Seminggu telah berlalu sejak peristiwa menghilangnya Willan, belum ada kabar apa pun yang berhasil diperoleh. Bahkan dua kali sudah kuhubungi Diwa tetapi lelaki itu masih belum bisa menjelaskan tentang sahabatnya yang menghilang. Aku masih sibuk memasak bistik kesukaan Aira, kami akan makan sebentar lagi. Tinggal menunggu sup dan bistik ini matang. Aku melirik sekilas ke arah Aira yang masih betah menatap foto Willan, sedangkan Miko lelaki berusia dua belas tahun itu sedang mengerjakan sesuatu di buku gambarnya. Entah menulis atau menggambar, setidaknya aku lebih lega melihatnya sibuk mengerjakan sesuatu daripada melamun tentang papanya. Miko sudah terlihat lebih tegar dibandingkan dengan Aira. Lima belas menit kemudian aku, Aira, dan juga Miko sudah berada di meja makan. Kami sarapan

