“Kenapa kamu tidak memberitahuku mengenai surat-surat ini Lylo?”
Langkah Lylo terpaku saat di kamarnya kini berdiri Lion dengan wajah gelapnya. Di tangannya tergenggam setumpuk surat, sebuah surat ancaman yang selama ini Lylo simpan di dalam lacinya. Niatnya Lylo akan menyembunyikan semuanya untuk sementara waktu, namun siapa sangka lelaki itu akan berani membuka lacinya tanpa ijin?
Lylo lupa, sekarang sudah mereka tidur sekamar.
“Kupikir aku sudah memperketat keamanan. Kenapa kamu tidak memberitahuku sesuatu mengenai surat ini?”
Surat itu ditulis menggunakan darah. Beirisi u*****n dan ancaman, yang menginginkan kematian Lylo.
Tadinya Lylo hendak menyelidiki semuanya sendiri, mengingat Lion bodyguard sekaligus calon tunangannya itu memiliki mulut ember yang pasti akan membocorkan masalah ini pada orang tuanya. Sudah cukup mereka mengkhawatirkan Al selama ini. Lylo tidak mau sampai mereka mengkhawatirkan dia juga pada akhirnya.
Lylo berjalan cepat ke arah Lion, menyambar surat itu kasar sambil memicingkan matanya kesal. Matanya bertatap langsung dengan netra yang memiliki warna seperti miliknya, sama-sama mengeluarkan feromone menantang, dan sama-sama tidak akan mengalah.
“Jangan mencoba mengertakku Lylo. Aku tidak sedang ingin bercanda sekarang. Katakan alasan logis kenapa kamu sampai harus menyembunyikan surat itu dariku dan aku mungkin akan mempertimbangkan lagi hukuman apa yang harus kuberikan padamu,” geram Lion marah. Feromone keduanya saling bertabrakan, membuat suasana di ruangan itu semakin berat seiring waktu.
“Dengar,” suara Lylo juga rendah, menantang mata Lion sama tajamnya.
“Permintaan pertunangan, aku sudah setuju. Tidur bersama, aku setuju. Diikuti setiap saat olehmu, aku juga setuju. Jadi bisakah, bisakah sekali saja kamu tidak ikut campur dengan masalahku?! Kamu hanya orang luar saat ini! Kita bahkan saling mengenal belum lebih dari sebulan Ya Tuhan!”
Duak
Tidak siap, tubuh Lylo terbanting kasar ke tempat tidur oleh Lion. Nafas Alpha di atasnya tersegal, menahan gejolak hatinya yang kini sungguh sangat tidak bagus.
“Katakan itu sekali lagi,” geram Lion marah. Giginya bergemeletuk keras, sama sekali bukan Lion konyol yang biasa dia kenal.
Namun Lylo juga punya harga diri. Walau tubuhnya terkunci erat oleh pegangan tangan Lion, mentalnya sendiri tidak akan pernah jatuh. Emosi keduanya sedang memuncak sekarang, dan feromone mereka malah memperburuk suasana yang ada.
Salah satu alasan kenapa pasangan Alpha jarang ditemui adalah ini. Mereka sama-sama keras kepala, dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan argumennya masing-masing.
“Kau.Bukan.Siapa.Pun.Bagiku!” bentak Lylo kasar. Dia baru saja selesai bekerja dan kini malah dihadapkan dengan omelan yang menurutnya tidak berguna ini. Oh ayolah, Lylo bahkan telah banyak mendapatkkn surat ancaman sejak dia masih kecil. Siapa bilang hidup sebagai Alpha elit itu menyenangkan? Mereka sering dianggap tiran, dan banyak orang membenci mereka sedari dulu.
Mereka juga tidak ingin, ke mana-mana selalu dikawal bodyguard seperti seorang pengecut. Namun apa daya? Yang menggerakan negara adalah mereka. Bukan seperti mereka ingin, hanya saja sistem negara memaksa mereka begitu. Kemampuan mereka begitu berguna untuk negara.
Hanya seperti itu, namun banyak orang tidak mengerti dan berakhir membenci kalangan atas sepertinya.
Kejadian selanjutnya tidak pernah Lylo sangka sebelumnya. Mata Lion semakin berkilat marah dan entah bagaimana, satu tangannya berhasil menahan kedua tangan Lylo di atas kepalanya sementara tangannya yang bebas menarik kabel lampu yang kemudian dia ikatkan pada tangan Lylo. Kaki Lylo menendang kesana kemari, namun gerakan Lion lebih lincah lagi. Lelaki itu mengikat tangan Lylo dengan cepat, menahan kakinya dengan tubuh Lion sendiri lalu mendekati wajah Lylo yang semakin memerah karena marah.
“Kamu itu milikku Lylo! Kamu dalam bahaya! Mereka bisa membunuhmu kapan pun sekarang! Membelah isi kepalamu! Memperkosamu di depan keluargamu sendiri! Tertawa mendengarkan teriakanmu dan apa yang akan kamu lakukan setelah itu?! Kamu hanya akan menyesal! Kamu akan menyesal jika semuanya telah terjadi sialan!”
Lylo berhenti meronta. Feromonenya perlahan memudar seiring dengan memudarnya juga feromone milik Lion. Keduanya masih mengatur nafas mereka yang tersegal-segal. Tidak berbicara, hanya saling bertatap mata.
“Aku pernah kehilangan mereka yang dipanggil keluarga sekali. Jangan biarkan aku kehilangannya lagi. Kamu alasan aku hidup, jangan buat aku kehilangan satu-satunya matahari yang kumiliki sekarang,” lanjut Lion lemah. Tubuhnya perlahan menyingkir dari atas tubuh Lylo. Terduduk lemas di lantai dengan tatapan kosong.
“Kamu tidak tahu seberapa kerasnya aku berusaha menjadi orang yang terkuat demi melindungimu seperti saat ini. Jangan hancurkan hidupku Lylo. Aku, kau....”
Lylo masih diam dalam posisinya. Tidak bisa bergerak, namun tidak lagi melawan sekarang.
“Lion....”
Ada jeda sejenak sebelum Lylo melanjutkan. Dia menghela nafas panjang, berusaha menenangkan suasana hatinya yang sempat berantakan.
“Apa kita saling mengenal di masa lalu?” tanya Lylo berusaha lembut. Entahlah. Hatinya sedikit tercubit mendengar ucapan frustasi Lion sebelumnya. Dia menyadari bahwa mereka berdua sebenarnya tidak berbeda jauh, sama-sama hanya ingin melindungi apa yang mereka sayang.
Tapi masalahnya, siapa Lion sampai berbuat sejauh itu untuk Lylo? Lion adalah seorang kepala keluarga Alpha elit. Sungguh konyol baginya meninggalkan nama keluarganya itu hanya untuk menjadi bodyguard lelaki sepertinya.
Kecuali, jika mereka saling mengenal sedari dulu.
“Kamu ada di sana,” jawab Lion pelan. Matanya menatap Lylo dalam, seolah memerhatikan perubahan apa saja yang terdapat dalam wajah indah itu.
“Kamu ada di sana saat p*********n menimpa keluargaku. Tidak bersamaku saat peristiwa itu terjadi memang. Namun kamu adalah penyelanat dalam hidupku saat itu,” monolog Lion gemetar.
“Hari itu adalah hari tergila dalam hidupku. Kami bersenang-senang saat pagi, tertawa saat siang dan mengalami mimpi buruk saat malam tiba.” Lion tertawa kecil. Meratapi masa lalunya yang berhasil menghantuinya tiap kali ada kesempatan.
“Aku melihat kakak perempuanku diperkosa di depan mataku sendiri. Aku melihat mereka memecahkan kepala Ayahku dengan tongkat baseball. Aku melihat Ibuku terseret dan dimutilasi setelah menangis keras diperkosa bersama dengan putrinya. Aku melihat semuanya, aku ada di sana saat semua itu terjadi Lylo," jelas Lion lirih. Matanya berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat itu. Sayang Lylo mungkin tidak dapat melihatnya.
Lylo masih terikat ingat? Lion mungkin lupa melepaskannya.
“Aku hanya seorang Alpha naif yang sombong saat itu. Aku selalu dimanjakan oleh keluargaku. Terlahir sebagai pewaris membuatku buta akan dunia kejam yang kita tempati.”
Liok meremas rambutnya kesal. Kembali meruntuki dirinya yang lemah di masa lalu.
“Aku hanya bisa menangis saat mereka membantai seluruh keluargaku dengan keji. Mereka yang membantai keluargaku hanya karena keluarga mereka kalah kompetisi dengan keluargaku dan jatuh miskin. Keluarga kami disalahkan atas ketidak becusan mereka. Bisa kamu bayangkan itu?” gumam Lion pelan.
“Polisi datang setelah semua sudah terlambat. Aku telah membunuh para b******n itu saat mereka menerobos masuk dengan senjata di tangan mereka. Aku dengan segala gejolak emosi bahkan menganggap para polisi itu adalah musuhku. Dan apa kau tahu siapa yang menghentikanku pada saat itu?”
Lylo masih setia mendengarkan. Ini fakta baru baginya.
“Kau. Di saat mereka semua menyerah untuk menenangkanku, kamu dengan mudahnya mampu membuatku tenang. Kamu meraih tanganku lembut, tersenyum dan memelukku saat aku bergetar hebat.”
Lylo bungkam. Aish, dia terlalu banyak mengingat hal sepertinya. Lylo tidak pernah ingat pernah mengalami kejadian seperti itu.
“Aku seperti melihat seorang pahlawan pada saat itu. Kamu bahkan dengan lembut menenangkanku bahkan saat kita sama-sama seorang Alpha. Aku berhasil melewati masa traumaku denganmu. Di pusat rehabilitasi, di mana keluargamulah yang mengurusku untuk sementara.”
Lion mengangkat wajahnya, tersenyum layaknya anak kecil yang naif.
“Kalian sangat baik padaku. Semua perusahaan Ayahku, keluargamu yang pegang untuk sementara waktu. Namun tidak pernah sekalipun kutemukan kalian mengambil keuntungan dari kesempatan itu. Ayahmu membebaskanku mengambil jalanku sendiri sampai aku siap. Dan di saat umurku dua belas, akhirnya aku merasa siap,” jelas Lion.
“Aku memutuskan untuk menjadi seorang intel untuk menyelidiki orang dibalik layar yang waktu itu membantu pembunuh-pembunuh itu untuk membantai keluargaku. Aku tinggal di dunia penuh darah selama beberapa tahun, hampir kehilangan diriku sendiri jika saja aku tidak kembali mengingatmu.”
Lion memperhatikan cincin titanium yang tersemat di jari manisnya. Tersenyum sendiri saat ingat kenangan masa kecilnya.
“Dulu aku sempat takut ke mana-mana sendirian. Aku takut mereka akan menemukanku lalu membunuhku sebagaimana mereka membunuh keluargaku. Aku mengamuk jika seseorang mencoba membuatku keluar ruangan, dan kamu ada di sana saat itu. Kamu tersenyum mendekatiku lalu beranjak untuk memelukku. Kamu memberikan aku cincin ini. Kamu bilang jika cincin ini sudah muat di jariku, harus kembali kepadamu. Setiap hari aku aku khawatir cincin ini tidak akan pernah muat di jariku. Sampai akhirnya, ternyata cincin ini muat juga,” ucapnya bangga.
“Aku bahkan langsung terbang dari negara bagian selatan untuk segera menenuimu. Mencarimu kembali seperti apa yang kau janjikan waktu itu.”
Penceritaan selesai. Lylo masih diam ditempatnya, samar-samar mengingat bahwa dulu dia memang pernah memberikan cincin kalungnya pada seseorang.
Seseorang itu adalah anak yang pendiam yang suram seingatnya.
Kenapa sekarang dia menjelma menjadi iblis m***m seperti ini? Lylo tidak habis pikir.
“Jadi...” Lion mendekati Lylo yang masih berbaring, tersenyum lembut menampakan matanya yang indah.
“Jangan tolak aku lagi Lylo. Kita saling mengenal sejak lama kan? Aku bukan orang asing bagimu,” ucap Lion lagi. Ruangan kembali terasa hangat tidak lama kemudian. Lylo menghela nafas mengalah. Salahnya juga tidak ingat semua ini.
Walaupun, yah. Itu bukan berarti mereka harus bertunagan juga sih.
Pusing memikirkannya, Lylo mencoba menggerakan tubuhnya agar Lion memperhatikannya.
Dia menggeram kecil saat ingat dirinya masih terikat kuat. Menolehkan kepala pada Lion, Lylo akhirnya bicara.
“Sebelum itu, bisakah kamu lepaskan tali ini? Tanganku sakit,” ujarnya dengan suara yang sedikit melembut.
To be continued