“Jiyya! Jiyya!” Mendengar namanya di panggil keras-keras dari luar pintu, Jiyya kontan tersentak. Di cobanya untuk bangkit dari ranjang meskipun kepalanya masih sedikit pusing dan perlu sedikit pembiasaan dengan cahaya terlebih dahulu. Tapi dia tidak bisa membiarkan waktu berlalu ketika mendengar gedoran di pintu terdengar begitu kencang seolah orang di luar sangat terdesak dan ingin cepat-cepat bertemu muka dengannya. Demi Tuhan! Ini masih pagi buta, apa yang diinginkan oleh Dean? Batinnya dengan sedikit mendecak sebal sambil menyeret kedua kakinya menuju ke pintu depan. Dia bahkan tidak sempat melirik ke arah Joan yang tertidur di ranjangnya. Sayang sekali memang wajah yang pertama kali dia lihat justru adalah Dean pagi ini. “Jiyya! aku tahu kau di dalam. Karena semua lampu masih m

