Monita menatap nanar ke arah Alex yang baru saja mengatakan hal yang sangat membuatnya terkejut sekaligus penasaran. Iris mata cokelat itu berkaca-kaca mendengar nama Kakak kesayangannya disebut oleh Alex, sahabat Nico. Ada rasa sulit berucap sekaligus ingin menjerit, semua berkecamuk dalam hati Monita. “A—apa? Rahasia apa?” Monita mematung menatap Alex dengan mata yang berkaca-kaca. Alex menghirup napas panjang. Ia merasa berat untuk menceritakan kepada Monita. Namun ini semua terpaksa. Tidak ada pilihan lain, tidak ada waktu lagi. “Aku mohon dengar baik-baik, rahasiakan semua ini dari kedua orang tuamu! Janji?” Alex mengulurkan jari kelingkingnya. “Janji!” Monita menyambut uluran jari kelingking Alex. Mereka saling membalas senyuman manis. “Sebenarnya Nico sedang dalam keadaan gent

