BAB 3 GANTENG-GANTENG OMPONG

1363 Kata
BAB 3 GANTENG-GANTENG OMPONGSetelah beberapa menit berlalu, Aruni berjalan mengendap-ngendap ke arah pintu dan membukanya perlahan. Kepalanya celingak-celinguk untuk memastikan Kaisar benar-benar sudah pergi. Kini, gadis itu bebas melakukan apapun seorang diri di rumah. “Yes … yes!” ucapnya sambil menarik kepalan tangan. Aruni segera melepaskan kerudung. Dia membuka koper yang berisi pakaian dan perlengkapan pribadi yang tidak terlalu banyak. Semua benda itu dipindahkan ke dalam lemari kecil yang sudah disediakan khusus untuknya. “Harusnya lemari ini buat baju Kak Una! Dasar kakak yang egois!” gerutunya. Sebuah bingkai foto keluarga tidak lupa dibawa. Rasa rindu pada sang ayah mulai terasa. Padahal, baru beberapa jam saja berpisah. Semua ini terjadi begitu cepat dan di luar dugaan. Satu-satunya hal yang Aruni syukuri atas kejadian ini adalah dia bisa terpisah dengan Desi. Meskipun sebelumnya sudah tinggal bersama selama bertahun-tahun, dia tidak pernah merasa cocok dengan ibu sambungnya. Hari mulai gelap. Setelah selesai mandi, gadis berusia 21 tahun itu mulai kelaparan. Dia membuka kulkas, tetapi yang ada hanyalah s**u dan sisa-sisa makanan ringan. Kemudian, beralih ke lemari makanan. Matanya terbelalak melihat koleksi aneka jenis pasta yang tersimpan dengan rapi. Namun, bahan-bahan lain yang dibutuhkannya tidak tersedia. “Aigoo, masa gue harus makan spageti digaremin doang sih!” keluh Aruni sambil menghentakkan kaki. Niatnya ingin membuat aglio e olio yang sederhana saja pupuslah sudah. Tanpa membuang banyak waktu, Aruni membuka aplikasi ojeg untuk memesan makanan. Sementara menunggu pesanannya tiba, dia terpaksa menghabiskan sisa snack yang ditemukan di kulkas. Televisi pun dinyalakan agar tidak merasa kesepian. Yang terpenting baginya malam ini bisa selamat dari serangan malam pertama dengan Kaisar. *** Sekitar pukul 23.00, Kaisar baru tiba di rumah. Dia heran ketika melihat lampu-lampu di bagian dalam masih menyala. Saat masuk, pandangannya langsung tertuju pada Aruni yang sedang tertidur di sofa. Cukup lama Kaisar berdiri sambil memandangi wajah Aruni. Hatinya terenyuh melihat gadis yang dinikahinya tadi pagi ternyata menunggu di ruang tamu sampai ketiduran. Apalagi ketika membayangkan sang istri yang kelaparan karena dia baru ingat kalau kulkasnya kosong. Lelaki berjaket hitam itu berjalan ke arah meja minibar untuk mengambil minum. Langkahnya terhenti saat melihat pemandangan yang membuat kedua matanya mendelik. Meja itu penuh dengan sampah bungkus snack dan kemasan paket makanan ala Jepang yang belum sempat dibuang oleh Aruni. Ditambah lagi dengan remahan yang berserakan di lantai. Kaisar menengok kembali ke belakang dan mencibir. Rasa haru yang sempat mengisi hatinya tadi langsung lenyap seketika dan berganti dengan kekesalan. “Dasar bocah!” gerutunya dalam hati. Selama ini, Kaisar sudah hidup nyaman di rumah yang selalu bersih dan tertata rapi. Tidak boleh ada yang berantakan dan kotor. Bahkan debu pun tidak dizinkan menempel lebih dari dua hari. Meski sudah hampir tengah malam, lelaki itu terpaksa membersihkan meja, menyapu, dan mengepel lantai. Bila tidak dilakukan segera, sudah dipastikan dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Tidak peduli dengan tubuh yang lelah setelah seharian beraktivitas, baginya kebersihan rumah adalah hal yang utama. Subuh menjelang. Kaisar sudah lebih dulu bangun karena mendengar alarm yang berbunyi dari ponsel Aruni. Dilihatnya gadis itu masih meringkuk di sofa dengan mulut yang sedikit terbuka. Beberapa kali dia berusaha membangunkan, tetapi Aruni masih saja tertidur pulas. Sebuah ide jahat terlintas dalam otak. Kaisar beranjak ke dapur untuk mengambil botol dan mengisinya dengan air. Kemudian, dia menyemprotkan air itu ke wajah sang istri. Aruni terperanjat. Dia buru-buru mengelap wajah dengan panik hingga terjatuh dari sofa. “Aduh, sakit!” rintih gadis itu sambil mengelus lengan yang mendarat lebih dulu. Lalu, berpindah mengusap b****g. Kaisar berusaha menahan tawa dan memasang muka datar karena masih merasa kesal. “Ya ampun, begini amat sih nasib gue! Udah ditinggalin, gak ada makanan, tidur di ruang tamu semaleman sampai jatuh lagi! Sakit tahu!” keluhnya. Bulir bening yang susah payah dia tahan sejak kemarin akhirnya luruh. “Pak Kai jahat! Mentang-mentang saya cuma pengganti Aruna!” Dia terus merajuk. Tangisnya semakin menjadi. Kaisar tidak menduga bila reaksi Aruni akan seperti itu. Dia segera menyembunyikan botol semprotan ke belakang punggung dan memasang wajah tak berdosa. Kembali bersikap ketus seolah tidak terjadi apa-apa. “Ini udah hampir setengah enam. Gak usah drama, cepat mandi sana!” suruhnya agar gadis itu berhenti menangis. Pandangannya terus mengikuti pergerakan Aruni dari mulai beranjak hingga masuk ke kamar mandi. Muncul rasa bersalah ketika melihat wajah istrinya menjadi sendu. Padahal, Kaisar tahu bahwa selama ini dia selalu tampak ceria ketika bertemu di katering, meskipun jarang sekali berinteraksi. Sebagai tebusan atas perlakuan jahatnya itu, Kaisar memutuskan untuk membuatkan sarapan. Dia mulai menyiapkan alat dan bahan untuk membuat menu pasta terfavorit. Itu sudah menjadi rutinitasnya karena tidak terlalu suka menyantap nasi di pagi hari. Untungnya dia sempat membeli stok bahan makanan tadi malam. Dalam waktu singkat, dua piring spaghetti bolognaise sudah tersaji di meja minibar. Saat kembali ke lantai bawah, Aruni masih tampak menekuk wajah. Dia sudah memakai jascook hitam yang dipadukan dengan celana bahan seperti biasa bila akan pergi ke katering. Tidak ada hari libur setelah pernikahan apalagi honeymoon. Indra penciumannya menghirup aroma yang mengundang gadis itu untuk menghampiri Kaisar di dapur. “Loh, kok, udah ada makanan! Ini buat saya, Pak?” tanyanya dengan mata berbinar. Produksi air liur dalam mulutnya langsung meningkat. Kaisar tidak memberikan jawaban. Dia hanya melirik sebentar, lalu kembali menggulung spageti dan memasukkannya ke mulut. Melihat tingkah suaminya seperti itu, Aruni malah semakin penasaran. Dia ingin memastikan hal yang selama ini menjadi hipotesisnya. Sebuah alasan kenapa Kaisar begitu dingin dan irit bicara. “Pak Kai, coba saya mau lihat giginya! Kayak gini, iii …,” pinta gadis bermata sipit itu sambil memperagakannya. Kaisar menatap penuh tanya. Dia menutup mulut dengan tangan kiri, khawatir ada sesuatu yang aneh. Tidak mungkin bila ada daging yang menyangkut di gigi atau bahkan sisa kulit cabai yang menempel. “Cuma disuruh nyengir doang, kok! Saking gak pernah senyum jadinya kaku ya?” Aruni menepuk lengan suaminya cukup kencang karena begitu gemas. Beberapa detik berlalu, Kaisar masih enggan mengikuti permintaan Aruni. Dia kembali menyantap pastanya. “Aigoo ... jangan-jangan Pak Kai GGO!” “Hah, apaan GGO?!” Kaisar semakin tidak mengerti, apalagi ketika melihat Aruni menutup wajah dengan kedua tangan. Muncul kecurigaan kalau gadis itu pasti sedang membayangkan hal yang tidak-tidak. “Ganteng-Ganteng Ompong!” Lelaki berkaos abu-abu itu menepuk dahinya dan menggelengkan kepala. Entah harus bagaimana menanggapi tingkah laku bocah di sampingnya itu. Dia meneguk air putih sebagai pengalihan untuk meredakan kekesalannya. “Sekarang habiskan sarapanmu, lalu cuci semua piring dan gelas yang kotor!” perintah Kaisar sambil mengarahkan pandangannya pada sink. Aruni mematung dan menelan ludah dengan kasar. Mencuci perabotan dapur adalah pekerjaan rumah tangga yang paling dia hindari. Bila tahu akan seperti ini jadinya, gadis itu akan memilih sarapan nasi uduk di seberang katering saja setiap pagi. “Dan jangan panggil saya ‘Pak Kai’ lagi saat kita di rumah!” ujar suaminya dengan wajah yang tidak ramah. Aruni hanya mengangguk. Raut wajahnya berubah. Dia memaksakan diri untuk segera melahap spageti hingga habis. Bukan karena rasa yang tidak enak, melainkan ada kekhawatiran yang menyerang hatinya. Setelah selesai sarapan, Kaisar beranjak meninggalkan gadis itu. Dia meletakkan piring pada sink dan mengumpulkan perabotan kotor lainnya yang harus dicuci. “Itu wajan sultan yang mahal, jadi kamu harus hati-hati. Jangan sampai ada goresan dan pastikan semuanya bersih!” serunya sambil berlalu. “Baik, Tuan Kaisar,” sahut Aruni tanpa berani menatap. Diam-diam, lelaki itu mengulum senyum dan duduk di sofa sambil memainkan ponsel. Sesekali ekor matanya melirik ke arah Aruni yang sudah mulai mencuci perabot. “Tahu gini, mending kemarin gue kabur juga! Berani-beraninya dia nyuruh gue nyuci piring. Bebas dari Bu Desi, malah masuk ke kandang Manusia Es Balok!” gerutu Aruni dalam hati. Sekitar sepuluh menit berlalu, Aruni telah selesai dengan pekerjaannya. Dia berjalan terburu-buru untuk mengambil tas dan harus segera berangkat. “Saya pergi dulu, Tuan,” pamitnya sambil melewati sang suami. Kaisar mengernyitkan dahi mendengar sebutan baru itu diulang. Dia kira tadi Aruni hanya bercanda. Melarangnya memanggil Pak malah berganti menjadi Tuan. “Hei, tunggu! Run … Runi!” Kaisar berusaha mencegahnya pergi. Ada yang aneh dengan gelagat Aruni. Jam dinding baru menunjukkan pukul setengah tujuh dan masih banyak waktu sebelum jadwal masuk kerja. Mungkinkah gadis itu benar-benar kabur? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN