"Ehm ... kalian sudah saling kenal rupanya?" Suara Pak Surya tiba-tiba mengejutkan kami. Aku langsung membuang pandangan ke arah kiri. Sementara Yuda lantas menoleh pada Ayahnya. Ternyata benar. Tuan Yuda adalah anak Pak Surya. "A-ayah, maafkan Aku !" Yuda langsung menghambur memeluk Ayahnya. "Untuk apa kamu menyusulku? Biarkan saja aku mati!" "Tolong jangan bicara seperti itu, yah! Maaf kan Aku ....Aku mohon!" "Gara-gara perempuan murahan itu, kamu sampai lupa pada Ayahmu," geram Pak Surya tanpa menoleh sedikitpun pada Yuda. "Maafkan Aku, yah! Sekretarisku sedang cuti. Aku agak kesulitan dalam mengatur jadwal dan menerima tamu saat ini." "Halah! Kamu pikir Ayahmu bodoh? Seharusnya perempuan murahan itu tidak diizinkan masuk!" "Ayah ... Aku kan sudah bilang, sekretarisku

