengkeram lengan gadis yang menurutnya mencurigakan. "Kamu—" "Sakit, taaau!" Nada meringis, wajahnya sedikit berkerut menahan nyeri. Tidak terima diperlakukan kasar, dalam hitungan detik kaki Nada mengayun keras, menendang tepat ke bagian inti tubuh Sastra. “Kamu ...” Napas Sastra tercekat. Ia spontan membungkuk menahan nyeri yang menjalar cepat di sekujur tubuhnya. Nada tersenyum miring penuh kemenangan. “Itu, baru pemanasan! Jangan coba—” “Astaga, Mas Sastraaa .…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN