Demand

1806 Kata
Sepanjang malam Mikaela sama sekali tak bisa tidur karena memikirkan soal Marcel yang ingin menceraikannya. Pikirannya sama sekali tidak tenang. Dia pun terbangun untuk menenangkan pikirannya dengan minum air mineral. Dia sudah lama tidak mengonsumsi obat anti depresannya karena berpikir keadaan sudah jauh lebih baik. Ternyata, keadaan jauh lebih buruk daripada dugaannya. Mikaela tahu, semua ini memang salahnya karena tak mau jujur karena terlalu takut. Dia tidak mau kehilangan cinta dari Marcel. Tapi sekarang, Mikaela malah akan benar –benar kehilangan pria yang dia cintai itu. “Oee! Oeee!!” Suara tangisan bayi mengalihkan atensi Mikaela. Dia langsung saja melangkah ke ruang bayi untuk memastikan siapa yang menangis di tengah malam begini. Saat membuka pintu, satu dari tiga bayi menangis. Dua adalah anaknya Mikaela dan satu lagi anak kakak iparnya. Mikaela menghampiri bayi yang menangis itu dan melihat yang menangis adalah bayi laki –lakinya. “Shhh! Sayang!” Mikaela langsung meraih bayi itu dengan lembut dan menenangkannya. Naluri seorang ibunya langsung membuat dirinya ingin menenangkan anak itu. Dia mengayun –ayunkan bayi itu dan berpikir untuk menyusuinya. ‘Sejak awal, aku belum pernah menyusui si kembar ya? Astaga! Aku ini kenapa bisa sekejam ini?’ batinnya langsung cepat duduk dan menyusui sang bayi. Untuk pertama kalinya, bayi itu menyusu padanya dan Mikaela meneteskan air matanya. Dia seorang ibu! Dia dengan bodohnya berpikir kalau anak ini sudah merusak kebahagiaannya. Yang salah bukan anaknya tapi orang tuanya. Pria itu, Ares Pratama. Ayah dari kedua anak kembar itu. “Tadi aku mendengar suara tangisan?” Suara Anye mengalihkan perhatian Mikaela. Wanita itu berbalik dan dengan cepat membenarkan bajunya. Untung saja, bayi laki –laki itu sudah selesai menyusu dan tertidur dengan pulas. “Kaela? Kamu yang menyusui anakmu? Ah, syukurlah kamu tidak berpikir pendek lagi. Kamu memang hanya perlu waktu untuk menenangkan diri.” Anye menunjukkan wajah lega saat Mikaela mulai memerhatikan anaknya. Dan setelah selesai menyusui bayi laki –lakinya, Kaela meletakkan bayi itu kembali ke box bayinya. “Kak, aku sudah membuat keputusan yang bulat!” Mikaela kemudian bicara dan Anye memasang ekspresi siap mendengarkan. “Aku akan membebaskan Ares dan memberi anak –anak ini kepadanya. Aku akan terus merawat mereka saat berada bersamaku. Tapi setelah Ares benar –benar bebas, aku akan menyerahkan mereka dan kembali pada Marcel!” Mikaela mengutarakan sebuah pernyataan yang membuat Anye sangat terkejut. “Ka –kamu tidak mau merawat anak ini? Kalau begitu, biar Kakak saja yang rawat!” ujar Anye merasa keputusan Mikaela sangat terburu –buru dan tidak stabil. “Tidak, Kak! Kalau aku tak bisa memberi kasih sayang kepada mereka, maka biar saja ayahnya yang menjaga mereka. Ini sudah menjadi keputusanku!” putus Kaela lalu keluar dari ruangan bayi. Anye sama sekali tak menduga pemikiran Mikaela yang masih sangat berharap pada Marcel. Anye merasa kalau harusnya Mikaela fokus dengan kedua anaknya dulu dan tidak udah memikirkan masalah pria –pria bermasalah seperti Marcel ataupun Ares. ‘Kaela! Kamu akan sangat menyesal kalau suatu saat anak –anakmu tidak mengenali dirimu,’ batin Anye sangat miris dengan pemikiran Mikaela yang sangat dangkal untuk saat ini. *** Besoknya, Mikaela merasa keadaannya sudah jauh lebih baik. Dia sama sekali tak mau menunda –nunda segalanya apalagi sampai surat ceria dari Marcel tiba di hadapannya. Dia akan menyelesaikan segalanya hari ini juga! Menyerahkan si kembar dan kembali pada Marcel. Dia pikir, semuanya akan semudah itu. Sayang sekali, pikiran Mikaela terlalu singkat dalam menilai sesuatu. “Kaela, keadaan kamu masih belum stabil. Kamu mau ke mana?” tanya Heinry kepada sang adik yang terlihat sudah bersiap akan keluar dari mansion. “Hanya pergi sebentar, Kak!” jawab Mikaela dengan senyuman palsunya dan langsung mengambil mobil untuk keluar dari mansion. Yang lain hanya terdiam termasuk Adinata dan Anyelir. “Mikaela dari dulu memang selalu keras kepala ya? Dia berencana untuk benar –benar memberi hak asuh si kembar kepada Ares.” Anye memberi tahu kepada Heinry dan Adinata. Hal itu jelas mengejutkan kedua Djuanda itu. “Apa? Dia melakukan itu semua? Secepat ini?” Heinry semakin tak mengerti dengan jalan pikiran sang adik dan Adinata hanya terdiam tanpa berkomentar. Dia sudah angkat tangan dengan sikap Mikaela. “Mungkin, memang hanya Ares yang bisa memberi kasih sayang yang sesungguhnya kepada si kembar. Lihat saja, apa Mikaela akan benar –benar bahagia melakukan ini.” Adinata berujar dengan nada kesal dengan tingkah putri yang selalu dia sayangi itu. Sayangnya, sikap Mikaela kini masih diliputi oleh emosi yang tak stabil. Tak terasa, Mikaela sampai di Penjara kelas I tempat Ares dipenjarakan. Walau tak pernah sekalipun mengunjungi pria itu, dia tahu semua berita ini dari Papanya sejak lama. Ia menarik napasnya dalam –dalam dan mengatakan kepada petugas lapas untuk bertemu dengan Ares. Ia langsung duduk di ruang besuk dan memerhatikan sekitar. ‘Ini penjara koruptor! Cih! Dia tak benar –benar menderita ternyata!’ kesal Mikaela dalam hatinya. Ya, Ares punya banyak uang dan bisa menyuap aparatur sipil Negara dengan mudahnya. “Kaela? Apa aku tak salah lihat?” Mikaela mendengar suara itu dan langsung berbalik. Tatapannya dan Ares kini saling bertemu satu sama lain setelah sekian lama. ‘DEG!’ Mikaela merasakan debaran di dadanya karena sedikit terkejut melihat pria itu. Dia kembali memasang wajah datarnya dan menyiapkan mental untuk bicara dengan Ares. “Ternyata itu dirimu. Kamu kelihatan masih sama seperti kemarin. Tetap menawan dan sangat indah. Ada keperluan apa?” tanya Ares dengan ramah setelah memuji Mikaela. “Ares, kau sekali penipu tetap penipu ya? Hukuman sepuluh tahun penjara sudah termasuk ringan, tapi kau memilih penjara VIP. Kau pembohong!” ujar Mikaela sebagai balasan kepada Ares. Pria itu menarik senyumannya dan membalas,” Kamu mau aku pindah ke lapas biasa? Baiklah kalau itu maumu. Hanya saja, di sana banyak sekali berandalan yang memancingku main kekerasan. Mereka itu suka mengganggu!” Jawaban Ares membuat Mikaela menghela napasnya. “Bukan itu! Aku ke sini untuk mencabut tuntutanku dan membebaskanmu!” kata Mikaela membuat Ares langsung membelalakkan matanya. Dia tak percaya dengan perkataan Mikaela saat ini. “Kurasa, pikiranmu sedang kacau ya? Ada apa sampai kau ingin membebaskan orang yang sangat kau benci ini?” Ares mempertanyakan pernyataan Mikaela sebelumnya. “Karena aku mau hidup tenang! Sebenarnya, aku sudah mengandung saat pulang dari Boston dan itu adalah anakmu.” Mikaela memberi tahu kebenarannya dan membuat Ares semakin tak menduga! “Aku …punya anak? Di mana anakku, Kaela? Perempuan atau laki –laki? Apakah anakku sehat?” tanya Ares dengan perasaan menggebu –gebu saat mengetahui dia punya keturunan. Pria itu tersenyum dan pancaran matanya benar –benar menunjukkan kebahagiaan yang luar biasa. “Mereka sehat. Kau punya sepasang anak kembar. Jadi, aku ke sini adalah untuk membebaskanmu sekaligus memberi hak asuh si kembar padamu. Marcel tak mau menerima anak itu dan mengancam akan menceraikan aku.” Mikaela menjelaskan segalanya. “Sepasang anak kembar ya? Ah, aku ingin sekali melihat mereka. Tapi, kau serius menyerahkan keduanya padaku? Aku sama sekali tak masalah. Malahan, aku sangat bahagia. Tapi aku tak menduga, Mikaela bisa membuang anaknya seperti ini,” ujar Ares dengan nada sedih karena Mikaela yang seakan tak menginginkan anak yang sudah dia lahirkan sendiri. Dan langsung menyerahkannya kepada Ares dengan mudahnya. “Membuang katamu? Kalau membuang, aku sudah menitipkan mereka ke panti asuhan! Aku tahu, kalau mereka tak bersalah dan layak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Posisiku sulit, Ares! Aku ingin hidup tenang dan bahagia dengan Marcel! Dan jalan satu –satunya hanya ayahnya! Kau ayah mereka, Ares! Justru karena aku sangat sayang kepada mereka, aku membebaskanmu!” jelas Mikaela membuat Ares terdiam. Pria itu menghela napasnya dan kembali menatap Mikaela. Dia melihat gurat kerisauan di wajah Mikaela seakan banyaknya rasa takut yang dimiliki oleh wanita itu. “Maaf, ini semua memang salahku! Terima kasih sudah memberiku kesempatan sebagai seorang ayah,” kata Ares pada akhirnya. Mikaela menganggukkan kepalanya dan langsung menandatangani surat pernyataan untuk membebaskan Ares tanpa syarat. Dan mulai detik itu, Ares sudah bebas dari penjara dan bukan lagi seorang narapidana. Pria itu melangkahkan kakinya untuk keluar dari penjara. “Aku akan langsung ke mansion Djuanda untuk menjemput kedua anakku,” kata Ares hanya dibalas anggukan oleh Mikaela. Dan setelah itu, Mikaela kembali juga. Mereka sama –sama datang ke mansion Djuanda dengan kendaraan yang berbeda. Mikaela langsung masuk dan kebetulan yang ada di dalam rumah hanyalah Anyelir. Dengan cepat, Mikaela menggendong satu bayinya dan meminta seorang perawat menggendong yang satunya lagi. “Mama? Adiknya Selena mau dibawa ke mana?” tanya Selena saat melihat Mikaela menggendong bayi itu untuk keluar dari kamarnya. “Nak, adiknya Selena akan dirawat oleh uncle Ares. Kamu main dulu sama Tasya ya?” jawab Mikaela dan berharap Selena tidak banyak bertanya lagi. Tapi gadis kecil itu terus memerhatikan Mikaela yang membawa kedua adiknya yang baru saja dia lihat tadi pagi. “Kaela, kau benar –benar tidak basa –basi?” Anye bertanya sekali lagi. Tapi Mikaela hanya membuang muka dan melanjutkan langkahnya. Ares sudah berdiri dan melihat Mikaela yang membawa anaknya. Pria itu tak bisa menahan dirinya dan langsung menghampiri Mikaela untuk meraih bayinya. “Anak yang sangat cantik! Dia mirip denganmu ya?” ujar Ares saat melihat wajah cantik bayi perempuan itu. dia menciumi wajah sang bayi dengan penuh kasih sayang. Saat melihat itu, perasaan Mikaela langsung tersentuh dan dia meneteskan air matanya. ‘Ares ternyata akan sangat menyayangi anaknya,’ batin Mikaela. “Namanya Haniel Pratama Simon! Putri kecilku yang sangat cantik!” Ares tanpa basa –basi memberi nama yang indah untu bayi perempuannya. Mikaela tak berhenti memerhatikan Ares yang terus tersenyum memandangi wajah Haniel. Setelah memberi kecupan, Ares meletakkan Haniel di box bayi yang dibeli oleh bawahannya tadi. Ya, dia sempat menyuruh mereka semua membeli dua box bayi sekaligus banyak perlengkapan bayi untuk di mansionnya. Dia tak mau anak –anaknya sampai kekurangan. Dan setelah meletakkan Haniel, dia meraih sang bayi laki –laki. “Wah! Yang ini benar –benar seperti figure diriku. Dia harus seperti ayahnya yang kuat! Raphael adalah nama yang bagus buatmu, Nak! Raphael Pratama Simon!” Ares memberi nama lagi untuk si bayi laki –laki dan mengecup dahi Raphael dengan kasih sayang yang luar biasa. ‘Kalian mendapatkan kasih sayang yang seharusnya, Haniel dan Raphael!’ batin Mikaela tanpa sadar meneteskan air matanya. “Kaela, aku akan membawa mereka ke Boston setelah urusanku di sini selesai. Kalau nanti kamu mau mengunjungi mereka, katakan saja padaku. Aku takkan membuat mereka melupakanmu.” Ares berkata dan hanya diangguki oleh Mikaela. Pria itu tersenyum singkat dan berbalik untuk pulang dari mansion Djuanda. Mikaela sudah benar –benar menyerahkan kedua bayi kecilnya yang baru lahir kepada Ares. Anak –anak yang dia jaga di dalam rahimnya selama sembilan bulan dan harus dia lepaskan. “Kaela, kamu takkan benar –benar bahagia kalau begini! Tidak akan!” Anye berujar lagi. Mikaela yang perasaannya belum stabil melihat ke arah Anye. Pandangannya berkunang dan akhirnya dia kehilangan kesadarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN