Synda langsung menolehkan kepala ke sosok sang mantan kekasih. Mata semakin didelikkan untuk menunjukkan ketidaksukaannya pada Alexander. Ya, tentang cara pria itu berucap. Ditambah dengan kata-kata yang dilontarkan oleh mantan kekasihnya itu ke Maxel, terkesan angkuh dan menantang. Andai hanya mereka berdua saja berhadapan, ia sudah pasti akan meluncurkan balasan tidak kalah pedas. Kalimat-kalimat kritikan menusuk juga. Sayang, kondisi tak memungkinkan. Terlebih lagi, Maxel sedang bersama mereka. Synda enggan menampakkan kesan buruk di hadapan pria itu. Ia masih menjaga imej dan juga harga dirinya. “Baiklah, biarkan Synda memutuskan.” Alexander tidak menjawab celotehan Maxel. Ia bahkan sudah melepaskan tatapan dari pria itu. Dialihkannya ke sosok sang mantan kekasih. Memandang d

