Pelarian Tengah Malam

1487 Kata
Langit malam di Arvadell tak pernah benar-benar gelap. Bahkan ketika bintang-bintang lenyap, ada cahaya samar yang seolah menyala dari tanah—cahaya jiwa yang belum kembali, atau bayangan yang tersesat. Di reruntuhan kuil tua tempat mereka beristirahat, Lyra terbangun dengan napas tak beraturan. Mimpi buruk kembali mengusiknya—suara bisikan, bayangan tangan yang meraih dari cermin, dan… wajah ibunya yang menatapnya dengan mata kosong. Tubuhnya basah oleh keringat. Simbol di rusuknya kembali berdenyut. Bukan menyala… tapi seolah meronta ingin muncul. Ia tak bisa tidur lagi. Dengan langkah ringan, Lyra menyambar jubahnya dan melangkah keluar dari reruntuhan. Udara malam menyengat, namun pikirannya jauh lebih dingin. Ia menuruni lereng kecil, menuju sungai yang mengalir seperti pita perak gelap di bawah cahaya samar. Di sana, Kael duduk di atas batu, matanya menatap aliran air yang nyaris membisu. “Aku tahu kau tak tidur,” katanya tanpa menoleh. Lyra menghela napas. “Apa kau selalu berjaga?” Kael menjawab, “Bayangan seperti aku tidak membutuhkan tidur. Dan jika aku tidur, dunia mimpi terlalu... berbahaya.” Ia menepuk sisi batu kosong di sebelahnya. “Duduklah. Malam ini terlalu sepi untuk dilalui sendirian.” Lyra menuruti. Mereka duduk berdampingan, hanya suara air dan desiran angin yang menemani. Tak ada percakapan. Hanya keheningan yang begitu padat, seolah menyimpan sesuatu. “Setiap kali aku tidur…” bisik Lyra, “...aku bermimpi tentang cermin. Dan di baliknya, ada sosok seperti aku, tapi matanya... kosong. Seolah dia menungguku membuat satu keputusan buruk saja, agar bisa mengambil alih.” Kael menoleh padanya, matanya yang merah kini tampak lembut. “Itu bukan mimpi. Itu pantulan dari kekuatanmu yang belum kau kenali.” “Apakah aku akan menjadi seperti dia?” tanya Lyra nyaris tanpa suara. “Jika aku membuka semua segel?” Kael ragu sesaat. Tapi kejujuran tetap muncul dari bibirnya. “Mungkin. Tapi mungkin juga kau akan menjadi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.” Lyra menggeleng. “Kau terlalu percaya padaku.” “Aku tak percaya pada kekuatanmu,” jawab Kael. “Aku percaya pada keputusanmu. Itu yang membedakanmu dari ibumu... dan dari ayahmu.” Pertanyaan itu kembali menghantam hatinya. “Siapa sebenarnya ayahku, Kael?” Diam. Kael menunduk, suaranya berat. “Aku tak bisa mengatakannya. Tapi satu hal yang harus kau tahu: dia masih hidup. Dan dia akan mencarimu. Bukan karena cinta... tapi karena kekuasaan yang kau miliki.” Lyra menggigil. Tapi bukan karena angin. Ia menatap air, lalu melihat pantulan wajahnya sendiri. Mata cokelatnya tampak lelah. Simbol di tulang selangkanya bersinar redup. “Kadang aku berharap... aku bukan siapa-siapa,” katanya lirih. “Hanya gadis biasa di dunia biasa. Tidak ada kekuatan. Tidak ada takdir. Tidak ada darah warisan.” Kael menoleh padanya, lalu menyentuh pipinya perlahan dengan punggung tangannya. “Tapi kau bukan biasa. Dan kau bukan lemah,” ucapnya pelan. “Bahkan jika semua dunia menolakmu, aku akan tetap di sisimu. Sampai akhir.” Tatapan mereka bertaut. Waktu seolah melambat. Tak ada bayangan, tak ada cahaya. Hanya dua jiwa yang saling menatap dalam keheningan. Dan saat Lyra menyentuh tangan Kael yang menyentuh wajahnya, tubuhnya gemetar. “Kenapa kau begitu setia padaku?” bisiknya. Kael menatapnya dalam-dalam. “Karena aku tahu rasa kehilangan. Dan aku tak ingin kehilanganmu.” Mereka begitu dekat. Nafas mereka saling bersentuhan. Ada sesuatu di antara mereka—ketegangan yang bukan hanya tentang rasa, tapi tentang batas. Batas antara kehendak dan takdir. Antara cinta dan kehancuran. Namun sebelum apa pun terjadi, suara dari jauh menggema. > “Kael! Lyra! Siap-siap! Kita harus pergi sekarang! Ada gerakan bayangan di utara!” Suara Ilyana memecah malam seperti petir. Kael segera berdiri, ekspresinya berubah. “Kita harus pergi.” Lyra berdiri, jantungnya masih berdetak tak menentu. Pelarian mereka pun dimulai. Tanpa sempat kembali ke reruntuhan, mereka berlari menuruni lembah, menyusuri tepi sungai yang makin gelap. Dari kejauhan, bayangan mulai mengepul dari tanah—menyerupai makhluk hitam yang menggeram pelan. “Ini bukan Azrakel,” ujar Kael sambil berlari. “Ini... penjaga dari Jalan Espektor. Mereka tahu kita hendak masuk.” Ilyana berlari di depan, memanggil cahaya dari cincin peraknya. Sebuah lorong bercahaya terbuka di udara. “Lewat sini! Gerbang hanya terbuka beberapa detik!” Mereka menerobos masuk. Dan seketika dunia berubah. Udara terasa lebih padat. Langit menjadi merah temaram. Jalan di depan mereka berkelok dalam ilusi cermin yang menyebar ke segala arah. Bayangan mereka sendiri mulai bergerak tanpa menunggu langkah mereka. Mereka telah masuk ke Jalan Espektor. Tempat di mana yang benar bisa jadi salah. Dan yang salah... mungkin adalah bagian dari diri mereka sendiri. --- Udara dalam Jalan Espektor terasa seperti napas yang menggantung—tak sepenuhnya nyata, tapi tetap menekan d**a. Langkah Lyra menyentuh tanah yang tak berbentuk. Setiap kali ia menapak, tanah berubah dari batu, menjadi pasir, lalu menjadi air. Dunia ini hidup, seolah sedang mencoba membaca pikirannya. Kael dan Ilyana berjalan tak jauh di depan, tetapi suara mereka tak terdengar jelas, seperti bergema dari balik kaca tebal. Lyra mempercepat langkah, tapi dunia di sekitarnya mulai berbelok—bentuk melengkung, warna meleleh, dan bayangan mulai memantul dari berbagai arah, meski tidak ada cahaya. Cermin-cermin ilusi. Salah satu pantulan menunjukkan dirinya berdarah, dengan tatapan kosong. Lainnya memperlihatkan dirinya berpakaian gaun putih... memeluk seseorang dalam ranjang gelap, berpeluh, dengan mata bercampur gairah dan kesedihan. Lyra memejamkan mata. “Ini hanya ilusi,” gumamnya. Tapi ketika ia membuka mata, satu sosok berdiri tepat di depannya—dirinya sendiri. Tapi lebih dewasa. Lebih... liar. Mata Lyra di hadapannya tampak tenang, tapi penuh bahaya. “Aku adalah yang akan kau jadi,” ucapnya. “Aku bukan dirimu,” jawab Lyra tegas. Pantulan itu tersenyum. “Belum. Tapi kau akan jadi aku. Ketika kau tak lagi takut pada keinginan. Ketika kau membiarkan kekuatan itu keluar… tanpa kendali. Ketika kau membiarkan Kael menyentuhmu bukan hanya dengan jari... tapi dengan jiwanya.” Wajah Lyra memerah. Ia ingin berteriak. Tapi kata-kata itu menggema seperti racun dalam darah. Pantulan itu menghilang tiba-tiba, menyisakan Kael yang kini muncul dari kabut. Napasnya berat, wajahnya gelisah. “Aku mencarimu,” katanya, menarik lengan Lyra dengan lembut. “Tempat ini... menciptakan apa yang paling kau takutkan. Jangan pernah menjauh sendirian di sini.” Lyra menggigit bibirnya, menahan guncangan. “Aku melihat… aku yang lain,” bisiknya. Kael mengangguk. “Aku juga. Aku melihatmu... mati.” Mereka berjalan cepat menyusul Ilyana. Jalan di depan membelah menjadi dua, dan Ilyana tampak ragu sesaat. “Ada dua jalur,” gumamnya. “Satu akan membawa kita lebih cepat ke pusat Jalan Espektor. Tapi jalur itu... akan memperlihatkan apa yang paling kita inginkan, bukan yang paling kita takutkan.” “Dan itu lebih berbahaya,” tambah Kael lirih. Lyra menatap keduanya. “Kenapa keinginan lebih berbahaya dari ketakutan?” Ilyana menjawab sambil memandangi jalan yang memancar cahaya emas menggoda. “Karena keinginan bisa membuatmu rela menyerahkan segalanya... termasuk jiwamu.” --- Mereka memilih jalur gelap—yang menghadirkan ketakutan. Tapi bahkan dalam kegelapan itu, kilasan hasrat muncul seperti bayangan tak diundang. Lyra sempat terhenti saat sebuah suara membisikkan namanya. Suara yang sama seperti saat Azrakel menyentuh pikirannya. > “Berapa lama kau akan menolak siapa dirimu sebenarnya?” Suara itu hangat, dalam, menggoda. Tak hanya bicara, tapi menyusup, seperti desir kulit yang disentuh dalam mimpi. Kael menggenggam tangannya. Genggaman itu nyata. Tegas. “Aku di sini,” katanya dengan suara pelan namun tajam. “Fokus padaku. Padamu yang nyata.” Untuk pertama kalinya, Lyra menyadari: kekuatan sejati bukan hanya tentang segel atau simbol. Tapi tentang kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri… ketika semua di sekitarmu mencoba merobek identitasmu. Ilyana berhenti tiba-tiba. Di depan mereka, terbentang jembatan batu yang menjulang ke atas jurang gelap. Di sisi lain, terlihat cahaya menari di atas sebuah kuil melayang di udara. “Pintu keluar,” kata Ilyana. “Tapi jembatan ini hanya bisa dilalui oleh mereka yang telah menerima bagian tergelap dari dirinya.” Kael dan Ilyana menoleh ke Lyra. “Ini ujiannya,” ucap Ilyana. “Kalau kau menyangkal bayanganmu, jembatan akan runtuh.” Lyra menghela napas. Ia melangkah ke depan, menatap ke dalam jurang. Lalu memejamkan mata. Ia teringat wajah ibunya. Suara ayahnya yang masih jadi teka-teki. Tatapan Kael. Bisikan Azrakel. Dan... dirinya yang lain. Ia berkata dalam hati, “Aku tidak takut padamu. Bahkan jika kau bagian dari diriku... aku akan belajar mengendalikanmu.” Langkah pertama di jembatan terasa berat. Tapi batu itu mengeras, menyala samar di bawah kakinya. Ia melangkah lagi. Dan lagi. Kael menyusul. Ilyana tersenyum tipis. “Dia sudah siap,” katanya dalam hati. Mereka menyeberang. Dan di balik jembatan itu, sebuah dunia baru menanti: wilayah tengah Jalan Espektor, tempat di mana sejarah dan masa depan Lyra akan terungkap… dan tempat pertama yang menyimpan jejak ayahnya yang misterius. --- Di balik langit malam yang bengkok, Azrakel berdiri di atas menara bayangan. Ia menyentuh cermin darah yang memantulkan langkah Lyra di jembatan. “Pintar, anakku... Tapi semakin jauh kau masuk ke dalam dirimu... semakin dekat pula kau kepadaku.” Dan ia tertawa—pelan, dalam, dan gelap seperti kehampaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN