Flashback
Pukul 01.01 dini hari Ema baru bisa pulang ke apartemennya setelah berbincang cukup lama dengan anggota keluarga yang lain nya. Tapi Ema patut bersyukur karena adik dan juga ponakan nya selamat. Ya adik nya baru saja melahirkan dan masih belum sadarkan diri tapi adik nya baik-baik saja masa kritis nya sudah lewat.
Ema pulang karena semua anggota keluarga bergantian menjaga, Ema memang sudah ingin pulang dari tadi karena badan nya sudah sangat lengket hanya saja ia tau tata Krama jadi ia menunggu giliran menjaga Aletha.
Sial
Ema mengumpat karena mobil nya berhenti mendadak.
Mau tak mau Ema harus turun dan mengecek ada masalah apa pada mobilnya.
Ema sama sekali tidak mengerti tentang mobil, jadi dari pada dia salah ema menelpon salah satu montir langganan nya.
Lima menit ema menunggu tapi montir yang ia telpon belum juga datang, membuat Ema menjadi sangat kesal.
Tok..tok..
Ema membuka kaca mobil nya melihat siapa yang baru saja mengetuk pintu mobil nya.
"Ah, kau orang suruhan montir itu" kata Ema turun dari mobil nya.
Ema meneliti kedua orang yang berdiri dihadapan nya saat ini.
"Kalian montir itu kan? Dimana alat-alat kalian?" tanya Ema bingung karena memang mereka hanya membawa barang-barang bengkel. Atau jangan-jangan sebenarnya mereka bukan montir yang ia telpon tadi.
"Mau apa kalian!?" ujar Ema melipat tangan nya didada.
"Ternyata kau pintar juga nona, ahahha" kata salah satu dari mereka tertawa meremehkan Ema.
"Pintar adalah nama tengah ku kalau kalian mau tau" jawab Ema membuat tawa orang itu terhenti.
"Selain pintar kau juga sombong nona" Satu nya lagi menyahut.
"sombong sangat diperlukan untuk orang kaya seperti aku"
"banyak omong juga ternyata nona cantik ini"
"serahkan semua barang berharga nona jika ingin nyawa mu selamat"
"sayang sekali aku tidak akan memberikan apa pun pada kalian" jawab Ema santai membuat kedua orang itu naik pitam.
"Kau tidak sayang pada nyawa mu hah!" bentak salah satu nya.
"Kau tau nyawa ku ada dua, lawan aku jika kau bisa. Maka akan ku tunjukan siapa aku sebenarnya"
"Jalang ini" ujar nya geram lalu mulai menyerang Ema. Ema menangkis serangan dan melintirkan tangan itu hingga salah satu nya berteriak kencang.
"Ck, segini saja kekuatan mu?" tanya Ema meremehkan lalu melempar orang itu asal.
Satu orang lagi mulai menyerang Ema tapi lagu-lagi orang itu tidak bisa melawan Ema ralat melawan Ami.
Kedua orang itu lari kocar-kacir membuat senyum remeh Ema terbit.
Ketika Ema akan menelpon taksi tiba-tiba saja ada sepuluh orang datang menghampiri nya, dua orang sisa nya adalah orang yang di kalah kan oleh Ema tadi.
"Ck. Ini boss kalian, boleh lah" kata Ema mulai mengerti posisi.
"Bodoh, kalian kalah dengan satu wanita ini!" bentak boss mereka marah.
"Benar mereka sangat bodoh, kau pecat saja jadi anak buah mu. Itu pun jika kau pintar" kata Ema membuat boss mereka jadi tambah marah pada Ema.
Boss itu mencoba menendang Ema tapi emang berhasil mengelak, alhasil boss itu hanya menendang angin saja.
Dengan gerakan cepat ema langsung balas menendang boss itu hingga terpental ke aspal.
Ema mendekati boss itu lalu berkata.
"Ternyata kau lebih bodoh dari mereka, cih" kata Ema meremehkan lalu meludahi boss itu.
"Kau jalang sialan, kalian tunggu apa lagi serang dia. Pastikan nyawa wanita itu tidak ada lagi!"
Semua mulai menyerang Ema, Ema jadi kewalahan mengahadpi mereka semua.
Bukkk
Ema tersungkur diaspal, perut nya terasa sangat sakit. s**t, tendangan nya kuat sekali.
Saat orang yang menendang Ema akan menyerang kembali seseorang lebih dulu menerjang orang itu.
"Hei bung, tidak malu dengan jenis kelamin? Bisa-bisa nya sepuluh orang menyerah satu orang wanita, cih" ujar Nial mendecih.
"Siapa kau Hah!?"
"Nial"
"Serang bodoh!" perintah boss mereka menginstruksikan
Nial yang sudah siap pun menerima serangan demi serangan, tidak sampai lima menit sepuluh orang mampu ia buat terkapar berserakan diaspal.
"Temui aku jika kalian sudah mengganti jenis kelamin" ujar Nial sambil memgipas-ngipas jas kerja nya.
Ami menjadi merasa spesial, ia menghampiri Nial. Ami segera menghapus pemikiran nya.
Didalam kamus Ema mau maupun Ami tidak ada hutang budi. Mereka harus membalas suatu perbuatan mau baik atau buruk sekali pun.
Ema mengikuti Nial yang masuk kedalam mobil lebih dulu.
"Kau kenapa kau disini?" tanya Nial jantung nya hampir copot ketika menyadari Ema duduk disebelah nya.
"Mobil ku tidak bisa hidup kalau kau mau tau"
"Aku tidak mau tau"
"kau harus tau, mangkanya aku disini"
"terserah saja" ujar Nial kemudian.
Ema tidak bertanya kemana akan pergi nya mereka toh yang membawa mobil bukan dirinya.
Mobil Nial berhenti disebuah club malam terkenal. Ema mengerutkan kening nya lalu mengikuti Nial.
Ema memperhatikan Nial dari jarak 10 meter, ia menatap miris Nial yang sudah mabuk sekarang. Entah berapa botol bir yang telah ia telan.
"Merepotkan saja" ujar Ema berjalan menuju Nial.
Dengan kekuatan penuh Ema memapah Nial hingga sampai ke mobil
"Kau berat sekali sialan" ujar Ema kesal.
"Kenapa kau membawa ku keluar, aku belum mabuk" ujar Nial menggerutu kesal.
"belum mabuk apa nya? Ternyata patah hati bisa membuat orang lain jadi bodoh" ejek Ema mulai menjalankan mobil.
"Maukah kau membantu ku melupakan Aletha?"
Ema melirik kearah nial sebentar lalu menepikan mobil nya
"Baiklah, mulai hari ini kita sepasang kekasih. Maka aku akan membantu mu melupakan adik ku" ujar Ema mencium bibir Nial.
Nial membalas ganas ciuman dari Ema, mereka saling melumat hingga kehabisan nafas.
setelah mengantar Nial pulang, Ema menatap diri nya didepan cermin.
"Kau gila Ami, kenapa kau mau menolong nya. Astaga" ujar ema kesal pada ami.
"kita tidak boleh berhutang Ema, lagian seperti nya Nial pria yang manis"
"Aku tau, jangan-jangan kau menyukai nya. Iya?"
"Tidak, kau tau kan aku hanya sisi mu mana mungkin aku menyukai nya. Paling suatu saat kau yang akan jatuh cinta pada nya" jawab Ami hilang dibalik cermin
"Ami sialan"
Tbc