CHAPTER 26

1602 Kata
Darrel membalik tubuh Naomi hingga menghadap ke arahnya. Gadis itu tersenyum memandang wajah Darrel, di raih nya tengkuk pria itu kemudian di raupnya lembut bibir sexy Darrel hingga pria itu memejamkan matanya, menikmati lumatan Naomi dan terbuai. Ketukan pintu menghentikan aksi Naomi, gadis itu melepaskan tautan bibirnya yang sebenarnya di tahan oleh Darrel. "Bos..." terdengar suara Anthony dari balik pintu. "Hmmm..." saut Darrel. Pria itu mendengus kesal, aktifitasnya terganggu karena panggilan dari anak buahnya. Dengan wajah memerah Darrel membuka pintu. Matanya menatap tajam pada Anthony yang tengah berdiri berjejeran dengan Mario. "Maaf menganggu aktifitas anda bos, tapi kita harus segera pergi." "Kau bisa melanjutkan nya nanti bro. Kami pinjam kekasih mu dulu Naomi." teriak Mario dengan senyum meledeknya. Darrel menghampiri Naomi dan mengecup dahi gadis itu. "Saya pergi dulu dengan mereka sebentar. Tidak akan lama, kamu mandi dan istirahatlah dulu. Nanti malam kita kencan berdua. Oke?" tak lupa Darrel mengedipkan sebelah matanya nakal pada Naomi. "Semoga sukses kak.." Darrel, Anthony dan Mario pun pergi. Naomi menutup pintu kamar. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hari hampir senja, sayang sekali kalau di habiskan untuk hanya berdiam diri saja di kamar. Ia pun melangkah keluar menuju kolam renang pribadi yang berada di samping kamar. Berjalan dengan telanjang kaki, menyusuri tiap jengkal tanah yang di tumbuhi rumput jepang yang tertata asri dengan bunga bunga di sampingnya. Terdapat sebuah gazebo kecil di samping kolam renang mini dan dua buah bangku untuk bersandar menikmati pemandangan. Pemandangan sore yang begitu indah, namun tak mampu mengusir rasa sesak di dadanya. Hati dan pikirannya melayang. Darrel...Darrel...pria itu. Pria dingin dan tidak berperasaan itu. Pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. *** Angin malam menyurai rambut panjang Naomi, gadis itu baru tersadar dari lamunan panjangnya hingga tak sadar bila hari mulai gelap. Dengan setengah berlari Naomi masuk ke dalam kamar. Gadis itu melupakan sesuatu. Di bukanya tas ransel yang selalu menemaninya ke kampus, mencari sebuah kotak kecil lalu membukanya. Beberapa pil terdapat dalam kotak tersebut, yang sudah menemaninya selama hampir dua bulan ini. Sebutir pil berada di tangannya, Naomi segera menelannya tanpa membutuhkan air untuk mendorongnya masuk ke dalam tenggorokannya. "Kamu minum obat apa?" suara Darrel mengagetkan, Naomi tersentak kemudian buru buru memasukan kotak yang berada di tangannya kembali ke dalam tas. "Ehmmm? Kak Darrel? Kakak sudah pulang? Aku tidak mendengar kakak masuk?" Naomi membalik tubuhnya menghadap Darrel dan memasang senyum manis. "Obat apa yang kamu telan tadi?" Darrel berjalan ke arah Naomi, tubuh gadis itu bergetar, ia seperti seorang pencuri yang ketahuan. "Owh...itu...vitamin kak.." "Vitamin?" Naomi mendekatkan tubuhnya pada Darrel kemudian merangkul pria itu. "Aku butuh vitamin untuk bisa terus menghadapi mu yang tak kenal lelah kan kak?" dengan nakalnya Naomi mengusap perut Darrel. "Dasar gadis nakal. Kamu menggoda ku?" Darrel menyentil ujung hidung Naomi, membuat pipi gadis itu merona. "Lekas mandi kak, aku sudah lama menunggu mu." "Apa kamu sudah tidak sabar untuk melakukannya disini?" "Maksudmu?" "Apa kita akan..."mata Darrel berkabut menatap manik mata Naomi, gadis itu melepaskan rangkulan tangannya pada Darrel. "Otak mu itu kak, mesuuuuummmm aja. Lekas mandi. Bukannya tadi siang kau akan mengajakku berkencan malam ini?" Darrel terkekeh, ia ingat ucapannya untuk mengajak Naomi berkencan, ia hanya menggoda gadisnya yang hobi sekali memarahinya. "Baiklah. Tunggu sebentar ya.." Darrel melepaskan satu persatu kancing kemejanya di hadapan Naomi. Gadis itu kembali membulatkan matanya, melihat tingkah Darren yang terus saja menggodanya, memancing emosi. "Kak Darrelll!!!" "Kenapa lagi sayang?" Darrel melempar kemejanya ke atas ranjang. "Kenapa kakak membuka baju disini? Sana kembali ke kamar mu." Darrel mengerutkan dahinya. "Ini kamar kita Naomi.." "Kita menginap di kamar yang sama?" "Menurutmu?" Naomi memutar matanya jengah, sudah pasti tentunya Darrel akan bersama nya dalam satu kamar. Tapi kan ada Mario dan juga Anthony. Mau di kemanakan mukanya di hadapan dua orang itu? Bagaimanapun mereka belum resmi menikah. "Cepatlah kak...keburu malam." Naomi menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, sementara Darrel meninggalkan nya ke kamar mandi. *** Darrel mengajak Naomi ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat pertama kali tiba di Bali. Naomi dan Darrel memasuki sebuah butik yang terlihat mewah dan lumayan ramai. Setelah sekian lama berputar putar di antara ratusan baju yang di gantung, Naomi memutar pandangan, tak ada yang menarik baginya. Dan semakin tidak tampak menarik karena bandrol harganya yang terlampau mahal hingga menguras kantong. "Kamu suka yang mana?" "Tidak ada kak, kita keluar saja. Cari di toko lain yang lebih miring harganya." Darrel tersenyum, gadis di hadapannya selain polos dia juga sangat sederhana. Bisa bertambah melimpah kekayaannya kalau hidup dengan gadis seperti ini. "Ini toko terbagus di pusat perbelanjaan disini Naomi." "Disini mahal mahal kak.." bisik Naomi ke telinga Darrel sambil berjinjit, ia tak ingin terlihat katro bila pelayan mendengar ucapannya. Darrel tertawa sesaat, di rangkulnya gadis kecilnya itu dalam pelukan. "Bisa tolong carikan beberapa stel pakaian untuk istriku? beberapa pasang sepatu dan juga pakaian dalam." Naomi menatap tajam Darrel, pria itu dengan entengnya mengucapkan pakaian dalam di hadapan banyak orang. Tak menunggu lama dua orang pramuniaga menghampiri mereka dan membawa Naomi menuju ruang ganti. "Mari ikut kami nona." Darrel hanya duduk di atas sofa yang sudah di sediakan di sudut ruangan butik. Ia memainkan telephone genggamnya sambil menunggu Naomi memilih baju. Naomi keluar, dengan sebuah dress berwaran putih tulang sepanjang lutut, di paduan dengan sepatu kets berwarna pink. Begitu terlihat cantik di kulitnya yang tak terlalu putih itu. Rambutnya di biarkan terurai panjang, dengan wajah polos bermake up natural. Darrel terkesima sesaat, gadis di hadapannya benar benar terlihat sangat muda, entah ia akan terlihat tua atau tidak bila berdampingan dengan Naomi. Darrel mengacungkan jempolnya tanda Oke. Naomi kembali ke ruang ganti, tak lama ia keluar dengan dress bermotif floral sepanjang lutut. Dan masih di padukan dengan sepatu kets namun kali ini berwarna putih. Darrel kembali terkesima, apapun yang di pakai gadis itu benar benar mampu memukau matanya. Kembali tangannya mengacungkan jempol tanda Oke. Naomi kembali masuk ke dalam ruang ganti untuk mencoba baju yang di tawarkan pramuniaga. "Kami ambil semua." ucap Darrel. Pramuniaga itupun mengangguk , namun tidak dengan Naomi. Dia telah mencoba delapan dress dan sesetel celana serta atasan, apakah semua itu akan di beli oleh Darrel? Begitu juga dengan empat pasang sepatu dan dua puluh pasang pakaian dalam. Apa Darrel berniat membuka toko setelah ini? "Kak.." desis Naomi. "Hmmmm..." "Itu banyak sekali...dua saja cukup. Lagian mahal mahal kak..." bisik Naomi. "Saya bisa membeli seluruh isi butik ini kalau kamu mau sayang." "Jangan seperti itu kak, itu pemborosan..." bisik Naomi. "Itu belum seberapa dengan apa yang telah kamu berikan pada saya Naomi." Naomi terdiam. Darrel benar, anggap saja ini sebagai imbalan dia telah menyerahkan tubuhnya utuh pada pria itu, bukankah Darrel harus membayar mahal. Darrel seperti menyadari kata katanya yang menyinggung perasaan Naomi. "Kamu jangan marah dulu, maksud saya kamu telah memberikan seluruh hidup kamu pada saya, seluruh cinta dan kasih sayang kamu. Jadi sekalipun saya memberikan seluruh harta saya pada kamu, itu tidak akan pernah cukup untuk membalasnya Naomi." bisik Darrel. Naomi masih terdiam. Darrel bilang apa tadi? Cinta? Kasih sayang? Apa Naomi memilikinya? Apa Naomi memiliki rasa cinta dan kasih sayang pada pria yang berdiri di sampingnya dan sedang menatapnya dengan penuh rasa cinta itu? Naomi tersenyum, ia menertawakan dirinya sendiri. Hatinya sudah mati, baginya rasa cinta nya tak pernah tumbuh lagi untuk orang lain. Dan Darrel, pria itu hanyalah..... "Kak..." "Ya?" "Boleh aku minta sesuatu?" "Katakanlah." "Apa kau tidak membelikanku baju tidur? Semua pakaian itu tidak nyaman bila ku gunakan untuk tidur." cicit Naomi, namun Darrel justru menyeringai. Pria itu memajukan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Naomi, membuat gadis itu menegang seketika. "Kamu tidak membutuhkan sehelai pakaian pun untuk tidur sayang..." Wajah Naomi memerah seketika. Dalam situasi seperti ini Darrel masih saja sempat menggodanya. Dicubitnya pinggang pria di sampingnya itu dengan gemas, Darrel meringis, menunjukkan deretan gigi putihnya. "Nakal kamu ya kak..." desisnya, kemudian melenggang. Sekarang gantian Darrel yang memilih pakaian. Pria itu meminta Naomi untuk memilihkan nya. Naomi terdiam, ini pertama kalinya ia memilihkan pakaian untuk seorang pria. Naomi menyisir tiap helai kaos pria yang tergantung di rak. Di ambilnya sehelai kaos oblong berwaran hitam dengan corak merah di bagian dadanya. "Ini." Naomi menyerahkan nya pada Darrel, pria itu mengernyitkan dahi. Kenapa Naomi memilih pakaian yang biasa saja ? Kenapa bukan kemeja atau lainnya? "Baiklah." Darrel membawa kaos itu ke dalam ruang ganti. Tak lama kemudian pria itu keluar. Dengan kaos pilihan naomi yang di padukan dengan celana pendek hitam serta sepatu kets putih senada yang di gunakan dengan Naomi sekarang, Darrel tampak begitu menawan. Rambutnya yang biasanya di sisir rapi , kini terurai menutupi dahi dan bagian alisnya. Naomi terdiam sesaat, memandang Darrel dari ujung rambut hingga ujung kaki. 'Apakah aku pernah bilang kalau uncle Darrel adalah pria yang tampan? Semua orang mengatakan seperti itu, namun baru malam ini aku menyadarinya. Pria di hadapanku ini benar benar tampan. Rahang yang tegas dengan sorot mata yang tajam, bibir yang tersenyum manis sempurna dan jangan lupakan tulang yang menjulang tinggi di antara pipinya itu, benar benar perfect. Dengan hanya berbalut kaos oblong dan celana pendek saja dia sudah terlihat tampan. Ets, tunggu dulu. Ada apa dengan rambutnya? Kenapa hanya dengan menurunkan poni rambutnya saja membuatnya terlihat lebih lima tahun dari usianya? Naomi, ada apa dengan jantungmu? Jangan bilang kalau kau terkesima dengan iblis tampan dihadapanmu ini.' batin Naomi. Sesaat Naomi terdiam, ia terkesima. Namun buru buru di tepisnya perasaan yang tidak mengenakan di hatinya itu, ia menggeleng gelengkan kepalanya. Darrel menatap Naomi bingung, kenapa gadis itu sama sekali tidak memberi tanggapan apapun? Darrel berjalan menghampiri Naomi, dan berdiri tepat di hadapan gadis yang tengah menengadahkan kepalanya tanpa henti menatap wajahnya. "Naomi.." "Hmm? Iya kak?" "Bagaimana?" "Kau...tampan sekali kak..." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN