Hari ini adalah ulang tahun Della yang kelima belas tahun, biasanya Papa Della akan memberikan semua hal yang diinginkan Della. Apapun itu pasti akan diusahan sang Papa yang sangat menyayangi Della, putri semata wayangnya itu.
“Della, tok tok tok,”nampak Papa Della pagi pagi sudah mengetuk pintu kamar Della.
“Ya Pa?”Della pun membukakan pintu kamarnya.
“lagi ngapain sayang?”tanya sang Ppapa lalu mengajak Della duduk ditepi kasur.
“nggak lagi ngapa ngapain Pa, hanya siap siap ke sekolah saja,”ucap Della.
“Oh gitu, oh ya, selamat ulang tahun yang ke lima belas ya putri Papa tersayang, semoga Della selalu panjang umur, selalu diberi kesehatan, keselamatan, diberkahi hidupnya, selalu rajin ibadah, tercapai semua cita cita Della ya nak,”ucap sang Papa tulus lalu mengecup dahi Della.
“Aaammmmiiiiiinnnn, makasih Pa,”ucap Della memeluk papanya.
“Sama sama sayang, Jadi Della mau minta apa di ultah kali ini sayang? Ayo sebutin saja, Alhamdulillah perusahaan kita juga sudah muai stabil sekarang, semoga saja selalu begini,”ucap Papanya.
“Em, Della nggak minta apa apa Pa, Della Cuma pengen Papa selalu ada di dekat Della. Nggak pergi ngurus perusahaan terus, Della kan kesepian Pa,”ucap Della manyun.
“Maaf ya sayang, papa terlalu sibuk dan selalu ninggalin kamu sendirian, jadi kamu nggak mau kado apa apa nih?”tanya sang Papa lagi.
Della menggeleng.
“Pesta ultah gimana?”tanya Papa lagi.
“Ngggak usah Pa,”tolak Della halus.
“Em gitu ya udah nggak apa, em, tapi kalau makan malam aja gimana, sekalian ada yang mau Papa kenalin sama kamu?”ucap sang Papa.
“Makan malam? Kenalin sama siapa Pa?”Ucap Della tak mengerti.
“Ya sayang, ada seorang yang mau Papa kenalin ke kamu,”ujarnya tersenyum mengelus rambut Della.
“Siapa? Apa wanita? Pacar Papa?”tanya Della sedikit sedih.
“jangan sedih dong sayang, Papa sama sekali nggak lupain Mamamu kok, hanya saja, Papa rasa harus ada yang menjaga dan mengurus kamu, Papa kan sibuk sama kerjaan, kalau ada mama baru, ada yang jagain dan ngawasin kamu, lagian tante Gita temen mamamu dulu, dia orangnya baik dan ramah, Sinta juga anak yang manis,”terang Papa, berharap Della mengerti.
“Apa papa bahagia?”tanya Della.
Papa mengangguk dan menatap serius wajah Della.
“Iya sayang, nggak apa kan?”tanya papa minta persetujuan.
Della diam saja, tak menatap papanya.
“Sayang, kalau kamu belum siap nggak apa, kita hanya kenalan saja dulu,”ucap papa mengalah.
“Nggak apa kok Pa, papa juga sudah lama sendiri, Della mengerti, ajak mereka kerumah buat makan malam, biar Della bisa lebih mengenal mereka, papa silahkan melamar wanita papa secepatnya, Della nggak apa kok,”ucap Della melegakan Pak Rio.
“Makasih banyak ya sayang,”ucapnya memeluk Rio erat.
“kebahagian Della juga penting sayang, kalau Della keberatan dengan tante Gita dan anaknya bilang sama papa ya, papa nggak apa apa kalau kamu nggak siap, oke?”ucap sang papa
Della mengangguk patuh.
“ya tak sabar rasanya berkenalan dengan calon saudari baruku,”pikir Della didalam hatinya.
“Ya nggak ada salahnya papa menikah lagi, papa masih muda, butuh seorang wanita disisinya. Mama sudah lama pergi, papa pasti kesepian, toh nggak ada buruknya juga menyetujui permintaan papa,”pikir Della.
Pukul tujuh malam, tamu yang ditunggupun datang. Gita datang bersama anak semata wayangnya, Sinta. Mereka disambut dengan ramah oleh Pak Rio, ayah Della.
“Mam, rumahnya gede mam, bagus. Barang mewah semua mam, tuh tuh, liat, kursinya bagus, empuk kayaknya. Pengen liat kamarnya deh ma,”ucap Sinta setengah berbisik pada Gita yang disebelahnya juga menatap takjub rumah mewah Rio.
“Ayo kok bengong, kita langsung ke meja makan saja, ayo. Sekalian ngobrol,”ajak Rio ramah.
“Bi, panggil Della, tamu kita sudah datang,”perintah pak Rio pada salah satu asisten rumah tangga mereka.
Gita, Rio dan Sinta pun sudah duduk dimeja makan. Della pun segera turun menuju meja makan.
“Mam, itu anaknya? Wah, bajunya bagus banget ma, pasti mahal deh Ma, aku mau ma, beliin ya?”rengek Sinta setengah berbisik pada Gita mamanya, yang berusaha membuat anaknya tak merengek seperti balita.
“St.. st.. st.. diamlah Sinta, malu kalau didengar pak Rio,”ucap Gita mencoba menyuruh Sinta diam dan menutup mulutnya.
Della mencoba memakai pakaian terbaiknya untuk menyambut tamu istimewa yang ayah.
“Gita, Sinta, kenalkan, ini Della, anak saya, Della kenalkan ini tante Gita dan anaknya Sinta, usia kalian tak jauh berbeda sepertinya, iya kan?”Ucap Pak Rio memperkenalkan ketiganya.
Della mencium punggung tangan Gita dengan sopan lalu bersalaman dengan Sinta. Gita pun tersenyum tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun pada Della.
“selamat ulang tahun ya Della sayang,”ucap Gita lalu memeluk Della.
Della tersentak kaget melihat Gita langsung memeluk dan menciumnya sambil mengucapkan selamat hari ulang tahun padanya.
“Oh ya, ini kado buat kamu Della,”ucap Sinta menyerahkan sebuah kado kecil untuk Della.
“Wah terimakasih banyak,”ucap Della tersenyum bahagia.
“Ayo duduk, kita sambil makan, oh ya Della, ini hadiah papa buat kamu,”ucap sang Papa menyerahkan kado untuk Della.
"Wah Della kan sudah bilang jangan ada kado Pa,”ucap Della.
“Itu spesial sayang,”ucap Rio.
Sinta memandang dengan iri dan cemas dengan kado yang langsung dibuka Della itu.
“Wah, bagus sekali pa, makasih ya,”ucap Della membuka kado dari sang Ppapa berupa kalung bertahtakan emas berlian berwarna hijau.
“itu punya mamamu sayang, dia pasti senang kamu memakainya,”terang Pak Rio.
“Ma, aku mau juga yang begitu,”pinta Gita lagi lagi berbisik.
“Diamlah Sinta, segera setelah aku menjadi nyonya rumah ini, semuanya akan aku beli, kau tunggu saja, jangan berisik, nanti Pak Rio mendengarmu. Sabarlah. Cepat atau lambat Rio pasti melamarku,”ucap Gita yakin.
"Terus mami kasih apa ke dia?"tanya Sinta penasaran.
"Boneka teddy bear pink,"kata Gita singkat sambil melirik Rio yang membantu Della memakai kalungnya.
"What? Teddy bear?"tanya Sinta terkejut.
"sttt.. kenapa? semua anak suka dengan teddy. Mami aja masih suka kok. Kenap?"tanya Gita tak mengerti.
"Mam, dia sudah lima belas tahun, bukan bocah lima tahun, pliiis deh mom,"Sinta kesal sendiri.
"Haa? Apa yang salah?"tanya Gita tak merasa.
"Ckck, berdoa sama mam, mereka tak membuka kado dari mami sekarang, malu, aku duluan yang malu mam, mending jangan ngasih sekalian deh mam,"bisik Sinta.
Mereka pun makan malam dengan santai, sambil ngobrol. Della berusaha menyatu dengan calon keluarga barunya. Sementara Gita sangat terlihat sedang berusaha mendekati Della dan bertanya banyak hal pada Della, tentang hobbi, makanan kesukaan dan semua hal yang ingin diketahuinya. Gita malah bilang akan mengajak Della keluar jalan jalan bertiga, suatu hari nanti.
Setelah makan selesai, mereka berempat pun pindah. Duduk duduk santai ditepi kolam. Suasana langit yang cerah menambah indah suasana. Pak Rio nampak tengah duduk berdua dengan Gita. Sementara Della dan Sinta duduk berdua di ayunan didekat kolam. Keduanya hanya saling diam. Della ingin mengajak ngobrol, tapi Sinta nampak asyik dengan handphonenya.
“Gita, terimaksih sudah datang bahkan membawakan Della kado,”ucap Rio.
“Ah mas ini, untuk apa berterimakasih, itu hanya hadiah kecil untuk Della mas, sudah sewajarnya yang berulang tahun mendapatkan kado hadiah”ucap Gita tersenyum.
“Em, Gita, apakah ini terlalu cepat? Aku ingin sekali segera menikahmu. Tapi Dela..,”ucap Rio berhenti bicara.
Gita terkejut sekaligus senang mendengar kata menikah dari Rio.
“Tapi Della mengapa Mas? Apa Della keberatan?”tanya Gita.
Rio menggeleng.
“Tentu tidak, aku hanya takut Della kecewa saja. Gita apa kau bisa menganggap Della sebagai anakmu juga jika kita menikah nanti?”tanya Rio.
“Tentu saja mas, tentu aku akan menganggap Della seperti anakku sendiri. Della akan kusayangi dan ku perlakukan sama seperti Aku memperlakukan Sinta tentunya,”ucap Gita mencoba mendapat kepercayaan Rio.
Rio menatap Gita, mencoba mempercayai ucapan Gita dan menatap matanya mencari kejujuran dan kesungguhan disana. Tapi, Rio masih ragu. Dirinya takut terlalu terburu buru dan malah mengecewakan Della.
“Em, maaf Gita, aku belum bisa menikahimu dalam waktu dekat ini seperti yang kau mau. Tapi, bukan berarti kita tak akan menikah. Cobalah mengenal Della dan mendekati Della dan anggap dia seperti ankmu. Tak ada salahnya juga kau mendekatkan Della dan Sinta. Biar bagaimana pun juga mereka berdua akan menjadi saudara. Dan pastinya kalian akan tinggal bersama, jadi berusahalah untuk dekat dengan Della. Kau bisa kan?”tanya nRio.
Gita sedikit kecewa, tapi Gita berusaha tersenyum.
“Ya mas, tentu saja. Pendekatan. Begitukan maksud Mas? Tenang saja mas, aku dan Sinta pasti bisa dekat dan cepat akrab dengan della. Mas sudah lihat sendiri kan tadi?”tanya Gita.
Rio hanya mengangguk.
“Huh.. pendekatan apanya? Mengapa tak langsung saja menikah? Untuk apa buang buang waktu. Dasar menyebalkan!”maki Gita dalam hatinya. Namun mulutnya penuh senyum didepan Rio.
Rio lalu mengajak pindah dan mendekati kedua putri mereka yang asyik sendiri itu. Sinta syik dengan hapenya sementara Della nampak melamun menatap air kolam.
“Hei, kok pada diem dieman,”sapa Rio mengegetkan keduanya lalu mengajak keduanya ngobrol.
“Aku harus secepatnya mendekati Della dan mengambil hatinya. Bila perlu biar ku buat Della sendiri yang meminta pada ayahnya agar cepat cepat menikahiku, lihat saja,”ujar Gita sendiri dalam hatinya, lalu berbaur dengan ketiganya yang nampak sedang tertawa tawa mendengar lelucon dari Pak Rio.