Terkadang kita takut akan masa depan karena pemikiran kita yang selalu memikirkan banyak hal buruk. Ketidaktahuan dan ketidakpastian akan masa depan lah yang membuatmu takut untuk menyambut hari esok. Manusia kerap takut akan hal yang tidak mereka ketahui, membuat orang kerap mengambil langkah yang penuh denga keraguan. Padahal, di dalam hidup kau harus berani mengambil resiko. Terkadang, kau harus berjudi di dalam hidup ini, mempertaruhkan semua yang kau miliki tanpa tahu bagaimana hasil yang akan kau terima.
Kiran terbangun di dalam pelukan Nino. Kenyamanan yang pria itu bagikan tadi malam, membuatnya mampu tidur lelap setelah sekian lama. Begitu banyak hal dari Nino yang tak diketahui Kiran. Namun satu yang pasti, pria itu adalah seorang pria yang baik. Begitu lama bersahabat bersama Nino, membuat Kiran semakin lama, semakin melihat perubahan diri Nino. Meski pria itu masih bermain cinta dengan banyak wanita, akan tetapi Nino selalu bisa diandalkan dan selalu menomersatuknnya. Hal yang selalu membuat Nino dan para kekasihnya bertengkar bila pria itu lebih memilih untuk menyenangkan hati Kiran.
"Kalian memang lebih cocok menjadi sepasang kekasih," Cibir Clara yang sudah lebih dulu terbangun seraya menatap Kiran dan Nino yang masih tidur dengan posisi saling berpelukan. Wanita itu menegak air lemon hangat yang ia siapkan sendiri untuk menghalau 'hangover' dari mabuk kemarin malam.
"Aku sudah buatkan air lemon untuk kalian berdua. Cepatlah bangun dan minum air lemon agar kepala kalian nggak sakit," Ucap Clara lagi seraya duduk di sofa dekat keduanya tertidur. Clara menggeleng-geleng saat tak menerima respon apa pun dari keduanya. Mereka tampak masih terlalu nyaman berpelukan dan enggan untuk terbangun dari mimpi yang tengah keduanya alami.
Clara tak lagi ingin mengurusi keduanya, wanita itu menyalakan televisi dan menikmati air lemon yang mampu membuat dirinya lebih sadar. Ia tak menyangka jika malam mereka bisa dihabiskan dengan mabuk-mabukan seperti kemarin malam. Selama ini, Kiran selalu menjaga batasan dan tak mau begitu mabuk. Andai saja, kemarin malam Nino tak menegak habis alkohol di gelas Kiran, maka wanita itu pasti akan lebih mabuk darinya. Clara tahu jika sesuatu terjadi pada Kiran. Wanita itu terlihat telah menyentuh puncaknya tadi malam. Puncak segala kehancuran yang wanita itu coba sembunyikan dari dunia.
Clara memperhatikan keduanya. Ia menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Saat melihat Kiran terisak, Clara merasa sedih. Wanita itu menanggung beban yang begitu berat. Kiran tak pernah bercerita. Mungkin karena mereka belum begitu lama saling mengenal, hingga dengan Nino saja wanita itu bisa menangis dan meluapkan semua isi hatinya. Namun tak mengapa. Semua orang memiliki rahasia yang tidak ingin dibagikannya pada siapa pun. Hal yang wajar.
"Cla ... jam berapa?" Suara Kiran menyadarkan lamunan Clara. Wanita itu mengambil ponselnya untuk melihat jam berapa sekarang.
"Sepuluh pagi," Jawab Clara seraya meletakkan kembali ponselnya ke meja kecil samping sofa. Kiran segera mengubah posisinya menjadi duduk dan memijat pelipisnya yang terasa sakit bukan main. Salahkan saja semua perasaan yang menyiksa sanubarinya, hingga Kiran mencari pengalihan agar tak tersiksa akan rasa yang memenuhi sanubarinya.
"Minumlah air lemon. Ada di meja dapur," Ujar Clara yang melirik sekilas ke arah yang dimaksudkan olehnya. Kiran mengikuti arah pandang Clara dan segera berdiri untuk meminum minuman yang disiapkan oleh Clara.
Kiran membawa segelas air lemon, lalu bergabung bersama dengan Clara yang sibuk menonton berita pagi. Meski Clara tak jauh berbeda dari Nino yang selalu bersenang-senang. Ada saatnya wanita itu bisa terlihat begitu serius. Seperti saat ini, Clara yang fokus pada berita yang disampaikan televisi, membuat Kiran ikut penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Si pembawa berita.
"Apa perasaanmu sudah jauh lebih enak?" Tanya Clara membuka pembicaraan di antara mereka. Meski Clara tak mendengarkan secara detail tentang permasalahan yang menimpah Kiran. Ia bisa menduga jika wanita itu sedang mengalami masa sulitnya. Semua terlihat jelas dengan bagaimana cara Kiran yang mengatakan jika dirinya sebatang kara dan tak memiliki siapa pun. Clara tak ingin bersikap ingin tahu meski mereka tinggal bersama. Ia bukanlah seorang yang suka memaksa orang menceritakan apa yang tidak ingin diceritakannya.
"Sudah jauh lebih baik berkat kalian berdua," Ujar Kiran seraya menegak minumannya, "Makasih banyak karena kalian nggak pernah bisa meninggalkanku, hingga aku nggak merasa sendiri," Lanjut Kiran seraya tersenyum penuh rasa syukur. Clara tersenyum dan menepuk lengan Kiran.
"Nggak perlu berterima kasih karena aku yakin kalau kamu akan melakukan hal yang sama untukku."
Kiran tersenyum dan mengangguk. Dirinya benar-benar beruntung, meski banyak kehilangan yang dirasakannnya. Meski hidupnya terasa hampa dan ia kerap merasa sepi di tengah keramaian, namun ia masih memiliki orang-orang yang peduli padanya. Meski tak tahu apa yang akan terjadi esok, Kiran merasa jika dirinya mampu melewati apa pun selama kedua anak manusia itu berada di sisinya. Kehadiran keduanya, membuat Kiran sadar jika dirinya adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri dan memerlukan orang lain untuk menjalani hidup.
Kiran menyandarkan kepalanya pada lengan Clara. "Rasanya, seperti hanya aku yang punya masalah karena aku terus yang membuat kalian dua kerepotan. Maafkan aku."
Clara tersenyum dan merangkul lengan Kiran. "Jangan minta maaf, Ran. Semua orang ada di masa sulitnya dan ini adalah saatmu, jadi jangan merasa bersalah. Yang harus kamu lakukan adalah bersedih sepuasmu dan kembali bahagia lagi. Lupakan semuanya dan kamu pasti bisa kembali bangkit."
Kiran tersenyum mendengarkan perkataan Clara dan mengangguk pelan. Ia akan mengikuti kedua kata sahabatnya untuk bersedih sepuasnya. Ia harus segera bangkit agar bisa menunjukkan pada semua orang jika tanpa mereka pun, Kiran bisa hidup bahagia. Meski tak ada yang menginginkannya, Kiran masih bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Meski tak lagi menerima materi apa pun dari orang tuanya, Kiran masih bisa mengisi perut dengan makanan, bahkan membeli semua barang yang diinginkannya.
"Kalian berdua memang yang terbaik. Aku janji, akan hidup sebaik mungkin agar nggak ada lagi seorang pun yang bisa meremehkanku."
"Begitu adalah semangat yang benar," Clara tergelak melihat Kiran yang optimis, "Pacarmu itu mati atau masih hidup?" Tanya Clara seraya memperhatikan Nino yang tak bergerak sama sekali. Pria itu tidur dengan sangat pulas.
Kiran tergelak mendengarkan perkataan Clara. Wanita itu segera meletakkan gelasnya ke meja kecil samping sofa, lalu kembali ke lantai tempat Nino tertidur. Kiran memperhatikan wajah Nino yang tertidur pulas, lalu wanita itu memencet hidung mancung Nino. Beberapa detik kemudian, Nino menggerak-gerakkan tangannya di udara. Ia langsung terduduk dan mencari-cari udara sebanyak yang ia perlukan.
"Ternyata dia nggak mati," Ujar Kiran dengan santai yang membuat tawa Clara menggema. Kedua wanita itu terbahak, sedang Nino yang kebingungan menatap keduanya secara bergantian.
"Pembunuhan berencana?" Nino menaikkan sebelah alisnya dan menatap Kiran dengan tatapan penuh tanya. Kiran dan Clara kembali tertawa mendengarkan tuduhan pria itu.
"Udah siang dan kami pikir kalau kamu sudah mati. Nggak gerak sama sekali," Kiran menautkan kedua alisnya, sedang Nino mendengkus kesal mendengarkan jawaban enteng wanita itu.
Padahal, semalaman Nino susah tidur karena Kiran sesekali menangis di dalam tidurnya. Nino terus terjaga dan menenangkan Kiran setiap kali ia terisak. Nino tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Ia tidak bisa tenang selama Kiran masih menangis. Ia sedih melihat keadaan wanita itu. Bahkan di dalam tidurnya pun Kiran tampak begitu menderita. Nino menebak, jika hubungan wanita itu dengan kekasihnya sedang bermasalah. Hal yang membenarkan cerita Kiran tentang dirinya telah kehilangan segalanya. Apa lagi, Kiran sesekali menggumamkan nama kekasihnya di dalam tidurnya. Kiran begitu mencintai pria itu. Ingin rasanya Nino mencari tahu apa yang terjadi, mengapa pria itu tega menyakiti Kiran?
"Aku nggak bisa tidur tadi malam karena sakit kepala," Nino merajuk, membuat Kiran menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Wanita itu lalu berdiri dan mengambil segelas air lemon yang diulurkannya pada Nino.
"Minum dulu biar sakit kepalamu berkurang," Perintah Kiran yang kembali duduk di sisi pria itu. Kiran tahu jika semalaman pria itu menenangkannya, hingga ia bisa tidur dengan nyaman, jadi sekarang adalah gilirannya untuk menjaga Nino dan membuat pria itu tak lagi sakit kepala. Nino mengambil gelas yang diserahkan oleh Kiran dan menegak isinya.
"Makasih, Ran."
"Berterima kasihlah pada Clara. Dia yang membuatkan minuman ajaib ini untuk kita," Kiran mengarahkan pandangannya sekilas pada Clara dan tersenyum pada wanita itu.
Nino mengangkat gelasnya pada Clara dan mengucapka terima kasih. Wanita itu menjawab ucapan terima kasih sahabatnya dengan senyum dan gerakan tangan, hendak mengatakan jika hal itu bukanlah masalah. Ia tak merasa direpotkan dan mereka bertiga memang sering saling menjaga. Jauh dari rumah dan keluarga, membuat orang yang merantau memang harus saling menjaga teman-teman dar kampung yang sama. Hal ini pula yang membuat para perantau memiliki ikatan yang kuat. Saling berjauhan dengan rumah dan keluarga, hingga mereka hanya bisa saling mengandalkan. Hal yang membuat Para perantau seakan memiliki keluarga yang tak sedarah. Hal yang tentu saja membuat banyak orang merasa tenang meski berjauhan dari rumah dan juga keluarga.
"Minum air lemonnya dan pindah tidur di kamarku," Ucap Kiran seraya berdiri. Ia tak mungkin membiarkan Nino pergi dalam keadaan mengantuk. Meski tempat tinggal mereka tak begitu jauh, namun Kiran tak ingin pria itu malah tak bisa beristirahat karenanya.
"Ya aku setuju. Kami berdua harus membersihkan apartemen yang nggak seberapa ini, jadi lebih baik pindah tidur ke kamar Kiran."
Nino menarik napas panjang dan menghelanya perlahan melihat kekompakan kedua wanita itu untuk mengusirnya. Nino menegak habis air lemon yang diberikan Kiran tadi, lalu pria it bangkit berdiri.
"Aku akan melanjutkan tidur, jadi jangan diganggu. Setidaknya sampai tengah hari. Aku butuh mengisi daya karena aku harus menemui banyaknya kekasihku di luar sana yang membutuhkan perhatianku di akhir pekan seperti ini," Nino menatap kedua wanita itu secara bergantian, hendak memastikan bila keduanya tak 'kan menganggu masa istirahatnya yang berharga.
Kedua wanita itu mengangguk secara bersamaan, kemudian Kiran mendorong punggung Nino untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia membantu pria itu merebahkan tubuh di kasurnya dan menyelimuti pria itu. Kiran tersenyum sebelum meninggalkan Nino, namun dengan cepat tangan pria itu mencengkram pergelangan tangan Kiran, menghentikan gerakan Kiran yang hendak pergi meninggalkannya sendiri. Kiran membalik tubuh dan menatap Nino penuh tanya.
"Apa lagi maumu?" Tanya wanita itu kesal, sedang Nino tergelak pelan memperhatikan wajah Kiran yang terlihat tak suka dihentikan olehnya.
"Pelukan selamat tidur akan menjadi bayaran yang bisa melunasi semua hutangmu tadi malam yang membuat tanganku kebas," Pria itu menunjukkan wajah sedih, sedang Kiran menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Kiran memeluk Nino erat dan segera melepaskan pelukan mereka.
"Tidurlah dan makasih banyak atas apa yang kamu lakukan tadi malam," Kiran terlihat bersungguh-sungguh, sedang Nino tersenyum dan mengangguk.
Ia tak mampu mengendalikan jantungnya yang berdebar tak menentu setiap kali Kiran memeluknya. Ia tak mampu mencegah dirinya yang tanpa sadar menahan napas selama beberapa detik setiap kali mereka berdekatan. Sejujurnya, ia tak sepenuhnya sedih bila memang masalah yang dihadapi Kiran adalah karena renggangnya hubungan wanita itu dengan Sang pujaan hati. Anggap saja Nino jahat, tetapi ia merasa lega.
"Selamat tidur, No," Ujar Kiran seraya pergi meninggalkan pria yang tersenyum penuh kelegaan itu. Nino memeluk guling yang berada di kasur Kiran dan menikmati aroma tubuh wanita itu yang masih melekat di kasurnya. Aroma yang mampu membuat jantung Nino tak tenang, namun ada kenyamanan yang turut masuk dan menjalar ke penjuru hatinya.
"Sepertinya, aku jatuh cinta padamu, Kiran," Ujar Nino dalam hatinya dengan senyum yang menghiasi wajah tampan pria itu.