NDS~2

1058 Kata
“Ini baru yang namanya liar!” Nada mencengkeram rambut Dina, menariknya ke belakang dengan gerakan kasar hingga wanita itu terhuyung, nyaris kehilangan keseimbangan. "LEPASIN!" Dina meronta panik, merintih kesakitan. Tangannya menggapai udara, mencoba mencakar lengan Nada, tetapi gadis itu terlalu gesit. Nada terus menarik dan memutar kepala Dina ke berbagai arah, membuat wanita itu terhuyung tidak menentu dan hampir terjatuh. Dina tidak bisa menggapai tubuh Nada, karena gadis itu berada di belakangnya. Ketika ia hendak berputar, Nada dengan gesit tetap memposisikan tubuh di belakangnya. "Lo pikir lo siapa!" Nada berteriak. Ia tidak mau peduli dengan banyak mata yang melihat dan merekam tindakan brutalnya. Baginya, semakin banyak yang merekam justru semakin bagus. Jika mau rusak, maka Nada akan merusak semuanya sekalian. Berikut dengan image papanya yang berprofesi sebagai karyawan penting di salah satu perusahaan negara. “Mas,” rintih Dina putus asa. “Nada! Cukup!” Rizal akhirnya membuka mulut, suaranya menggelegar. Namun, putrinya seolah tuli, tangannya semakin mengerat pada rambut Dina, menariknya ke belakang hingga wanita itu menjerit kepedihan. Sejak tadi, Rizal mencari celah untuk memisahkan keduanya, tetapi Nada bergerak terlalu cepat, terlalu beringas. Amarahnya seolah sudah melampaui batas. Jika Rizal memisahkan mereka dengan cara yang salah, Dinalah yang akan terluka. Sudah bisa dipastikan, rambut Dina akan rontok dan kulit kepalanya akan terluka jika Rizal tidak memisahkan di waktu yang tepat. “Mbak, Mbak, sudah, Mbak,” ucap salah satu karyawan restoran yang mencoba menenangkan dan juga mencari cara untuk melerai dua perempuan itu. “Kasihan, Mbak.” Alih-alih berhenti, cengkraman Nada di rambut Dina justru semakin erat. Ia mendorong kepala Dina ke depan, lalu menariknya lagi ke belakang dengan kasar. “NADA! BERHENTI!” Rizal akhirnya menarik Nada dengan paksa, melepaskan cengkeramannya dari rambut Dina sebelum sesuatu yang lebih parah terjadi. Benar saja, Rizal melihat segumpal helaian rambut sudah berada di tangan putrinya dan Nada membuangnya dengan tatapan jijik. Sementara itu, Dina gemetar sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan. Ia bisa merasakan ada bagian kulit kepalanya yang perih dan terasa kosong. “Rambutku ...” rintihnya histeris lalu menunjuk Nada. Namun, gadis itu bertolak pinggang dengan tatapan sangar, membuat nyali Dina ciut seketika dan menurunkan tangannya. “Aku pasti laporkan semua ini! Tunggu aja!” “Silakan!” tantang Nada pongah. “Gue nggak takut sama perempuan murah kayak lo! Dengar itu! MU-RAH!” “NADA!” Tangan Rizal sudah kembali melayang di udara. Namun, Nada yang menyadari hal tersebut segera menjauh dan menjaga jarak. “Sekali lagi gue lihat lo sama Papa—” “Diam!” bentak Rizal pada Nada yang menunjuk Dina. “Sekali lagi kamu bicara, uang bulanan dan biaya kuliahmu Papa stop!” Tanpa ingin bicara lagi dan memperpanjang masalah, Rizal menarik tangan Dina, menggiringnya keluar dari restoran. Dina menoleh sekilas, sorot matanya penuh ketakutan dan kemenangan sekaligus. Ia tahu bahwa dirinya adalah pemenang dalam pertengkaran ini karena Rizal memilihnya, bukan putrinya sendiri. Sementara itu, Nada berdiri terpaku, dadanya terasa sesak. Tangannya bergetar hebat, dan akhirnya, air mata yang sejak tadi ia tahan jatuh satu per satu. Nada kalah. Bukan karena dia yang salah. Tetapi karena orang yang seharusnya berada di pihaknya justru memilih ... meninggalkannya. ~~~~~~~~~~~~~ “Biiik!” Suara Rizal menggelegar saat memanggil asisten rumah tangganya dari ruang tengah. Tidak butuh waktu lama, seorang wanita paruh baya muncul tergesa dari dapur. Wajahnya dipenuhi kecemasan saat ia melihat ekspresi tuannya yang tampak lebih suram dari biasanya. “Nada sudah pulang?” Rizal bertanya tanpa basa-basi, matanya menatap ke arah tangga, lalu menyipit ke lantai dua. “Su-sudah, Pak,” jawab wanita itu dengan sedikit tergagap. Rizal menarik napas dalam, mencoba menekan amarah yang masih membara di dadanya. “Panggil Nada dan bawa ibu ke sini. Sekarang.” Wanita itu mengangguk lalu berbalik, berjalan cepat menuju lantai dua. Sementara itu, Rizal menghempaskan tubuhnya ke sofa tunggal dengan kasar. Kedua telapak tangannya mengusap wajahnya yang penat, sementara pikirannya terus berputar tentang kejadian tadi. Nada sudah kelewatan. Dan sebagai seorang ayah, ia harus memastikan putrinya memahami konsekuensi dari setiap perbuatannya. Tidak peduli seberapa kuat putrinya itu akan melawan dan seberapa dalam luka yang mungkin tercipta di antara mereka. Sebab, malam ini ... segalanya akan berubah. “Mbak Nada sebentar lagi turun, Pak,” ucap Nining, asisten rumah tangga yang baru saja turun tangga. “Saya ke kamar ibu dulu, permisi.” Rizal tidak menjawab atau mengangguk. Ia hanya melihat Nining menghilang, lalu beralih pada ujung tangga lantai dua. Karena belum ada tanda-tanda kemunculan Nada, ia pun menyandarkan kepala lalu memejam. Mengistirahatkan pikirannya barang sejenak. “Ada apa, Pa?” tanya Anggi lalu mengangguk pada Nining. Memberi isyarat, wanita itu sudah bisa meninggalkannya di ruang tengah. Rizal membuka mata, mengembuskan napas perlahan saat pandangannya jatuh pada sosok Anggi yang duduk di kursi roda. Sejak kecelakaan dua tahun lalu, banyak hal yang berubah dalam hidup mereka, terutama bagi istrinya. Tulang belakangnya mengalami cedera serius, merenggut kemampuan Anggi untuk berjalan. “Kita tunggu Nada sebentar.” Saat pandangan Rizal mengarah ke lantai dua, sosok putrinya tampak di sana. Tanpa ekspresi, Nada menuruni tangga dan menatap datar ke arahnya. “Itu dia.” “Papa serius mau bicarain ini di depan Mama?” Nada tertawa hambar sambil melangkah tergesa menuruni tangga. “Jadi, begini akhirnya?” “Ada apa ini, Nad?” tanya Anggi melihat ke arah Nada dan Rizal bergantian. “Papa yang cerita atau aku?” tanya Nada dengan berani. Di saat Nada tahu papanya lebih membela wanita asing di restoran, di saat itu juga rasa hormatnya hilang pada Rizal. Ia terus berjalan melewati Anggi dari belakang, lalu duduk pada sofa tunggal yang berseberangan dengan Rizal. “Apa yang mau diceritakan?” tanya Anggi semakin penasaran karena belum mendapatkan jawaban. “Nada ...” Rizal menghela panjang, sebelum berujar, “ribut sama Dina di restoran siang tadi.” Nada sontak menegakkan tubuh. Menatap tanya dengan dahi berkerut. Jelas ia terkejut karena mamanya ternyata tahu perihal Dina. “Mama tahu Dina?” tanya Nada tegas. Anggi menahan napas saat melihat tatapan intimidasi Nada. Namun, matanya menyipit ketika melihat pipi kiri putrinya yang memerah. “Kenapa pipimu, Nad?” tanya Anggi mengarahkan kursi rodanya mendekat. Saat tangannya ingin menyentuh wajah Nada, putrinya menjauhkan wajah. “Mama kenal Dina?” tanya Nada lebih tegas lagi dengan suara yang semakin lantang. Napas Anggi terbuang besar. Ia menatap Rizal sesaat lalu kembali pada Nada dan mengangguk pelan. “Dina itu ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN