"Naomi Khanaya"
"Iya"
"Biaya administrasi yang ini belum kamu bayar."
"Apa ini tidak termasuk dalam beasiswa saya pak?"
"Khusus ini saja, karena ini masuk ekstra kurikuler jadi tidak termasuk dalam bea siswa kamu. Tolong segera di bayarkan ya. Paling lambat saya tunggu minggu depan"
"Baik pak.."
Dengan langkah gontai Naomi keluar dari ruang tata usaha.
"Harus cari uang dimana lagi? Bahkan gajiku kerja paruh waktu di restorant beberapa hari saja ini hanya cukup untuk membeli buku."
Tiba tiba telephone genggamnya berbunyi, sebuah notifikasi masuk.
'Naomi, sedang apa?'
Naomi tersenyum, seorang pria bernama Adrian menghubunginya.
'Mau pulang kuliah, kakak sedang apa?'
'Kakak mau berangkat bekerja, kamu sudah makan?'
'Sudah kak, aku juga mau berangkat bekerja' balas Naomi berbohong.
Ia harus menahan perut laparnya setidaknya seharian dan bisa makan sepuasnya saat ia sudah sampai di restoran tempatnya bekerja.
'Baiklah, selamat bekerja. Jangan lupa makan, kakak menyayangimu.'
'Naomi juga sayang kakak'
Naomi tersenyum menatap layar telephone genggamnya sambil, tiba tiba ia terpikirkan sesuatu.
'Kak...'
'Iya...'
'Aku ingin minta tolong'
'Katakanlah'
'Bisakah kakak meminjamkanku uang? Aku janji akan membayarnya akhir bulan setelah gajian. Ini darurat ka'
'Baiklah'
'Terimakasih ka, aku bersumpah uang itu aku gunakan dengan baik'
'Kakak percaya'
'Bisa aku ambil nanti malam?'
'Datanglah ke tempat kerja kakak, akan langsung kakak berikan'
'Terimakasih banyak kak...'
'Sama sama, hanya itu yang bisa kakak bantu.'
'Itu sudah lebih dari cukup ka'
Naomi mengakhiri percakapannya dengan Adrian lewat chat.
Gadis itu harus bergegas pulang agar segera sampai ke restoran tempatnya bekerja.
***
"Pria itu kakaknya Naomi?" Darrel membulatkan matanya mendengar cerita Anthony soal Adrian dan Naomi.
"Iya bos" Anthony mengangguk dengan pasti.
Darrel menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa, ia masih belum percaya dengan yang di ceritakan Anthony.
"Bukankah kamu bilang kalau Naomi itu anak tunggal? Bagaimana bisa ia punya seorang kakak? Wajah mereka juga tidak mirip satu sama lain."
"Ibu Naomi meninggal saat gadis itu masih kecil bos, dan ayah Naomi menikah lagi dengan ibu dari pria itu. Jadi mereka adalah saudara tiri. Tapi Adrian sudah menganggap Naomi seperti adik kandungnya sendiri karena sejak kecil mereka bersama."
"Lalu kenapa mereka tidak tinggal bersama lagi?"
"Setelah ayah Naomi meninggal setahun yang lalu, ibu Adrian mengusir Naomi dari rumah, dan mulai hari itu Naomi hidup sendiri. Tapi Adrian selalu memantau dan menjaga Naomi, bos. Dia benar benar seorang kakak."
Darrel kembali terdiam, hatinya di liputi perasaan bersalah.
"Lalu dimana sekarang pria itu?"
"Saya membawanya ke rumah sakit bos."
"Apa dia bilang akan lapor polisi?"
"Saya menyuruhnya untuk diam bos. Saya jelaskan padanya kalau bos adalah kekasih nona Naomi dan bos seorang pencemburu buta."
Darrel menatap tajam ke arah Anthony, ia tidak suka dengan jawaban yang di berikan bawahannya itu.
"Saya pencemburu?"
Anthony terkekeh, ia faham betul arti tatapan tajam bos nya itu.
"Maafkan saya bos, tapi memang terlihat jelas kalau anda cemburu buta."
"Jangan asal bicara kamu."
"Saya permisi dulu bos, hari sudah pagi dan seharian saya belum tidur."
Jam di dinding memang sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi.
Tak menunggu jawaban Darrel, Anthony menganggukkan kepalanya pamit permisi.
Darrel masih dalam diamnya, sepertinya benar yang dikatakan bawahannya itu.
***
Darrel memasuki kamarnya, dilihatnya Naomi tengah tertidur pulas dengan selimut yang hanya menutupi tubuh bagian atasnya.
Paha mulusnya yang telanjang, terekspos jelas karena gadis itu memang tak memakai sehelai benang pun yang melapisi tubuhnya di balik selimut.
Shit, Darrel mengumpat dalam hati.
Milik nya kembali on hanya dalam hitungan detik melihat Naomi.
Tidak mungkin ia memaksa gadis itu untuk melayani lagi setelah pertempuran hebat mereka .
Darrel pun naik ke atas ranjang dan membetulkan selimut di tubuh Naomi.
Pria itupun tidur di samping Naomi sambil memeluk perut rata gadis itu.
Darrel mencoba memejamkan matanya dan menenangkan pikirannya untuk mereda gejolak yang ada di pangkal pahanya.
"Selamat tidur Naomi, dan maaf kan saya." Darrel mengecup pucuk rambut gadis itu, dan terlelap bersama.
***
Naomi terbangun dari tidurnya, cahaya matahari yang masuk di sela sela tirai jendela kamar, mulai menyilaukan matanya.
Namun bukan hanya karena itu, perutnya yang sering merasa mual di pagi hari membuatnya harus bergegas lari ke kamar mandi kalau tidak ia bisa muntah di atas ranjang.
Naomi bahkan tidak menyadari kalau dirinya bahkan tak mengenakan sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya.
Hweeekkk hweeeekkkk...
Rasa pusing dan mual begitu menyiksanya, setiap pagi.
Darrel ikut terbangun karena merasakan kosong di samping tempatnya tidur.
Ia mencari keberadaan Naomi dan menemukan gadis itu tengah muntah di kamar mandi.
Darrel langsung masuk ke kamar mandi yang memang tidak terkunci.
Dilihatnya Naomi sedang berjongkok di depan water closed sambil mengeluarkan isi dalam perutnya dan tentunya sambil telanjang.
Darrel bergegas mengambil bathrobe dan menyelimuti tubuh Naomi.
"Kamu baik baik saja?"
Naomi hanya diam, ia benar benar marah dan tak ingin berbicara dengan pria b******k yang berdiri di belakangnya itu.
"Apa selalu seperti ini setiap pagi?"
"Bukan urusan anda" Naomi menyeka bibirnya dan berjalan meninggalkan Darrel.
"Itu menjadi urusan saya. Di dalam perut kamu ada anak saya."
Naomi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap tajam manik mata Darrel.
"Teruslah bermimpi! Karena saya sedang tidak hamil anak anda!" Naomi membalikan tubuhnya hendak meninggalkan Darrel namun lengannya di tahan oleh pria itu.
"Saya minta maaf."
Darrel menarik lengan gadis itu dan membalikan tubuhnya agar mereka bertatap muka kembali.
"Saya benar benar minta maaf untuk kejadian semalam Naomi. Sayaa...saya..."
Naomi melepaskan tangan Darrel dari kedua lengannya.
Darrel tidak bisa melanjutkan kata katanya, Air mata Naomi seketika mengalir dengan mata yang menatap tajam ke arah pria itu.
"Anda dengan mudahnya meminta maaf setelah mengatai saya sebagai perempuan murahan. Anda pikir karena saya sudah tidak suci lagi lalu anda bisa dengan mudahnya memperlakukan saya dengan seenaknya. Anda tidak boleh seperti itu pada saya. Saya hanyalah gadis yatim piatu yang tidak memiliki apapun, tapi...tolong hargai saya. Jangan injak injak harga diri saya terus menerus seperti ini..."
"Naomi..." Darrel hendak menyentuh tangan Naomi namun segera di hempaskan oleh gadis itu.
"Jadi saya mohon, untuk yang terakhir kalinya... Tolong jangan pernah temui saya lagi."
"Naomi...sayaa...."
"Saya sudah memaafkan anda, tuan Darrel..."
Naomi membalik tubuhnya dan berlalu meninggalkan Darrel di kamar mandi.
Gadis itu memutar pandangannya, ia melihat kemeja yang semalam di kenakannya tengah teronggok tak berbentuk lagi di lantai.
Tak mungkin ia akan mengenakan pakaian yang telah sobek untuk pulang kerumah.
Naomi mengikat tali bathrobe yang kenakannya, kemudian memakai celana jeans nya.
"Kamu mau kemana Naomi?"
"Pulang."
"Sarapan dulu."
"Saya tidak lapar."
"Saya antar kamu pulang."
Naomi selesai mengikat tali sepatunya, ia pun bangun dari sofa dan menenteng tas rangselnya.
"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri."jawabnya dengan tatapan tajam penuh kebencian pada Darrel.
Darrel terdiam, ia sadar kalau dirinya melakukan kesalahan yang teramat fatal pada gadis itu.
Baru pertama kalinya ia melihat Naomi semarah itu, gadis yang ia kenal adalah gadis yang ramah dan juga ceria.
Bahkan dengan sikap dingin Darrel pun, Naomi tetap menghormati dan selalu menyapa pria itu walaupun gadis itu tau kalau Darrel tak akan menjawab sapaannya.
Kali ini Naomi berani menatapnya dengan tajam.
Naomi melangkah pergi meninggalkan kamar Darrel, berjalan sebentar kemudian menuruni tangga menuju lantai bawah.
Anthony tengah menunggu gadis itu di bawah tangga.
"Saya akan mengantar anda nona."
"Tidak perlu."
"Bos bisa memecat saya kalau anda menolak."
Naomi terdiam sesaat, kakinya sebenarnya merasa lemas karena kasi brutal Darrel semalam.
Bagaimana mungkin ia akan berjalan menuju halte bis sementara perutnya pun belum terisi apapun.
"Baiklah. Ini demi anda pak. Bukan karena bos anda." balas Naomi.
Anthony mengangguk sembari tersenyum.
Mereka masuk ke dalam mobil.
"Apa anda ingin makan bekal makanan saya nona?" Anthony menyodorkan sebuah kotak makan pada Naomi yang duduk di kursi belakang.
"Apa ini juga perintah bos anda pak?" Naomi meninggikan nada bicaranya, ia benar benar sangat marah pada Darrel.
"Bukan nona, ini bekal makanan yang di buat ibu saya." bohong Anthony.
Padahal Darrel menyuruh tukang masak di rumahnya untuk menyiapkan makanan siapa tahu Naomi menolak ajakannya untuk sarapan.
"Kalau begitu saya terima pak. Terimakasih banyak, tolong sampaikan pada ibu anda."
"Baik nona."
"Naomi, panggil Naomi saja." ucap Naomi sambil membuka isi kotak makan yang di berikan Anthony, ternyata isinya sandwich.
Naomi langsung memakan dengan lahap sandwich yang ada di tangannya itu.
"Saya tidak berani nona, bagaimanapun anda calon istri bos saya."
Naomi tersedak mendengar jawaban Anthony.
Anthony menyodorkan air mineral pada Naomi setelah membukanya.
"Pelan pelan makannya nona."
"Jawaban anda yang membuat saya tersedak."
"Jawaban yang mana nona?"
"Saya bukan calon istri bos anda."
"Tapi anda sedang mengandung anaknya."
"Saya sedang tidak hamil."
Anthony terkekeh, melihat reaksi Naomi lewat kaca spion.
Sepertinya ia mulai menyadari pesona gadis itu, pantas saja bos nya tergila gila padanya.
Mereka sama sama gigih dan keras kepala ternyata.
"Kita sudah sampai nona."
"Terimakasih pak."
"Cukup Anthony saja nona."
"Baik pak Anthony."
Naomi menutup pintu mobil Darrel kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Bergegas ia mandi dan mengganti pakaiannya.
Naomi ingin segera menemui kakak tirinya dan mengetahui keadaan pria itu.
***