"Bagaimana? Gagal lagi?" ujar wanita paruh baya yang tengah sibuk membersihkan benang pakaian, di sampingnya ada setumpuk pakaian baru dijahit dari konveksi tetangga. Itu adalah pekerjaan sampingan lain yang ia kerjakan.
Gadis itu menghela napas, baru saja masuk ke rumah sudah diberi pertanyaan mengenai hasil psikotest hari ini. Sepertinya dia akan digempur habis-habisan.
"Ini sudah keberapa kali?" tanyanya lagi tak mengharap jawaban. Sebab anaknya mungkin sudah ratusan kali ditolak bahkan saat tahap awal melamar pekerjaan. "Kali ini karena apa, Na? Berat badan tidak ideal? Kamu harusnya evaluasi diri setiap kali gagal tes kerja. Bukannya malah makan tidur dan bermalas-malasan," omelnya tanpa menatap wajah lesu anaknya.
Hana memutar bola matanya, menatap adiknya yang tengah bersantai di atas sofa dengan sebungkus kentang goreng di tangannya.
Anak lelaki yang merasa diperhatikan itu ikut menimpali, dia melirik kakaknya sekilas dan menunjuk artis yang tengah tampil di televisi. "Lihat, Kak! Kalau kakak bisa seramping dia, Deka yakin, Kakak nggak bakalan jomlo dan nganggur seumur hidup!" ujarnya agak menggebu.
Hana dan ibunya ikut melihat layar yang menampilan tayangan sinetron. Di sana seorang gadis cantik nan sempurna dengan akting luar biasa kaku. Hana melihatnya dengan aneh.
"Andai menurunkan berat badan bisa semudah tidur seharian tanpa makan," gumam Hana yang didengar Dika.
"Bisa, kok! Mau coba? Asal besok bangun pagi! Aku kasih tau caranya." Dika berbicara penuh semangat.
Hana meragukan ide yang dipikirkan dalam kepalanya. Meski anak itu kreatif, tapi terkadang memberikan hal-hal absurd. Pernah Hana di ajak membuat sarang nyamuk dan rumah semut karena suka menggigitnya. Hana pikir itu cuma gurauan, tapi benar-benar dibuat oleh Dika. Dasar kurang kerjaan!
Padahal Dika mahasiswa semester akhir, tapi dia tidak pernah terlihat seperti mahasiswa pada umumnya. Dika melakukan hal-hal yang ia sukai dan belajar adalah nomor seribu dalam hidupnya. Artinya, dia tidak pernah suka belajar. Amat kontras dengan kakak keduanya.
"Rini belum pulang?" tanya Hana saat menyelinap ke kamar adik perempuannya yang rapi. Kamar itu mungil, hanya ada satu single bad dan lemari beserta meja kecil. Lalu ada rak besar seperti pembatas yang berisi buku-buku koleksi Rini.
Dulunya, mereka satu kamar. Setiap hari bertengkar dan Rini mengeluh dengan kelakukan Hana yang tidak bisa diam saat tidur. Jadilah, ayah mereka membagi satu kamar itu menjadi dua. Pembatasnya adalah rak besar untuk Rini yang hobi membaca buku.
Suara desingan motor terdengar, Hana menduga adiknya pulang. Dia segera mengambil apa yang ia cari lalu masuk ke kamarnya sendiri.
***
Sofa usang di ruang tamu adalah tempat favorit Dika. Alasannya karena busa lebih empuk dari kasur mana pun yang ia temui. Pagi ini pun dia terlihat di sana, merebahkan diri dan tertawa membaca tulisan yang terpampang di layar ponselnya.
Rini yang sudah siap kerja menyapa adiknya itu. "Kamu baca apalagi? Masih novel minggu lalu itu?"
"Ya! Ini seru banget, Kak! Tipe cewek polos yang lagi belajar dandan," sautnya semangat. Cerita itu memang sudah biasa, tapi kali ini memiliki plot unik dengan tokoh yang mengundang tawa.
Perempuan berparas ayu itu menggeleng mendengar ucapan adiknya. "Kamu lihat eyeliner Kakak nggak?" Dia mencari di sudut ruangan.
Dika menggeleng tak tahu. "Kemarin Kak Hana masuk ke kamar Kakak," adunya lugu.
"Apa?" pekiknya terdengar marah. Dia benci privasinya diganggu dan barang miliknya dipinjam orang lain. "Di mana anak itu?"
"Olahraga."
Hana benar-benar mendengarkan ide Dika. Gadis itu keluar kamar dengan dua mata panda saat pagi masih agak gelap. Baju olahraga berwarna tosca melekat di badannya yang berisi. Dika menyiapkan sebuah sepeda tua dengan barang di belakang kemudi.
"Hanya bersepeda? Itu terlalu mudah dan nggak akan berhasil!"
Kepala Dika menggeleng. "Coba dulu, Kakak tahu kan taman yang akan dibangun di ujung jalan sana?" tanyanya memastikan kakaknya yang selalu dalam rumah itu mengerti. "Bawa barang ini ke tukang bangunan di sana ya? Harus sampai sana!" Tangan Dika menepuk sekantong barang yang entah berisi apa.
Dika memberikan sepeda itu dan betapa terkejutnya Hana dengan berat yang harus ia bawa.
"Semangat Kak Hana!" Dika memberikan gerakan tangan untuk menyemangati kakaknya yang menyesal mengikuti arahan Dika.
***
Akan ada taman indah satu-satunya di kota ini. Taman itu dibangun atas inisiatif para tetua karena sedikitnya tempat untuk berkumpul tanpa polusi. Nantinya taman itu bisa digunakan untuk berbagai kegiatan yang membutuhkan area terbuka.
Hanya dengan membayangkan betapa luasnya taman yang akan dibangun, Hana berusaha untuk terus mengayun pedal sepedanya. Bulir-bulir keringat mulai menetes di pelipisnya. Berat tubuhnya hampir mencapai 80kg dan karung di belakang joknya seberat tubuhnya. Dengan kesusahan dia terus melaju saat melewati belokan. Dari gang terdekat, sebuah mobil akan masuk ke jalan raya. Dia menunggu Hana melewatinya.
Suara ledakan membuat beberapa orang terkejut, termasuk Hana yang kehilangan keseimbangan tepat di depan Mobil berwarna silver itu.
Tubuhnya terjatuh di atas trotoar, bebatuan yang agak besar berserakan di tangah jalan. Rupanya karung itu berisi bebatuan.
Orang-orang di sekitar mendekat untuk melihat kondisinya. Dari pintu berwarna abu itu, seorang lelaki tampak necis mengenakan kemeja senada. Badannya tegap dan terlalu tinggi.
Rasa malu yang menyeruak membuat gadis berwajah pucat itu mencoba untuk menutup matanya. Meski hanya berpura-pura, ia benar-benar pingsan saat mencoba menggapai tangan yang akan menolongnya.
Dia menggumam, "Pangeran berkuda putihku..."