5 - Membantu Mantan

338 Kata
"Aku bisa berjalan sendiri. Kepalaku tidak terlalu pusing. Jadi, kau tidak perlu jug--" Synda segera menangkap tubuh Alexander yang baru beberapa detik lalu dilepaskan dari pegangannya. Ia tidak ingin sampai pria itu terjatuh ke lantai. Walau, bukan masalah yang mudah juga menghadapi penolakan pria itu untuk diantarkan ke dalam kamar. Dirinya pun cukup keberatan. Namun, tidak mungkin mengingkari janji yang sudah ia buat pada Aldora Adams. Synda menepati apa yang sudah dikatakan. Dan, diabaikan status di antara dirinya dan Alexander. "Lepaskan aku. Tadi, sudah aku bilang jika aku bisa ke dalam sendiri. Kau bisa pe--" "Bisakah kau jangan terus bersikap seolah kau tetap kuat? Kau mabuk. Kau tidak akan bisa berjalan sendiri ke kamar dengan baik. Kau hanya perlu diam," potong Synda cepat. "Jika kau terus menolak bantuanku. Paling kau akan sering terjatuh ke bawah dan kau pasti mencium lantai," imbuh wanita itu. Kemudian, dihelanya napas. Ia berupaya tak semakin emosi dan kesal akan sikap yang ditunjukkan oleh Alexander. Synda merasa sudah cukup menunjukkan lewat ucapan dengan kata-kata pedasnya. Dan, percuma juga jika berujar panjang lebar. Alexander sedang mabuk. Tidak akan mampu pria itu dengan baik meresapi sindirannya. "Aku mau menciummu saja bagaimana? Kau rasanya jauh lebih hangat daripada lantai." Tubuh Synda seketika menegang. Namun, tak dilepaskan pegangan pada lengan kanan Alexander. Bahkan, saat pria mendekatkan wajah dan melingkarkan tangan dengan erat di pinggang, Synda hanya bisa diam saja. Ia tak melakukan perlawanan apa-apa. Ucapan sang mantan kekasih masih tergiang di kepalanya hingga detik ini. Synda tentu berupaya mengabaikan juga, tetapi pikiran tak bisa diajaknya untuk bekerja sama. "Kenapa kau diam? Apa kau setuju jika aku menciummu? Sudah lama kita berdua tidak berciumanan, semenjak kita bukan menjadi pasangan kekasih lagi. Hampir saja e--" "Berhentilah bicara yang tidak masuk akal. Kau mabuk. Kau akan kehilangan kendalimu dalam berbagai hal, termasuk bicara." Synda memotong dengan nada yang pedas. "Lebih baik kau berhenti bicara. Mulutmu itu dibungkam saja. Tidak protes apa pun tentang pertolongan yang akan aku berikan. Kau jangan menolak kebaikan orang. Tidak melihat dari status ataupun gender."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN