“Apakah kamu, Margareth Sutedja menerima Jay Corbendictus Collin, sebagai suamimu yang sah, untuk memiliki dan bersama mulai hari ini dan seterusnya, dalam baik, buruk, kaya, miskin, sakit dan sehat hingga maut memisahkan.” Margareth menarik nafas panjang dan mengarahkan pandangannya ke arah Jay. Ia menatap lekat wajah tampan itu, tanpa ia sadari air matanya mengalir melalui kedua matanya. “Saya tidak bersedia,” ujarnya lirih. Margareth telah kalah, ia akan menerima kekalahannya. Margareth tidak bisa bertindak egois walaupun ia ingin, ia terlalu lemah karena cintanya. Nyatanya, senyuman Jay adalah hal terindah baginya dan ia tidak ingin menghancurkan senyuman lelaki itu. Jay mengarahkan pandangannya ke arah Margareth dan menatap wanita itu dengan nanar. Ia mencengkram kedua lengan wanita

