Jovan baru saja sampai di apartementnya. Ia menyalakan lampu dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Jovan kembali teringat beberapa saat lalu saat dirinya dan Jessica membuat sebuah taruhan. Dan tadi pihak sponsor bilang sudah membuat agenda untuk mereka. Dalam waktu tiga bulan ke depan mereka akan menikah. Bulan depan mereka akan melakukan beberapa rangkaian seperti pertunangan dan rangkaian pra nikah. Sejenak Jovan berpikir, andai saja Jessica tidak mengkhianatinya, mungkin pernikahan ini adalah pernikahan yang menjadi dambaan bagi dirinya. Pernikahan yang akan sangat membahagiakannya. Sayangnya itu hanya angan yang sudah tersiram air panas hingga hancur dan tak bersisa. Kebahagiaan yang berubah menjadi rasa benci juga kesal. Setiap kali Jovan memikirkan itu, dadanya terasa terbakar dan i

