Chapter 2

1002 Kata
Seminggu telah berlalu, setelah mendapatkan kabar dari keluarga York, keluarga Winston pun menentukan tanggal dan tempat keluarga akan mendiskusikan pernikahan. Awalnya tempat yang dipilih adalah restoran mewah namun, tiba-tiba kepala keluarga Winston mengusulkan untuk mengadakannya di rumah keluarga York saja. Usulan itu diberikan saat kedua kepala keluarga sedang menikmati waktu luang mereka dengan bermain golf. Usulan pun diterima dengan senang hati oleh ayah Ladeina. Dan dikarenakan rumah utama keluarga York ada di negara lain, maka keluarga Winston akan terbang menggunakan jet pribadi Winston ke negara asal keluarga York. Perjalanan tersebut juga dilakukan bersama keluarga York, mengingat mereka di negara dimana keluarga Winston berada. Dan pertemuan pertama antara Kiel dan Ladeina adalah hari keberangkatan mereka semua. Ladeina duduk memandangi pemandangan luar melalui kaca jedela pesawat. Kiel yang baru saja memasuki pesawat terdiam, melirik sekitar, dan hal itu menarik perhatian ayah Ladeina dan ayahnya yang sedang berbincang-bincang. Namun, Ladeina tampaknya tidak tertarik sama sekali. "Kiel" sapa ayah Ladeina. Kiel hanya memberikan senyum kecil saja. "Kenapa tidak duduk, Kiel?" Tanya sang ayah, wajahnya datar tidak seperti sebelumnya ketika berbicara dengan ayah Ladeina, ekspresi bahagia hilang. "Ladeina..." mata Kiel terus berpencar ke penjuru pesawat. "Aku mencarinya" lanjut Kiel dingin. "Ah! Eina, kamu mencarinya ya nak? itu dia duduk disitu dekat jendela" ayah ladeina menunjuk sang putri yang diam memandang luar. Kiel terdiam lalu mengangguk sebentar sebelum berjalan mendekat. Rune Winston duduk di sebelah Ledeina, terus mengoceh meskipun Ladeina tidak meladeninya. "Awas!" Ucap Kiel dengan dingin pada Rune, sang kakak. "Hah?" Rune melirik Kiel dari atas sampai bawah. "Kau duduk disamping istriku" balas Kiel, giginya menggertak. "Lalu?" Alis Rune terangkat sebelah, sudut bibirnya naik ke atas seolah mengejek Kiel. "Hah... pindah" suruh Kiel. "Aku tidak mau!" Tolak Rune yang melanjutkan ocehannya pada Ladeina. Sang kekasih menatap Rune dengan sedih dan cemburu pada Ladeina, Kiel melihat itu tapi tidak perduli. "Minggir, Rune" nada Kiel penuh dengan penekanan dan amarah. "Duduk saja disamping Elita, susah sekali sih" suruh Rune dengan nada kesal. Seluruh keluarga sekarang menonton mereka kecuali Ladeina yang masih asik melihat pemandangan luar. Kiel yang emosinya sudah naik, menarik lengan Rune dengan kasar dan mencampakkan sang kakak ke kursi samping Elita, si kekasih. Setelah itu, Kiel langsung duduk di kursi samping Ladeina, meskipun harus menggerutu, "Dasar buat kesal saja setiap hari...". Kiel menyenderkan kepalanya lalu menoleh ke Ladeina. "Maaf aku telat, sedikit banyak kerjaan tadi di kantor..." kata Kiel, kejujuran tampak di wajahnya. Akhirnya, atensi Ladeina teralih pada Kiel. Kiel hanya butuh satu kalimat dan sudah menarik perhatian Ladeina. Rune yang melihat pun sangat kesal, "Tch". Sementara sang kekasih, Elita kini makin diam, merasa terasingkan oleh orang-orang disekitarnya, yang kastanya jauh diatasnya termasuk orang yang baru dia temui, keluarga York. Elita menatap Ladeina, seseorang yang membuatnya semakin memperjelas posisi dirinya yang membuat Elita iri dan semakin iri. Ladeina tidak peduli, tapi Kiel peduli. Manik dingin Kiel menunjukkan ketidaksukaan bahkan kesal dan terselip rasa kecil kebencian. "Tidak apa telat, aku tidak mempermasalahkannya" ucap Ladeina dengan nada lembut. Tanpa mengalihkan perhatiannya pada Elita, Kiel tetap mendengar dan merespon dengan penuh kejujuran. "Aku tidak suka, jangan biasakan dan memaafkan seseorang yang telat, telat itu adalah hal sama sekali tidak disiplin. Orang yang seperti itu benar-benar menyebalkan". Kini, mata Kiel semakin membara penuh kekesalan dan mulai menunjukkan kebencian sedikit demi sedikit. Semua masih ditujukan ke Elita. Hal ini juga menarik perhatian Ladeina. "Kamu mengenalnya?" Tanya Ladeina. Kiel hanya berdeham, "Telibat sesuatu dengannya ya?" Tanya lagi Ladeina, kini merujuk suatu hubungan di masa lalu. Kiel tidak menangkap maksud dari Ladeina namun membalas "Tidak" dengan penuh rasa bantahan dalam nadanya. "Terus kenapa?" Ladeina semakin penasaran. Rune terus menonton mereka, rasa kesal juga muncul. Sebal karena Kiel langsung mendapatkan perhatian Ladeina dan terus mendapatkannya. Kini Kiel mengalihkan atensinya, wajahnya datar. "Benci aja lihat sesuatu yang gak diposisinya" balas Kiel menambah volume suaranya. Elita mendengar hal tersebut begitu juga yang lainnya. Ladeina mengangguk, separuh paham dan separuh tidak. "Nanti aku beritahu" Kiel menekan sebuah tombol, seorang pramugari menghampirinya. "Ya, Tuan?" sapa pramugari sopan sambil sedikit membungkuk. "Air putih," ucap Kiel singkat, suaranya berat namun tenang. Tatapannya tetap tertuju pada dokumen di tangannya, nyaris tak memberi perhatian pada kehadiran sang pramugari. "Segera, Tuan," jawabnya, lalu berbalik dengan langkah cepat namun tenang. Beberapa menit kemudian, segelas air putih dingin diletakkan hati-hati di meja lipat di sampingnya. Kiel mengangguk singkat sebagai tanda terima kasih, lalu meneguknya perlahan. Kiel merasakan tarikan lemah di lengan jasnya. "Mau..." suara kecil Ladeina menghentikan tegukannya. "Air?" Ladeina mengangguk, tangan kecilnya mencoba meraih gelas Kiel. "Akan kupanggilkan pramugari untuk membawa air yang baru" ucap Kiel meletakkan gelas di sandaran lengan kursi. "Enggak..." tolak Ladeina, tangannya tetap meraih gelas Kiel. "Haaa..." Kiel pun memberikan airnya, Ladeina meneguk perlahan hingga habis lalu memberikan gelasnya pada Kiel. Pria itu kembali menekan tombol untuk memanggil pramugari, memberikan gelas air tersebut. "Kita belum berkenalan dengan benar" ucap Kiel, matanya terus terarah pada wajah Ladeina yang imut. "Hm? Benar. Kenalin aku Ladeina York, kalau kamu siapa?" Ladeina mengulurkan tangannya. "Aku tahu... tapi, kamu gak tahu aku? Ayahmu menyebut namaku loh tadi" Ladeina terdiam, ia tidak mendengar apapun. "Haaa... setidaknya kamu uda cari tahu informasi tentangku kan?" Tanya Kiel tapi, Ladeina hanya menggeleng. "Untuk apa?". Sontak saja ucapan Ladeina membuat Kiel kesal, mengingat dirinya yang terus mencari informasi melalui internet dan media sosial mengenai putri bungsu keluarga York ini selama seminggu penuh meskipun hasilnya hampir dibilang nihil. Hanya sedikit saja, tidak ada foto wajah Ladeina. Berbeda dengannya yang wajahnya sangat tersebar terutama di laman internet Winston Group. "Untuk apa? Kan ketemu juga nanti" Simpel. Tidak. Tapi, terlalu simpel. "Kiel.Winston." ucap Kiel penuh penekanan. "Ah kamu yang namanya Kiel Winston" lagi dan lagi Kiel hanya kesal dan kini ia terdiam. Setidak menarik itukah dirinya? Kiel merasa menyusut. "Harus kupanggil apa kamu?" Tanya Kiel. "Eina bisa, tapi terserah kamu saja" balas Ladeina sambil tersenyum manis. Sebuah ide muncul di benak Kiel. "Bagaimana kalau sweetheart? Darling? Wifey?" Goda Kiel dengan seringai nakal di wajahnya. "Boleh, nanti aku panggil kamu hubby" balas Ladeina tetap tersenyum manis. Kiel terkejut, pipinya mengeluarkan semburat merah samar. "Se-setelah nikah..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN