Ada waktu di mana manusia hanya mampu berharap dan berdoa.
Memang tidak ada yang berharga dari hal itu. Terasa kosong, meski sebenarnya bermakna.
Tapi karena itu, setidaknya ada sedikit kepercayaan atas usaha yang tidak seberapa.
***
Seperti permintaan Athena, akhirnya Sagara pulang dulu sebelum berangkat kerja. Seperti hari sebelumnya saat ia memutuskan pulang, pintu gerbang sudah dibuka saat ia sampai. Athena menunggu di teras depan sambil duduk di lantai.
Gadis itu semringah kemudian berteriak, "Gue udah masakin makanan enak, Gar. Elo pasti suka." Dibalas kekehan geli oleh Sagara. Istrinya itu pasti sudah berusaha keras.
Sagara menurunkan standar motor lalu melepaskan helm yang langsung ia letakkan di tangki motornya. Saat mendekati Athena, tiba-tiba gadis itu langsung melompat ke gendongannya. Membuatnya tanpa sadar langsung menggerakkan tangan untuk memegang pinggang dan bokongnya. Untung saja tidak terjengkang ke belakang, kalau sampai terjadi, entah apa kabar dengan punggungnya.
"Apa sih, Na, kenapa lompat-lompat gitu? Bahaya tau."
Sagara berjalan ke arah pintu yang terbuka. Di depan tubuhnya, Athena menyandarkan kepala di bahunya.
"Lompat ke orang yang badannya se-kekar lo itu seru, Gar. Gue suka!"
Tentu saja suka, karena Sagara langsung menjaganya agar tidak terjengkang. Coba kalau tidak, Athena sudah pasti akan berakhir di lantai. Sagara geleng-geleng kepala. Tapi mana mungkin ia tega melakukan hal itu, kan? Saat ia sendiri sadar bisa menangkap tubuh Athena.
"Lain kali jangan kaya gitu. Lo itu bukan anak kecil!"
Athena tidak mengiyakan, dan malah terkekeh geli. Menikmati kekesalan Sagara karena kelakuannya.
"Gar, gue tiba-tiba mau bubur kacang hijau." Ujar Athena membuat gerakan kaki Sagara sempat terhenti sejenak. Mungkin karena ini pertama kalinya Athena meminta sesuatu yang aneh.
"Tumben, sejak kapan lo suka kacang hijau?" Sagara bertanya heran.
Athena mengeratkan pegangannya. Ia mencium pipi Sagara sekilas sebelum berkata, "Gak tau, tiba-tiba mau itu aja. Mungkin kemauan anak lo."
Ah, ya. Sagara pernah mendengar hal itu. Katanya, perempuan yang sedang hamil akan minta yang aneh-aneh selama masa kehamilannya. Ngidam namanya. Tapi ini memang pertama kalinya Athena meminta sesuatu, soalnya kemarin-kemarin tidak pernah. Apa ini awal muda dari ngidam Athena ke depannya?
"Ya udah nanti kita beli,"
Mereka sampai di sofa, Sagara meletakkan tubuh Athena, setelahnya ia duduk di sampingnya. Membiarkan saja saat Athena melepaskan kancing kemejanya satu persatu dan menariknya, menyisakan kaus oblong berwarna putih.
"Tapi elo mesti kerja. Nanti kalau kita keliling nyari bubur dulu lo bakal telat."
"Terus maunya gimana, Sayang?"
Athena berpikir. Ia menggerakkan bibirnya ke kanan dan kiri. Dahinya berkerut dalam. Kalau ia yang pergi membeli bubur itu sendiri, Sagara tidak akan mengijinkan, tapi kalau memaksa Sagara membelinya sekarang, cowok itu akan bolak-balik dan telat bekerja.
"Pulang kerja aja belinya, nanti gue tungguin," kata Athena akhirnya.
"Yakin gak bakal bosen? Lama, lho!"
Athena menggeleng.
"Ya udah iya, kalau gitu gue mau mandi dulu."
Sagara sudah berdiri, tapi tangan Athena menahan pergelangan tangannya agar tidak melangkah. Ia memandang Sagara sambil menyunggingkan senyuman.
"Eh, Gar. Tadi nyokap lo ke sini."
Karena pernyataan singkat itu, Sagara kembali duduk di samping Athena.
"Ngapain?" tanyanya heran.
Ia tahu betul bahwa ibunya merupakan orang yang paling anti membuang-buang waktu. Dia bahkan membiarkan saja Sagara mau lulus atau tidak. Baginya, selama ada uang, kebutuhan yang terpenuhi tidak akan membuat Sagara berkomentar. Apa lagi suaminya itu cukup berpengaruh di sekolah anaknya. Semakin bebas saja dia mengambil sikap sebagai orang tua.
Dia itu sangat disiplin di jam kantornya dan tidak mau keluar sebelum jam pulang. Mengambil raport putera semata wayangnya saja ogah, apa lagi melakukan hal kecil lainnya yang menurutnya tidak penting. Lalu, ada apa gerangan tiba-tiba pergi ke rumahnya di hari kerja?
Athena mengingat saat mertuanya datang. "Dia ngasih s**u buat gue, vitamin buat ibu hamil, jus siap minum, baju baru, terus bilangin gue apa aja yang enggak boleh dilakuin selama masa kehamilan." Lalu bercerita pada Sagara maksud dari kedatangan mertuanya.
Sagara berdecih sinis. Saat dirinya sudah seperti ini saja baru datang untuk memperlihatkan perhatian. Kemarin ke mana saja? Pura-pura peduli ... atau baru ingat kalau ternyata dirinya memiliki seorang anak?
"Dia gak ngomong apa-apa lagi?"
"Mmm," Athena berpikir lagi. "Katanya gue harus bener-bener ngerawat lo. Kasih makan yang cukup, siapain keperluan lo, terus ngingetin buat belajar supaya lo bisa lulus tahun ini."
Ahh, Sagara jadi kesal. Padahal tiga tahun ini dia tidak pernah berkoar. Saat Sagara mengatakan bahwa dirinya lagi-lagi tidak lulus, ibunya hanya ber-oh ria sambil berkata, 'gak pa-pa, ijazahmu bisa mama beli' sambil tetap fokus pada laptop di depannya. Sombong memang, tapi begitulah kenyataannya. Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sifat ayahnya yang selalu tenang di setiap keadaan.
Dari sana Sagara belajar banyak hal. Jika ibu dan ayahnya saja acuh, ia pun bisa melakukan hal yang sama.
"Katanya, seburuk apapun lo, lo tetep anak dia. Jadi, tolong bilangin sama Sagara supaya jangan nakal lagi!"
Kalimat terakhir itu, Sagara tahu tulus dari hati Athena sendiri, bukan dari ibunya. Untuk itulah ia menarik sudut bibirnya dan mencium pipi Athena.
Dulu, ia sempat berpikir benarkah dirinya anak dari kedua orang tuanya. Karena kalau iya, sifat orang tuanya sama sekali tidak ada yang menurun padanya. Atau lebih tepatnya ia yang tidak menyadari. Tapi jujur saja ia pernah memikirkan hal itu, sampai akhirnya lupa sendiri, dan takdir mempertemukannya dengan Athena.
Gadis yang membuatnya berpikir, tidak penting ia dilahirkan siapa, atau bagaimana orang tuanya, karena selama ada Athena, silsilah keluarga bukan menjadi hal utama. Kebahagiaan Athena adalah prioritas utamanya.
"Iya, buat lo sama anak kita, gue janji gak nakal lagi. Makasih pesennya, Na. Kalau gitu, gue mandi dulu."
Kemudian Sagara bangun dan pergi ke lantai dua. Meninggalkan Athena yang mengerjapkan kedua matanya takjub. Kenapa Sagara bisa tahu kalau itu adalah pesan darinya?
***
Sagara mengetuk pintu rumahnya lagi dua kali. Sejak tadi tidak ada sahutan ataupun gerakan memutar kunci. Hampir saja ia akan mendobrak pintunya saat teringat sesuatu. Ia berbalik lagi ke arah motornya, membuka jok kemudian mengambil sebuah kunci dari sana. Kunci cadangan rumahnya.
Setelah pintu terbuka, ia segera masuk, menutup pintu dan menguncinya kembali.
"Na!" panggil Sagara.
Tidak ada sahutan. Mungkin saja Athena sudah tidur dan lupa dengan bubur kacang hijau yang saat ini ada di tangannya. Sagara hampir melewati tangga saat matanya menangkap sesuatu yang sedang meringkuk di sofa. Itu Athena. Gadis itu meringkuk dengan tangan yang dijadikan bantal. Ia menghampirinya hanya untuk geleng-geleng kepala. Melihat Athena yang lagi-lagi hanya mengenakan tanktop dan celana pendek. Athena itu ... bandel sekali kalau diberi tahu.
Sagara meletakkan plastik berisi bubur itu di meja, setelahnya ia langsung mengulurkan tangan untuk memegang lipatan lutut Athena. Tapi saat ingin mengangkat kepalanya, Athena justru menggeliat dan kedua matanya terbuka. Memang dasar tidak boleh diganggu, gerak sedikit saja dia langsung bangun.
"Gue pindahin ke kamar, ya?"
Tangan Sagara kembali terulur. Athena menguap ngantuk. Tatapan sayu sekali.
"Bubur gue mana?" tanyanya serak.
Astaga. Sagara pikir sudah lupa, ternyata tidak. Padahal tidurnya terlihat pulas sekali. Saat mengetuk pintu pun Athena tidak mendengar. Siapa sangka reaksinya saat bangun akan seperti itu?
"Lo nungguin gue?" Sagara balik bertanya. Ia duduk di samping Athena. Gadis itu langsung beringsut mendekat minta dipeluk.
"Lo ke mana aja, Sagara?! Kenapa pulangnya lama banget?"
"Iya, maaf..." Sagara melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul setengah dua belas malam.
Sebenarnya tadi ia sudah pulang sekitar jam sepuluh, tapi karena teringat akan bubur kacang hijau yang diminta oleh Athena, ia jadi harus keliling dulu. Banyak dari tukang bubur kacang hijau yang sudah tutup, membuatnya harus ke sana ke mari sampai menemukan satu yang masih buka. Tidak disangka akan sampai selama itu.
"Tadi gue keliling dulu buat nyari pesenan lo. Taunya sampe satu jam setengah. Maaf, ya?"
Athena mengerjapkan matanya. "Tapi dapet?" tanyanya.
"Iya."
Seketika tatapan Athena mengikuti telunjuk Sagara, melihat sebuah plastik di atas meja. Wajahnya langsung segar begitu saja. Seperti melihat sesuatu yang sangat dinantikan. Membuat Sagara diam-diam bersyukur karena rasa lelahnya membuahkan hasil.
"Gue ambilin mangkuknya dulu,"
Athena mengangguk dan Sagara berlalu ke arah dapur. Membawa satu mangkuk dan satu sendok.
"Elo belinya cuma satu?"
"Iya, soalnya emang buat lo doang, Na."
"Terus elo gimana?"
"Gue udah makan tadi."
Padahal Sagara tahu bahwa tubuhnya lelah sekali, matanya berat dan perih. Ia butuh langsung istirahat di kamarnya. Tapi melihat Athena yang semangat sekali saat membuka bubur kacang hijau yang ia beli, ia jadi menahan diri untuk menemani.
"Na, besok-besok pakai baju biar bener. Jangan cuma yang pendek gitu, kan udah gue bilangin. Baju lo padahal numpuk banget di lemari. Nanti lo sakit terus muntah-muntah lagi kayak kemarin."
Kunyahan di mulut Athena berhenti. Ia menoleh ke arah Sagara lalu menyengir lebar. "Gue lupa," katanya tanpa dosa.
"Bukannya lupa tapi kebiasaan."
Mereka diam. Athena melanjutkan makannya dan Sagara bersandar di sofa dengan mata yang terus memperhatikan Athena. Athena itu cantik, cantik sekali. Wajahnya terawat dengan make-up mahal. Tidak ada noda hitam apalagi jerawat. Siapa pun pasti akan tergoda dengan wajahnya. Beberapa mungkin tidak sanggup menahan pikiran liarnya. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa sejak berpacaran, Sagara selalu mengikat Athena. Agar gadis itu tidak pernah pergi darinya.
Tapi siapa sangka jika sekarang mereka benar-benar terikat satu sama lain. Berjuang berdua untuk terus mempertahankan pernikahan mereka. Sagara rasanya masih belum percaya. Karena, Athena itu berhak mendapatkan yang lebih—
"Abisin!"
Lamunan Sagara buyar. Di depan matanya, ada mangkuk yang disodorkan Athena.
"Apa?" tanya Sagara berusaha mencerna. Matanya melirik lagi ke arah mangkuk berisi bubur yang masih penuh. Sepertinya baru dimakan beberapa sendok oleh Athena.
"Ini abisin!" suruh Athena lagi.
"Kok gue? Kan elo yang mau, Na?"
"Tapi gue udah gak mau!"
Sagara semakin dibuat bingung. Bukankah tadi Athena sangat bersemangat sekali saat membuka bungkusnya? Kenapa sekarang terkesan ogah-ogahan?
"Kenapa gak diabisin? Gak enak? Atau mau gue suapin?"
Athena menarik tangan Sagara dengan paksa dan meletakkan mangkuk itu di sana. Membuat Sagara misuh-misuh dalam hati.
"Gue udah nyobain rasanya gimana, pengennya tiba-tiba udah ilang."
Astaga, tidak tahukah Athena bagaimana Sagara mendapatkan bubur itu?
"Na, gue belinya perjuangan banget, lho! Gue keliling-keliling sampe sejam lebih dan elo malah gak mau ngabisin?"
"Tapi gue udah gak mau."
Sorot yang dulu pernah menatapnya begitu tajam, sekarang justru terlihat sendu. Memohon agar Sagara tidak perlu memaksa.
"Abisin, Sagara!"
Sagara mendengkus berulang kali. Tangannya pelan-pelan mulai menyendokkan bubur ke dalam mulutnya dengan tidak sabaran. Ditemani Athena yang terus melengkungkan senyum lebar.
"Makasih, Sagara. Makin sayang deh gue."
"Hm." Sagara mengangguk.
Suapan terakhir, Sagara meletakkan mangkuknya ke meja. Ia menatap Athena yang kembali menguap. Setelah berdiri, ia meminta agar Athena naik ke punggungnya.
"Lo mau mandi dulu, Gar?" tanya Athena setelah melompat ke punggung Sagara. Cowok itu langsung melangkahkan kakinya menuju tangga.
"Enggak. gue mau cuci muka aja terus tidur," jawab Sagara.
Athena mengangguk di gendongan. Sagara melangkahkan kaki, dan Athena mengeratkan pelukannya. Di tengah derap langkah kaki itu, Athena berdoa dalam hati. Ia ingin Sagara selalu sehat dan semoga memiliki masa depan yang cerah. Tidak peduli dikabulkan atau tidak. Ia akan tetap meminta hal itu. Karena, Sagara sudah berusaha sangat keras untuk menjadi suami yang baik.