CHAPTER 31

1502 Kata
Darrel masuk ke dalam kamarnya, sudah hampir setengah jam sejak Naomi ijin ke kamar mandi di kamarnya namun ia belum juga kembali. "Naomi...Naomi..." teriak Darrel begitu pria itu masuk ke dalam kamar lamanya di kediaman keluarga Abraham. Darrel mendapati Naomi tengah berdiri di ruang belajarnya, menatap deretan foto yang terpampang di dinding serta meja belajar dengan tumpukan buku pelajaran. Di samping meja belajar terdapat lemari kaca dengan puluhan piala penghargaan akademik juga non akademik. Bahkan piagam relawan pun banyak terpajang di situ. Naomi menatap kagum sembari membaca satu persatu penghargaan yang tertera di piala. "Naomi..." Gadis itu menoleh sembari tersenyum, Darrel mendekat dan langsung merangkulkan tangannya ke pinggang gadis itu. "Sedang lihat apa?" "Foto mu dari kau bayi hingga kuliah kak. Tidak ada yang berubah, sejak lahir kau memang tampan." Darrel mendaratkan kecupan di puncak kepala Naomi, ia merasa GR di puji oleh gadis pujaannya. "Apa kamu semakin menyukai saya?" "Apa itu berhubungan kak?" Naomi mengerucutkan bibirnya. Yang di katakan Darrel tak sepenuhnya salah, namun gadis itu enggan mengakuinya. "Ehmmmm....ada nggak ya?" goda Darrel sambil terus menghirup puncak kepala Naomi. Aroma shampoo bercampur matahari, sungguh menenangkan. "Apa semua piala ini kau yang mendapatkannya kak?" "Hmmmm..." Darrel memejamkan matanya sembari menjawab pertanyaan Naomi, ia terbuai. "Luar biasa..." gumam Naomi, kekagumannya pada pria tampan yang sedang memeluknya itu bertambah. Namun hanya sesaat, ia tersenyum sinis, apakah ini waktunya untuk mengaguminya? Wajah Naomi berubah datar, ia melepaskan tangan Darrel dari pinggangnya, membalik tubuhnya menghadap Darrel. "Tadi sepertinya ada panggilan untuk makan. Apa sudah waktunya?" "Apa kamu masih bisa menelan makanan setelah pembicaraan tadi?" "Apa aku harus menahan lapar kak?" Darrel tersenyum, dia tidak salah pilih, gadis di hadapannya akan bisa mendampinginya dalam keadaan terpuruk sekalipun. "Baiklah, ayo kita turun. Papa dan mama sudah menunggu, ada kak Tonny dan David juga datang." "Iya, aku tadi bertemu dengannya saat akan masuk ke kamarmu." "Apa dia mengatakan sesuatu padamu? Apa dia menyakitimu?" "Aku baik baik saja kak, aku bisa menjaga diriku, kau tidak perlu khawatir." Naomi benar, dia gadis yang kuat. Jangankan David, mamanya yang super menyeramkan saja gadis itu mampu untuk menanganinya. Darrel menganggukkan kepalanya, ia menggandeng tangan Naomi dan berjalan beriringan menuju ruang makan. Darrel menarik kursi dan mempersilakan Naomi duduk. Tuan Abraham tepat berada di tengah dengan sang istri duduk di sampingnya, sebelah kanan di isi pak Tonny dan David serta Darrel dan Naomi yang duduk di sebelah kiri. "Naomi, apa kabar?" sapa pak Tonny, pria itu melempar senyum pada Naomi. Naomi mengangguk dan membalas senyum. "Saya baik tuan Marchello." Suasana masih saja mencekam karena nyonya Diana sebagai tuan rumah tetap memasang wajah angkernya, berbeda dengan tuan Abraham. Pria paruh baya itu lebih banyak memasang wajah datarnya sama seperti Darrel, benar benar like father like son. "Ayo kita mulai makannya." tuan Abraham mempersilakan. Banyak makanan terhidang di meja, aneka seafood, daging, ayam serta sayuran. Naomi memandang satu persatu lauk yang terpampang di meja, jamuan yang begitu mewah. Ia teringat kala ayahnya masih hidup, ia sering sekali di ajak sang ayah ke restoran, atau saat ayahnya ada pertemuan dengan klien, banyak makanan di sana dan Naomi menyukainya. Kini tidak ada sang ayah, hidupnya berubah, semuanya berbeda. Naomi melirik sesaat pria tampan yang duduk di sampingnya. 'Itu semua karena si b******k ini. Dan dia masih bisa menikmati semuanya.' gumam Naomi. Darrel tersenyum ke arah Naomi .."ayo makan." Darrel menaruh sepotong daging di atas piring Naomi, mengirisnya kecil kecil agar mempermudah gadis itu menyantapnya. Naomi tersenyum, ia harus bersikap manis, ia tak ingin memberi kesan buruk, bagaimanapun ini hari penting. "Darrel, soal proyek terakhir yang kita bicarakan, ada seorang temanku yang ingin berinvestasi. Bagaimana kalau kita adakan pertemuan besok. Apa kau ada waktu?" pak Tonny berbicara pada Darrel di sela sela makannya. "Lusa saja kak, besok saya harus menyelesaikan urusan resort yang tertunda hari ini." jawab Darrel. "Baiklah, aku tunggu kabar darimu." Darrel mengangguk. Naomi masih fokus dengan makanan yang ada di hadapannya karena Darrel tak ada hentinya untuk terus menaruh makanan di piring gadis itu, tak membiarkan piring Naomi kosong. David sedari tadi curi curi pandang pada tingkah Naomi dan Darrel yang terlihat romantis, ia tak menyangka karena kecerobohannya membuatnya harus kehilangan gadis yang sangat ia cintai. "Apa kau ada waktu malam ini Tonny? papa tunggu di ruang kerja." "Setelah ini pa?" "Hmmmm..." "Baiklah pa." Walau pak Tonny hanya menantu di keluarga Abraham, sedangkan putri mereka telah lama meninggal, namun hubungan mereka tetaplah seperti ayah dan anak. "Aku sudah selesai makan." nyonya Diana meletakan sendok dan garpu nya di atas meja, mengelap bibirnya dengan saputangan kemudian beranjak dari tempat duduknya pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh. Tuan Abraham meneguk gelas berisi air putih kemudian menghela nafasnya. Sementara Darrel dan David hanya diam, mereka sibuk dengan makanan di hadapannya atau memang berpura pura sibuk. Pak Tonny yang sudah hafal betul sifat ibu mertuanya itu hanya mampu memandang Naomi yang terlihat gemetar bingung. "Tidak apa apa Naomi, mama memang orangnya seperti itu. Lanjutkan makan mu." ucap pak Tonny. Naomi mengangguk, ia berusaha menelan sisa makanan yang ada di tenggorokannya, terasa sesak di dadanya, entah apa yang di rasakan Darrel saat ini dengan sikap mamanya. *** "Darrel dan Naomi pamit pulang dulu pa..." Tuan Abraham hanya mengangguk. David sudah pulang dari tadi setelah makan, sedangkan pak Tonny sedang menunggu tuan Abraham di ruang kerjanya. Nyonya Diana sama sekali tidak keluar dari kamarnya setelah acara makan tadi. Darrel meraih tangan papanya dan mencium punggung tangannya. Naomi melirik sesaat, pria itu begitu santun dan berbakti pada kedua orang tuanya. Akankah Darrel meninggalkannya kalau orang tuanya tidak menyukai dirinya? "Tuan Abraham, terimakasih makan malam nya, saya menikmatinya." Naomi mengulurkan tangannya dan di raih oleh tuan Abraham. Tuan Abraham menepuk nepuk pundak gadis itu saat Naomi juga mencium punggung tangan pria paruh baya itu. "Papa tunggu besok di kantor papa" bisik tuan Abraham tepat di telinga Naomi, mata gadis itu membulat, ia bingung sesaat kemudian menganggukkan kepalanya. "Baik." Mereka pun pergi dari kediaman Abraham. Naomi terdiam sepanjang perjalanannya menuju mansion milik Darrel. Darrel yang sedang serius di kursi kemudinya sesaat melirik ke arah Naomi yang terus saja diam sambil membuang pandangannya ke luar jendela mobil. "Apa yang kamu pikirkan Naomi?" "Hmmm..?? Tidak. Tidak ada." jawab Naomi. Gadis itu membetulkan posisi duduknya, meraup wajahnya yang terasa panas, kemudian tersenyum memandang Darrel. "Papa bisik bisik apa tadi? Apa itu yang membuat kamu diam sejak tadi?" Benar. Naomi bingung, kenapa tuan Abraham menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'papa' dan memintanya untuk menemuinya di kantornya besok. "Tidak ada kak, hanya hati hati di jalan katanya." Darrel menautkan alisnya, tidak seperti biasanya papanya berkata seperti ini. Apa lagi pria paruh baya itu baru pertama kali bertemu dengan Naomi. Mereka telah tiba di mansion milik Darrel. Naomi melepaskan seluruh kain yang melekat di tubuhnya, hari ini adalah hari yang begitu panjang. Ia ingin segera berendam dengan air hangat di dalam bathtub dengan taburan bunga di atasnya. Merelaxkan pikirannya sejenak sebelum pergi tidur. "Apa kita akan b******a malam ini sayang?" goda Darrel , terus menatap tubuh Naomi yang polos tanpa sehelai benang pun. Naomi mendengus kesal, apa di otak pria itu hanya seputar selangkangannya saja? "Aku lelah kak, kau juga lelah hari ini. Aku ingin istirahat. Apa kau masih punya tenaga untuk melakukannya?" Darrel mengulum senyum, ia mendekatkan tubuhnya yang masih berbalut pakaian lengkap pada Naomi yang tanpa busana. Di belainya dahi Naomi hingga ke rahang gadis itu dengan gerakan s*****l. "Saya selalu punya tenaga untuk kamu Naomi." cara bicaranya bahkan di buat buat menggoda. "Besok saja, aku yang kan mendatangimu dan membuatmu meneriakkan namaku berkali kali." ketus Naomi. Ia pun berlalu menuju kamar mandi tanpa memandang ekspresi Darrel yang begitu bahagia mendengar imingan Naomi. *** Darrel dan Naomi berada di ruang makan, pagi ini mereka bersiap dengan aktifitas masing masing. Naomi mengigit potongan terakhir rotinya dan meneguk segelas s**u yang terhidang di meja. "Bos, hari ini jadwal anda untuk donor darah dan juga ke panti asuhan Harapan." Darrel terdiam sesaat, kemudian melirik ke arah Naomi yang sedang meneguk gelas susunya. "Apa kamu sibuk hari ini? Bagaimana kalau sore ini menemani kegiatan saya ke panti asuhan?" "Ada acara apa kak?" "Itu sudah kegiatan rutin bos Darrel nona." Anthony mewakili Darrel menjawab. Naomi mengangguk, ia tak menyangka Darrel juga memiliki sisi kemanusiaan seperti itu. "Baiklah. Nanti siang aku ke kantormu dan sorenya kita sama sama pergi." jawab Darrel semangat. "Soal donor darahnya kali ini saya tidak bisa. Kemarin tangan saya baru saja di tatto, mungkin butuh sekitar setengah tahun lagi baru bisa. Tolong sampaikan itu pada staf kesehatan perusahaan kita, Anthony." "Baik bos." Naomi terus menatap Darrel. Benarkah ini? Apa selama ini dia salah menilai pria tampan itu? Semakin hari semakin ia mengenal Darrel, pria itu begitu memukau baik penampilan, tutur kata dan sikapnya, sama sekali tidak pernah menunjukkan sisi buruknya. Kecuali wajahnya yang terkadang tanpa ekspresi itu, terlebih saat dulu pria itu mengejarnya akan memberi pertanggungjawaban. Benar benar perfect husband. Harusnya Naomi bisa jatuh cinta padanya. Tapi tidak, ini semua belum membuktikan kalau Darrel adalah pria baik. Naomi masih harus mencari tahu, dan dia tidak akan berhenti sebelum menemukan buktinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN