"Bintang." Suara lembut yang sangat tidak asing buat Bintang terdengar. Kepalanya menoleh cepat hingga matanya bersitatap dengan wanita di hadapannya. Wanita ini, Aurora. "Aurora? Kau... menunggu bus?" "Ya. Bagaimana denganmu? Bukankah biasanya kau mengendarai mobil?" Aurora terlihat seperti biasa. Memakai pakaian biasa, tanpa aksesori tambahan apapun, dan masih dengan senyum ramah yang sama. "Mobilku... dia sedang penat. Tidak ingin ikut denganku pulang ke rumah. Dia ngambek." Bintang tidak bermaksud bertingkah seperti anak kecil. Tapi otaknya benar-benar tidak bisa berpikir dengan benar sekarang. Mengetahui bahwa orang di sekitarnya adalah Aurora, dia sedikit rileks dan menjadi terbuka begitu saja. Aurora tertawa kecil melihat bagaimana Bintang menanggapinya. "Bukankah kau ju

