CHAPTER 9

1416 Kata
"Sebegitu bencikah kamu pada saya Naomi?" "Anda pikir saya tidak perlu merasa seperti itu?" "Naomi ... saya hanya ingin kamu memaafkan saya, saya tidak tahu saya harus berbuat apa lagi?" "Dan juga... saya akan ganti segala ongkos rumah sakit kak Adrian yang telah anda keluarkan. Saya benar benar tidak ingin ada urusan dengan anda lagi." "Itu juga kesalahan saya Naomi, biarkan saya menebusnya." "Saya tidak berharap apapun dari anda tuan Darrel." "Jangan menyebut saya seperti itu Naomi, saya bukan majikan kamu." "Tapi anda memperlakukan saya seperti itu..." Naomi tersenyum kecut kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Kegiatannya seharian membuatnya merasa lelah, terlebih hatinya. "Saya hanya mencoba mempertanggungjawabkan perbuatan saya." "Saya tidak memintanya." Naomi membuang pandangannya, perdebatan ini sepertinya tak bisa terselesaikan dengan baik. "Lalu kamu mintanya bagaimana?" "Saya hanya meminta anda pergi dari kehidupan saya." "Untuk yang satu itu saya tidak bisa Naomi. Walau bagaimanapun, saya sudah mengambil kesucian kamu. Sepanjang hidup saya pasti akan di hantui rasa bersalah yang teramat dalam karena telah menghancurkan kehidupan seorang gadis." "Tapi saya baik baik saja, anda tak perlu memberikan kompensasi apapun untuk saya." "Kompensasi? Jadi menurut kamu, saya adalah orang yang seperti itu?" "Lalu saya harus menyebut apa tentang uang dan barang yang anda berikan pada saya? Bukankah itu sebuah kompensasi? Karena anda seorang pengusaha, jadi anda punya prinsip take and give. Anda tidak akan menerima sesuatu dengan cuma cuma tanpa membalas dengan apapun. Begitu kan?" "Kamu berpikiran terlalu jauh Naomi." "Apa pikiran saya salah? Setelah melihat ini?" Naomi menunjuk kemeja dan juga uang yang tadi taruh di atas meja. Darrel mengacak rambutnya frustasi, gadis di hadapannya benar benar pintar memutar kata kata. "Ok, mau kamu apa Naomi? Saya akan memberikannya." "Dari awal saya sudah katakan kalau saya ingin anda pergi dari kehidupan saya. Hanya itu." "Itu tidak akan mungkin. Apapun bisa saya berikan selain itu." Darrel mengajak Naomi bernegosiasi, gadis itu terdiam sesaat, ia punya ide jahat yang sepertinya tak mungkin terealisasi. "Bagaimana kalau saya meminta semua perusahaan anda? Apa anda akan memberikannya?" Tak menunggu waktu lama untuk Darrel langsung tersenyum menatap wajah manis Naomi. "Jangankan perusahaan, mension dan seluruh aset yang saya miliki akan menjadi milik kamu setelah kita menikah." Mata Naomi membola, ia benar benar lelah berdebat dengan pria di hadapannya itu. Darrel begitu keras kepala. "Bagaimana?" Darrel menunjukkan smirk smile nya, kali ini ia melihat kekalahan di mata gadis keras kepala di hadapannya itu. "Anda benar benar sudah gila." gumam Naomi. Darrel bangkit dari posisi duduk nya dan berjalan ke arah sofa. "Saya akan menghubungi pengacara saya dan mengatakan akan memberikan seluruh perusahaan dan aset milik saya untuk kamu setelah kita menikah. Kamu tinggal tanda tangani saja berkas berkas nya." Darrel menekan layar telephone genggamnya, namun saat baru akan tersambung Naomi dengan setengah berlari meraih tangan pria itu dan merebut telephone genggamnya. "Tidak." jawab Naomi sambil menutup panggilan yang di lakukan Darrel. Pria itu terkekeh melihat reaksi Naomi. "Kenapa? Bukankah kamu yang memintanya tadi?"" "Hentikan kegilaan anda tuan Darrel." "Kamu tidak penah tahu seberapa gilanya saya Naomi." Darrel melangkah maju membuat Naomi memundurkan tubuhnya hingga ia berakhir menabrak tembok, tubuhnya terkunci di antara du lengan Darrel. Gadis itu membuang pandangannya, tak ingin menatap wajah tampan Darrel. "Kak Darrel, tolong jangan seperti ini..." Naomi tergagap, ia merasa canggung dengan situasi ini. "Kenapa? Kita bahkan pernah lebih dari ini?" uacap Darrel dengan suara parau. Bulu kuduk Naomi meremang, pria di hadapannya itu begitu terlihat sexy. 'Naomi bodoh!! Jangan berpikiran m***m!!!' umpatnya dalam hati. Darrel melepas ke dua sikunya mengunci Naomi, ia sedikit memundurkan tubuhnya. Naomi segera meloloskan dirinya dan berjalan ke arah sofa untuk mengambil tas rangselnya. "Saya harap ini pertemuan terakhir kita." Naomi keluar dari ruang kerja Darrel, namun pria itu tak mengejarnya. Sepertinya Naomi memang butuh waktu, ia tak ingin salah langkah lagi karena terlalu memaksa pada gadis itu. "Antarkan Naomi pulang." "Baik bos" Anthony mengejar Naomi turun ke lantai bawah. "Bos menyuruh saya mengantar anda nona." "Apa dia mengancam akan memecatmu kalau aku menolak?" "Anda sudah mulai faham ternyata." Naomi menghela nafas, dadanya begitu sesak tak memahami sikap Darrel. Saat dirinya akan masuk ke dalam mobil, matanya menangkap sosok cantik dengan setengah berlari masuk ke dalam mansion. "Bukankah itu Marissa Aurora? Top model tanah air?" Mata Naomi tak hentinya melihat Marissa sampai harus memutar tubuhnya karena mobil tengah berjalan. Sementara Anthony yang berada di kursi kemudi tak menjawab apapun, bukan wewenangnya menjelaskan siapa Marissa pada Naomi. "Pak Anthony.." "Iya nona Naomi?" "Ada urusan apa model seperti Marissa Aurora mendatangi mension Darrel?" "Silakan anda tanyakan sendiri pada bos saya." "Atau jangan jangan itu wanitanya Darrel yang lain? Dia punya berapa wanita memangnya?" gumam Naomi. Anthony tersenyum memandang Naomi yang sedang bergumam sendiri, lewat kaca spion mobil. *** Marissa dengan setengah berlari dan wajah penuh kekesalan menghampiri Darrel di ruang kerjanya. "Darrel!!!" Teriakan Marissa membuyarkan konsentrasi Darrel yang mulai pulih karena telah bertemu dengan Naomi. Darrel menatap datar ke arah gadis cantik di hadapannya itu. Marissa berdiri tepat di hadapan meja kerja Darrel, gadis itu mencoba mengatur nafasnya dan meredakan emosinya, bibirnya menyunggingkan senyum yang di paksakan. "Kenapa kamu tidak menjawab panggilan ku? Aku mencarimu ke kantor, dan sekretarismu bilang kamu tidak berangkat hari ini. Apa kamu sedang sakit?" "Saya baik baik saja." Darrel kembali fokus pada laptop di hadapannya, ia berharap Marissa segera hilang dari pandangannya. "Darrellll...." Marissa berkata selembut mungkin. "Ada yang ingin aku sampaikan padamu Marisa." Darrel berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menuju sofa, Marissa mengikutinya, sekarang mereka duduk bersebelahan. "Apa? Ayo katakan..." "Kita selesaikan saja." ucap Darrel tanpa melihat ke arah Marissa. "Apa? Apanya yang selesai?" "Hubungan kita. Cukup sampai disini." Marissa terdiam sesaat, pucuk matanya menitikkan bulir putih. "Tapi...tapi kenapa Darrel?" "Saya lelah." "Lelah?" "Salah aku apa? Sampai membuat kamu lelah?" "Tidak ada. Semua salah saya." Marissa tak bisa berkata kata lagi, ia sama sekali tak mengerti kenapa seorang Darrel yang begitu memujanya bisa tiba tiba berubah seperti itu. "Darrel...apa tidak ada kesempatan lagi untuk.." "Tidak ada. Saya minta maaf." Darrel berlalu meninggalkan Marissa yang masih menangis. Kejam? Darrel tak peduli gadis itu akan mengatainya apa. Yang ia pedulikan sekarang adalah Naomi. Dan sekarang ia sudah lega karena telah mengucapkan perpisahan pada Marissa. *** Naomi berharap tak akan bertemu lagi dengan Darrel. Setidaknya pria itu lagi lagi menghilang seperti waktu itu walau tiba tiba juga akan muncul kembali dan membawa masalah untuknya. Namun setidaknya ia bisa bernafas sesaat untuk tak melihat wajah tampan pria b******k itu. "Citra..." Naomi memanggil sahabatnya itu yang entah bagaimana bisa gadis itu sekarang menjauhinya. Sepertinya ia merasa tak memiliki kesalahan apapun pada Citra. Tapi Naomi sadar kalau Citra menjaga jarak padanya. "Ehm...iya Naomi.." "Kita pulang bareng ya..." "Aku ada urusan sepulang kuliah. Maaf..." Citra berlalu begitu saja, membuat Naomi berfikir ekstra kenapa persahabatannya bisa renggang seperti ini. Sebuah tangan merangkulnya, dan aroma parfum ini Naomi begitu mengenalnya. "Dave..." Naomi menoleh. Di dapatinya wajah tampan David tersenyum menatapnya, Naomi membalas senyuman pria itu. "Mau jalan dengan ku?" "Kemana?" "Keliling dunia." bisik Dave tepat di telinga Naomi, gadis itu hanya tersenyum. Sudah biasa ia memakan rayuan gombal yang di lontarkan David. "Aku akan berjalan jalan di atas peta saja. Itu sama kan" David mengeratkan rangkulan tangannya, mereka berjalan beriringan keluar kelas. "Aku akan mengantarmu ke tempat kerja." tawar David. "Ini masih siang, sift ku nanti sore." "Kalau begitu aku antar ke rumah." "Terima kasih." "Tidak gratis, traktir aku minum." "Iya..." "Dan contekan tugas." Naomi mendengus kesal, sudah menjadi kebiasaan David sejak mereka sama sama di SMA. "Hmmmm..." Naomi tersenyum memandang David yang puas karena mendapat bayaran banyak hanya karena mengantarnya pulang. "Apa sewa mu masih lama di tempat ini?" David memutar pandangannya mengelilingi rumah yang di sewa Naomi. Hanya ada sebuah lemari kecil dan kasur lantai serta sebuah meja. Di sekat sebuah papan kecil untuk membagi ruangan menjadi dua dengan kamar mandi yang juga sempit hanya muat untuk satu orang saja. "Tinggal beberapa bulan lagi." "Carilah tempat yang agak bagus Naomi. Ini benar benar tidak layak untuk di tempati." "Kau tau sendiri aku tidak memiliki banyak uang. Kalau bukan karena keluargamu yang memberiku uang, mungkin sekarang aku masih tinggal di jalanan. Seperti ini saja sudah cukup." Naomi menuang soda ke dalam gelas untuk di berikan kepada David. "Minumlah, aku tidak punya sesuatu yang mahal untuk di berikan." "Ini juga sudah cukup." "Dan ini, tulis dengan cepat dan ganti beberapa kata katanya agar tak terlalu mencolok kalau kau hanya menyalin tugas orang lain." David terkekeh menerima buku yang di berikan Naomi. Naomi. adalah gadis pertama yang menggetarkan hatinya, membuatnya minat untuk masuk sekolah dan juga belajar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN