"Menikah dengan Esther!" tegas perempuan yang telah melahirkanku ke dunia. Aku tertegun dengan tangan terkepal. Bahkan setelah sekian tahun perempuan itu tak bertemu denganku, perlakuannya masih sama seperti dulu. Angkuh dan otoriter. "Tidak akan," jawabku. "Sebenernya aku tidak meminta persetujuanmu. Tetapi sedang memerintahmu, Will. Besok bersiaplah karena hari pernikahan akan tergelar." "Oke, izinkan aku untuk keluar dari kamar ini sekarang." "Apa kamu pikir Ibumu ini bodoh? Will bahkan sejengkal pun aku tak akan mengizinkanmu keluar dari kamar. Kecuali besok saat akad akan dilaksanakan." Penjelasan Ibu membuat dadaku bergemuruh. "Atau setidaknya aku ingin sebuah gunting untuk merapikan rambutku yang mulai gondrong ini, bukan kah pengantin pria harus terlihat gagah dan rapi? S

