NDS~4

1000 Kata
“Nada ...” Anggi mendorong tuas kursi rodanya mendekati Nada yang masih berdiri tegak di tempatnya. Wajah Nada sudah basah dengan air mata dan sesenggukan menahan tangis. “Mama minta maaf karena sudah merahasiakan semua ini sama kamu,” ucapnya sambil meraih dan menggenggam tangan putrinya. Nada menatap mamanya tanpa bisa berkata-kata. Entah harus menyalahkan siapa, karena kedua orang tuanya ternyata punya andil dalam kejadian ini. “Tapi kamu harus paham dengan kondisi Mama,” lanjut Anggi menunduk, menatap kedua kakinya yang tidak lagi berguna. “Dan papamu ... dia punya kebutuhan yang nggak bisa Mama beri.” Air mata Nada kembali menitik, tetapi ia segera mengusapnya kasar. Sebenarnya, Nada belum terlalu dewasa untuk memikirkan masalah yang terjadi di dalam rumah tangga orang tuanya. Namun, setidaknya Nada bisa mengerti dengan kebutuhan yang dimaksud oleh Anggi. “Jadi, Mama kenal dengan Dina?” tanya Nada menarik tangannya dari genggaman mamanya. Anggi mengangguk pelan. Ada rasa kecewa ketika Nada melepas tangannya dan memilih menjauh. “Dina itu, dulunya kerja di perusahaan konsultan yang sering kerja sama dengan perusahaan papamu. Mereka kenal dari sana.” Nada menarik napas panjang, berusaha melegakan sesak di dadanya, tetapi rasanya sia-sia. Rasa sesak itu masih saja menetap dan seolah menghimpit paru-parunya. “Jadi, aku harus minta maaf dengan si Dina itu?” desis Nada mengepalkan kedua tangannya ketika mengingat tamparan wanita itu. Anggi tidak bisa menjawab. Di satu sisi, sikap Nada memang salah. Namun, semua kesalahan Nada berakar dari Anggi dan Rizal. Lantas, di sisi lain Anggi juga tidak bisa terima dengan sikap Dina dan Rizal yang sudah menampar Nada. “Aku mau ke kamar,” ucap Nada ketika tidak mendapatkan jawaban dari mamanya. “Dan perlu Mama tahu, kalau aku nggak mau minta maaf sama perempuan itu. Nggak, akan, pernah!” ~~~~~~~~~~~~~~ “Dipanggil ibu ke kamar, Mbak,” ujar Nining setelah Nada membuka pintu kamar. “Tapi, Mbak Nada di minta ganti baju, karena mau jalan katanya.” Nada mengangguk. “Papa belum pulang juga, Bik?” Nining menggeleng. “Sama sekali?” tanya Nada lagi. “Sama sekali, Mbak,” terang Nining. “Terakhir waktu malam minggu itu. Yang Bapak marah-marah.” Nada menarik napas panjang dan kembali mengangguk. “Makasih.” Setelah Nining berbalik pergi, Nada segera melakukan perintah mamanya. Ia mengganti pakaian, lalu pergi ke kamar Anggi yang berada di lantai bawah. Sejak malam itu, hubungan Nada dan mamanya merenggang. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di kamar dan enggan pergi ke bawah. Bahkan, ia meminta makanannya di antara ke kamar karena Nada masih ingin sendiri, untuk memikirkan hidupnya ke depan jika tidak meneruskan kuliah. “Kita mau pergi ke mana?” tanya Nada setelah Anggi membukakan pintu kamar untuknya. “Tutup pintunya dan kunci,” titah Anggi lalu menjalankan kursi rodanya menuju lemari pakaian. Meskipun bingung, tetapi Nada tetap menuruti perintah mamanya. Ia mengunci pintu lalu duduk di sudut ranjang. Melihat mamanya mengambil beberapa barang dari dalam sana. “Kita mau ke mana?” tanya Nada penasaran. “Ke toko perhiasan,” ucap Anggi sambil memundurkan kursi rodanya lalu berbalik, menghampiri Nada dengan sebuah kotak kayu di pangkuan. “Buka dan pindahkan semua isinya ke tas mama,” pintanya sambil menunjuk sebuah tas yang berada di nakas. “Ini ... kotak perhiasan Mama, kan?” tanya Nada mulai bisa memikirkan sesuatu. “Dan kita mau ke toko perhiasan? Mama mau jual?” “Iya.” Anggi menggangguk. “Mama sudah nggak butuh semua perhiasan itu, jadi, lebih baik dijual aja. Nanti, kita juga mampir ke pegadaian untuk nyairin semua logam mulia Mama.” “Kenapa dijual?” “Simpan uangnya untuk kuliahmu,” ujar Anggi meraih kedua tangan Nada dan menyatukannya. “Janji sama Mama, jangan sampai putus kuliah.” “Ma—” “Nggak usah bilang apa-apa ke papa,” putus Anggi. “Ini semua demi masa depan kamu, jadi jangan dibantah dan jangan menolak. Mengerti?” “Tapi, Ma? Ini semua simpanan Mama.” Nada jadi tidak tega dengan Anggi jika seperti ini. Mamanya sampai rela menjual semuanya untuk membiayai kuliah dan memastikan masa depan Nada tidak terpuruk. “Mama sudah nggak butuh itu semua,” jawab Anggi semakin mengeratkan genggamannya. “Ah! Mama lupa, habis ini ambil buku tabunganmu sekalian. Karena setelah semua uangnya cair, kita langsung masukkan ke rekeningmu dan sebagian taruh di deposito.” “Mama—” “Sudah, Nad.” Anggi menggeleng. Kali ini, Anggi sudah memutuskan untuk berada di pihak Nada. Terlebih ketika Rizal tidak kunjung membalas pesan ataupun mengangkat panggilannya sejak kemarin. Padahal, ada yang harus mereka selesaikan, tetapi suaminya justru tidak pulang ke rumah sama sekali. “Sekarang masukkan semua perhiasan Mama, sama surat-suratnya sekalian. Oia, kita pergi bertiga dengan bik Nining dan kamu yang nyetir, supaya pak Samuel nggak laporan sama papamu.” “Pak Samuel pasti laporan ke papa kalau kita pergi keluar.” “Dia cuma laporan, tapi nggak tahu kita pergi ke mana,” ujar Anggi yakin. “Tapi, nggak usah pikirkan itu semua. Urusan papamu, serahkan ke Mama.” “Mama...” Nada meletakkan kotak perhiasan Anggi di sampingnya. Perlahan, ia merosot, berlutut di hadapan mamanya, lalu memeluknya erat. “Maafin aku,” bisiknya lirih, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. Air matanya kembali jatuh, mengalir tanpa bisa dihentikan. Nada menangis, bukan hanya karena masalah yang menimpa keluarga, tetapi juga karena semua pengorbanan mamanya yang selama ini tidak pernah ia sadari. "Kita nggak usah pergi ke mana-mana.” Nada menarik napas, mencoba menguatkan dirinya. “Biar aku temui Dina dan minta maaf sama dia.” “Jangan!” sergah Anggi. Matanya mulai mengembun, menahan sesak karena beban yang selama ini telah ia pikul seorang diri. Istri mana yang bisa tahan jika suaminya memiliki wanita lain di luar sana? Meskipun memberi izin, tetapi tetap saja Anggi merasa sakit sendiri. Namun, Anggi juga tidak bisa melakukan apa-apa karena kondisinya. “Jangan temui dia dan minta maaf. Selama papamu nggak bisa bersikap adil, kamu nggak perlu merendahkan diri di hadapan Dina. Ingat omongan Mama ini ... baik-baik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN