Marahnya Arya

1682 Kata

Dirga berguling gelisah di atas tempat tidur. Dia usap sisi kosong di sebelahnya, biasanya Gayatri akan tidur sambil menghadap kepadanya. Inilah kesedihan sesungguhnya, kesepian. Hukuman paling berat yang lelaki itu terima. Apalagi kini ada bayi bersemayam di rahim sang istri. Hal yang sudah lama dia impikan kini jadi nyata. Foto pernikahan yang menggantung di salah satu sisi dinding kamar seakan mengingatkan Dirga untuk tetap bertahan dan memperjuangkan agar pernikahan yang mereka bangun tidak kandas. Dia khilaf, dia sudah berjanji tidak akan mengulangi dia sudah berubah. Bahkan kini Dirga sudah tidak meninggalkan salat. Mulanya dia melakukan semua itu demi Gayatri, perlahan-lahan lelaki itu menyadari, salat bukan hanya kewajiban melainkan kebutuhan. Hanya saja lelaki itu masih malu, se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN