CHAPTER 40

1002 Kata
WARNING!!! Buat kalian yang belum cukup umur mending jangan baca chapter ini deh...Saya nggak tanggungjawab kalau kalian nanti beralih profesi jadi kang bubur yang sukanya halusinasi ya... Happy reading... "Hentikan Naomi..." Darrel melepaskan tautan bibirnya di bibir Naomi dan mencoba mengatur nafasnya. Sepertinya istrinya itu sudah mulai tidak waras. Sudah jelas jelas gadis itu sedang datang bulan, namun dengan beraninya justru menggoda Darrel dengan menciumnya. Naomi tersenyum manja, senang sekali melihat wajah Darrel yang merah padam karena menahan hasratnya. Ia mengelus dadanya sendiri, seperti jalang yang tengah menggoda p****************g. "Persetan dengan semuanya." Darrel menarik tengkuk leher istrinya dan meraup bibir gadis itu dengan lahap dan menuntut, tak memberi jeda pada Naomi untuk mengambil nafas. Darrel begitu gemas dengan tingkah Naomi yang begitu berani menggodanya. Sudah berhari hari Darrel merindukan sentuhan Naomi. "Apa yang kamu lakukan?" bisik Darrel di tengah dirinya yang tengah berkabut di hasratnya yang memuncak. Naomi menggelengkan kepalanya. "Pulanglah kak...walaupun kau tidak bisa menyentuh ku, biar aku yang menyentuh mu..." "Seperti tadi?" Naomi kembali mengangguk. "Tidak apa apa kak..asal kau puas." Naomi memeluk Darrel, meletakan kepalanya di ceruk leher pria itu. Darrel membalas pelukan Naomi, gadis dalam dekapannya itu sungguh pintar mengambil hatinya. 'Akan ku buat hidupmu sangat bahagia kak Darrel, hingga kau tidak akan pernah merasakan rasa sakit dari ku...' batin Naomi. *** Mario dan Anthony saling bertatapan bingung melihat sepasang suami istri di hadapan mereka yang terlihat begitu bahagia. Bukannya iri, hanya bingung. Bagaimana tidak? Semalam Darrel memaksa Mario dan Anthony untuk tidak pergi dari ruangannya untuk membahas proyek besar nya, namun alasan pastinya karena pria itu begitu murka karena Naomi pergi menemui Adrian tanpa minta ijin darinya. Hingga membuat mereka menginap di kantor Darrel, menemani pria itu dengan segala keluh kesahnya. Di tambah kejadian pagi ini dimana Naomi yang begitu emosi mendatangi kantor Darrel karena suaminya yang tidak pulang ke rumah dan tentunya tidak bisa di hubungi. Namun lihat sekarang, mereka berdua tengah bersenda gurau. Bahkan Darrel masih sempat beberapa kali menyuapi Naomi hingga makanan yang berada di piringnya sendiri pun habis tak terisa. "Sepertinya aku mulai takut pada wanita...."gumam Anthony. "Aku justru takut untuk menikah..." timpal Mario. Mereka berdua masih terpaku menjadi penonton sepasang pengantin baru yang begitu mesra di hadapan mereka. *** Darrel dan Mario kembali ke kantor sementara Anthony mengantar Naomi ulang ke mansion milik Darrel. Naomi hanya terdiam sepanjang jalan, kegiatannya dari pagi begitu menguras tenaganya, namun ia akan mencoba untuk membiasakannya. Naomi akan semakin giat belajar untuk menyenangkan Darrel, apapun itu. Berkali kali Anthony melirik Naomi yang duduk di kursi penumpang lewat spion, dan Naomi menyadari itu. "Ada yang ingin kau sampaikan pak Anthony?" "Tidak ada nona." "Sepertinya kau tidak menyampaikan apa yang kau lihat pada bos mu, pak?" "Apa anda menunggu nya nona?" "Tentu, aku ingin melihat reaksi kak Darrel bila mendengar laporan mu pak." "Saya pastikan bos akan mengetahuinya nona." "Aku tunggu pak, pasti akan seru." Naomi menyeringai, menantang Anthony. Harusnya ia mesti waspada pada tangan kanan Darrel yang terus saja memata matai nya, namun ini tantangan untuk Naomi. Hidup seperti bermain roller coaster sepertinya menyenangkan. Naomi turun dari mobil yang di kendari Anthony dan di sambut dua orang pelayan yang sepertinya sudah menunggunya sedari tadi. "Ada apa?" Naomi bingung melihat wajah kedua asisten rumah tangganya yang sepertinya terlihat panik. "Tuan dan nyonya besar sudah menunggu anda dari tadi nona, namun handphone anda sulit untuk di hubungi." Naomi mengernyitkan dahi, ia teringat bila handphone nya dia mode silent karena ia tak ingin ada seorangpun mengganggunya saat bersama Darrel. Naomi melangkah kan kakinya memasuki rumah. Tuan Abraham dan nyonya Diana tengah menunggunya di ruang tamu. "Pa, ma...sudah lama?" Tuan Abraham tersenyum melihat kedatangan Naomi, namun nyonya Diana yang memang ketus hanya mendengus kesal sembari membuang muka. Naomi menyalami tangan kedua mertuanya bergantian dan duduk di hadapan mereka. "Datang nggak kasih kabar? Kan Naomi bisa siap siap..." "Ini mama kamu..." belum selesai bicara, nyonya Dian sudah menyela ucapan suaminya. "Kamu nya saja yang sulit di hubungi." Naomi dan tuan Abraham terkekeh bersamaan, melihat tingkah nyonya Diana yang seperti anak kecil. "Tadi Naomi habis makan siang sama kak Darrel dan juga kak Mario pa, ma...Jadi nggak tahu kalau papa dan mama hubungi Naomi. Ada apa pa?" "Mama kamu ini pingin di buat kan soto bening pakai daging. Kamu bisa Naomi?" Naomi menatap sesaat ibu mertuanya kemudian mengangguk dengan pasti sembari tersenyum. "Owh...jadi mama pengin di buatkan masakan lagi sama Naomi. Oke deh...Naomi siap siap dulu. Tunggu sebentar ya ma, pa..." "Kamu nggak istirahat dulu nak? Kamu pasti capek?" "Nggak pa...Naomi nggak capek kok...Tunggu sebentar ya ma, pa...' Naomi pun berlalu menuju dapur dan membuka lemari pendingin, mengecek apakah bahan bahan yang ia butuhkan ada semua. Gadis itu tersenyum, untung rumah Darrel ini begitu komplit, apapun tersedia. Bergegas Naomi menyalakan api, meletakan panci berisi air guna merebus daging agar empuk. Dan ia pun mulai meracik bumbu yang dibutuhkan. "Ada yang bisa saya bantu nona?" seorang asisten rumah tangga bernama Tika mendatangi Naomi yang tengah sibuk, ia tak ingin kena marah Darrel karena sang nyonya rumah sibuk sendiri. "Tolong bersihkan itu, dan kamu potong itu ya.." Tika mengangguk mengerti, ia terbiasa memasak, ia cukup mendengarkan sekali perintah majikannya, soal rasa biar Naomi yang mengurus. Naomi membuat soto daging kuah bening dalam porsi banyak, ia ingin semua penghuni mansion menikmati masakannya. Hampir satu jam gadis itu berkutat di dapur sementara nyonya Diana dan tuan Abraham memandangnya dari jauh. "Bukankah kalau dilihat, Naomi semakin mirip putri kita Lidya?" "Jangan samakan gadis itu dengan putri kita yang berharga pa..."sungut nyonya Diana. "Dia juga putri yang berharga bagi ayahnya ma..." Nyonya Diana terdiam, suaminya benar, namun tetap ia tak ingin mengakuinya. Almarhum Lidya adalah wanita yang cerdas dan juga ceria. Ia pandai dalam berbagai bidang, tegas, dan juga ramah. Namun sayang wanita itu tak panjang umur, dan tentunya membuat semua orang yang mengenalnya begitu merasa kehilangan. Termasuk Darrel, Lidya adalah sosok seorang kakak dan juga ibu baginya, hingga ia bertemu dengan Naomi, gadis itu terlihat mirip dengan kakaknya, walau secara rupa, tentulah Lidya lebih cantik rupawan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN