Kini Jiyya terdiam, dia mengamati lelaki itu dalam-dalam. Ekor matanya beralih melirik ke sudut lain yang bisa dia jangkau. Sementara di kepalanya dia menyusun beberapa anggapan yang bisa dia utarakan sebagai jawaban. Dia bertanya-tanya dan ingin memvalidasi hal itu, bahkan sejujurnya sebelum pria itu mempertanyakannya pada Jiyya. Dia merasakan adanya dentaman di d**a. Namun disaat yang sama perasaan tersebut bermetamorfosa menjadi sebuah sensasi yang terbilang menyesakan. Ini lucu, saat dia berada disekitar Pak Joan dia selalu mengalami krisis kepercayaan pada dirinya sendiri. Dia selalu ragu-ragu, dan selalu kesulitan mengaktualisasikan perasaan yang dia miliki dengan jelas. Sedetik dia senang melihat entitas pria itu ada disekitarnya, namun di detik yang tak berselang lama Jiyya aka

