CHAPTER 16

1059 Kata
Darrel menyelesaikan pekerjaannya kurang dari waktu yang di jadwalkan. Pria itu terus saja kesal selama perjalanan bisnisnya bersama Mario, hingga membuat sahabatnya itu ikut kalang kabut memikirkan permasalahan pribadi Darrel. Begitu menandatangani kontrak dengan Mr. Brown, Darrel dan Mario langsung terbang pulang ke tanah air. Anthony menjemput mereka dari bandara. "Anda sudah pulang bos?" sapa Anthony sembari mengemudi. "Bos mu sudah sangat merindukan gadisnya, ia sudah tidak tahan ingin cepat cepat berada di dalam Naomi." Mario tak sanggup menahan tawanya melihat ekspresi tegang serta amarah yang tertahan di raut wajah Darrel, namun Anthony hanya bisa mengulum senyum. Ia faham betul sifat bos nya itu. "Apa itu lucu bagimu?" Darrel melirik sinis Mario yang duduk di sampingnya. Anthony mendapat panggilan, pria itu cukup menekan tombol di telinganya yang tersambung langsung pada telepon genggamnya. "Iya, laporkan. iya..iya..oke." Anthony mengangguk angguk kemudian menutup panggilannya. "Kenapa?" Mario melihat ekspresi Anthony yang berubah bingung saat menerima panggilan. "Nona Naomi sedang berada di hotel bersama dengan tuan David bos." Rahang Darrel seketika mengeras, matanya membulat mendengar laporan dari Anthony. "Kita ke sana." Darrel membuang pandangannya, wajahnya kembali datar dan dingin. Ekspresi seperti ini yang lebih menyeramkan di banding saat pria itu marah marah. *** "Ngapain sih kamu pakai acara ngambek segala sampai pergi dari rumah?" Naomi berdiri menghampiri David yang sedang duduk di sofa dekat balkon kamar hotelnya. "Aku bertengkar dengan daddy, beliau menyuruhku untuk pergi dengannya dinas keluar negeri dan aku menolak." "Bukankah itu sudah kewajiban mu sebagai pewaris keluargamu?" "Aku masih terlalu muda Naomi." "Lalu mau menunggu sampai kapan? Kamu bisa mulai berlatih sejak sekarang. Ini kesempatan yang bagus." "Aku tidak mau." "David. Jangan manja. Kamu sudah dewasa." Seperti biasanya Naomi bertingkah seolah ia lebih dewasa dari pada David padahal mereka seumuran, namun terkadang sifat Naomi yang seperti itu membuat David mematuhi perintahnya. David memeluk gadis itu, erat. Naomi seperti biasa, membalas pelukan David, menepuk nepuk punggung pria itu dengan lembut. Tak ada getaran apapun, ia memang tak pernah menganggap David sebagai seorang pria. Hanya teman. "Naomi, aku mencintaimu. Pergilah denganku." Naomi membulatkan matanya, seketika melepas pelukan pria itu. "David..." "Aku mencintai mu Naomi, aku ingin kau jadi milikku." Naomi bangun dari duduknya dan melangkah menjauhi David. "Itu tidak mungkin Dave." "Kenapa? Apa kau tidak mencintaiku?" "Aku hanya menganggapmu sebagai teman Dave, tidak lebih." "Tidak mungkin, kita sudah dekat begitu lama, bahkan sangat lama." "Tapi aku tidak memiliki perasaan apapun padamu." "Lalu, kedekatan kita?" "Kita hanya teman Dave. Tidak lebih." "Tidak mungkin." Naomi terdiam, menatap wajah putus asa David yang berjarak hanya satu langkah darinya. "Maafkan aku Dave.." ucap Naomi lirih. "Tidak" tanpa aba aba David meraih tengkuk leher Naomi dan maraup paksa bibir gadis itu. Naomi meronta namun tenaga David begitu besar, mereka bahkan terjatuh bersama ke atas ranjang dengan posisi Naomi yang berada di bawah kungkungan David, itu mempermudah Daved mencium Naomi. "Lepaskan aku Dave..aku mohon." "Tidak, kau harus menjadi milikku. Kau harus ikut aku kemanapun aku pergi." David kembali menciumi Naomi dengan beringas. Gadis itu meneteskan air matanya, begitu penderitaannya bertubi tubi menimpanya. "Aku mohon jangan Dave..." rintih Naomi di sela sela tangisnya saat Daved menciumi lehernya dan dengan paksa merobek kemeja yang ia gunakan hingga menyisakan bra dan celana jeans yang masih melekat di tubuhnya. David menyeringai, ia semakin menggila melihat dua gundugan daging kenyal yang tertutup bra di hadapannya. "Harusnya sudah aku lakukan ini sejak lama saat kita baru masuk kuliah. Aku sudah memasukkan banyak obat perangsang pada minumanmu malam itu. Kalau saja kau tidak pulang malam itu, tentunya kita sudah menikmati malam yang indah bersama sama." Naomi terbelalak, apakah ia tak salah mendengarnya? Malam itu, malam di saat pesta penerimaan mahasiswa baru yang di adakan di mansion Darrel. Dan di saat dirinya di ajak David untuk berbicara di balkon atas dengan memberikannya segelas jus jeruk di tangannya yang telah di tetesi obat perangsang. Ya, malam itu. Malam yang membuatnya berakhir di atas ranjang Darrel. Itu ulah David, itu rencana pria b******k itu. Naomi reflek menendang perut David yang sedang asyik mengulum n****e nya. Ia begitu marah mendengar pengakuan David, orang yang sudah ia anggap sahabatnya ternyata berniat menjebaknya. "b******k kamu Dave, aku tidak menyangka kamu setega itu pada ku." "Itu semua karena kau mencintaimu Naomi." "Itu bukan cinta Dave. Itu hanya obsesimu." "Persetan dengan semua itu. Yang penting sekarang kamu harus jadi milikku." David menarik paksa celana jeans yang di gunakan gadis itu, dan menyisakan celana dalam saja. Naomi menjerit histeris, ia hampir fullnaked dan tak bisa berbuat apapun selain tangis nya yang terus mengalir. David langsung meloloskan pakaian yang ia gunakan tanpa sisa. Naomi membuang mukanya, tak pantas melihat 'b******n' di hadapannya. Tubuh David berada di atas Naomi, mengungkung gadis itu. "Kita lihat, apa setelah ini kau bisa pergi dari ku atau ikut denganku." David mencium paksa bibir Naomi, dan berkali kali gadis itu membuang wajahnya agar David tak menyentuh bibirnya. Sembari mencoba mencium Naomi, David mengarahkan juniornya tepat di kemaluan gadis itu. Namun tiba tiba saja tubuh David jatuh tersungkur ke samping. Naomi membelalakan matanya, melihat sekitar. Di dapati nya Darrel datang dengan wajahnya yang penuh emosi dan nafasnya yang tersengal. "b******k!! Sini kamu." teriak Darrel. Pria itu melirik sesaat ke arah Naomi yang tak henti nya menangis kemudian melempar selimut untuk menutupi tubuh Naomi yang telanjang. David menengadahkan wajahnya ke arah Darrel, matanya membola mendapati pamannya tiba tiba masuk ke kamar hotelnya. "Uncle..." "Apa yang akan kamu lakukan pada Naomi?" Darrel kembali menjatuhkan kepalan tangannya di dahi pria itu, membuatnya kembali tersungkur ke atas ranjang. Belum juga bangkit, Darrel naik ke atas ranjang dan kembali menghantam David bertubi tubi. Naomi yang terus saja menangis bertambah histeris dengan pemandangan yang berada di hadapannya. Paman dan keponakan saling baku hantam dengan posisi David yang tak mengenakan sehelai benang pun. "Darrel hentikan." Mario menarik tubuh sahabatnya dari atas ranjang agar berhenti memukul keponakannya. David yang tersungkur tak berdaya hanya diam menerima pukulan Darrel yang emosi membabibuta. Anthony yang baru masuk ikut kaget melihat pemandangan yang tak biasa ini. Seperti melihat drama perselingkuhan istri yang ketahuan sang suami dan sang suami memukuli selingkuhan istrinya hingga babak belur. Anthony memberikan pakaian pada David sementara kemeja Naomi yang tengah sobek hanya di biarkan tergeletak di lantai. Anthony memberikan bathrobe pada gadis itu. "Kamu ikut saya." baru selesai memakai bathrobe nya, tangan Naomi langsung di tarik Darrel keluar meninggalkan kamar hotel serta David, Mario dan Anthony yang masih di dalam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN