Mistake 3; Saling Memahami

1827 Kata
Tetaplah berusaha semampumu. Berjalan di sampingku, temaniku, dan jadilah penopangku. Sampai saatnya nanti, aku sudah cukup tangguh untuk benar-benar menghidupimu. Dan akan kuperlihatkan pada dunia, aku punya kamu, yang tidak pernah menyerah terhadapku. -Sagara Galuh Permana *** Sagara terbangun dari tidurnya karena mendengar suara yang aneh. Saat melirik ke arah jendela, suasana masih gelap. Tapi yang membuatnya terkejut adalah Athena, gadis itu tidak ada di sampingnya saat ia meraba kasur di mana sebelumnya Athena berada. "Hoekkk!" Sagara langsung melonjak karena suara itu. Matanya menyapu pandang. Berhenti teapt di pintu kamar mandi. Tidak ingin membuang waktu, Sagara langsung berlari ke sana. "Athena!" panggilnya cemas. Dan saat melirik ke dalam, matanya membola melihat Athena yang terduduk sambil menundukkan kepalanya ke dalam kloset. Lagi-lagi hanya mengenakan tanktop dan hotpants pendek. Gadis itu terus menggerakkan kedua kakinya sambil mengeluarkan isi perutnya. Kelihatan seperti sakit sekali. "Na?" panggil Sagara lembut. Ia menghampiri Athena dan berjongkok di sampingnya. Menyaksikan dengan jelas bagaimana Athena terlihat tersiksa dengan tangan memegangi perutnya. Baru saja mengangkat wajah untuk membalas ucapannya, Athena justru kembali menunduk dan memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Sagara meringis melihat pemandangan itu. Ia memijat tengkuk Athena sampai keadaannya lebih baik. "Na, lo gak pa-pa?" tanyanya gusar. Athena menoleh lalu menggelengkan kepala. Wajahnya pucat sekali. Menambah tingkat kecemasan yang sudah meliputi Sagara sejak tadi. "Gak pa-pa kok. Udah biasa. Cuma bingung aja kenapa tiba-tiba mual malem-malem gini, soalnya biasanya siang aja." Sagara tertegun. Apa katanya? Sudah biasa? Itu artinya Athena sering mengalami hal mengerikan itu sejak hamil anaknya? "Jadi lo sering kayak gini?" tanya Sagara. Athena mengangguk. Kondisinya sudah lebih baik. Ia menyandarkan kepalanya di d**a Sagara karena lemas. Langsung diusapi Sagara dengan lembut. Sejak hamil, ia memang sering mual dan muntah-muntah. Beberapa kali, ia akan mengeluarkan kembali apa yang sudah masuk ke perutnya. Apa lagi saat cuaca di luar sedang terik, ia akan mudah pusing. Hidungnya bahkan lebih sensitif akhir-akhir ini. Bau-bauan yang menyengat bisa membuatnya langsung lari ke kamar mandi. Sagara memandang Athena khawatir. "Apanya yang sakit?" tanyanya. Athena menunjuk perutnya sendiri. "Gak enak. Mual. Usapin, Sagara!" suruhnya. Sagara menurut, ia ikut duduk di lantai dan menarik Athena semakin mendekat. Tangannya mengusapi perut rata Athena dengan pelan. Menimbulkan sensasi nyaman yang baru Athena tahu rasanya. Tangan kekar itu begitu lembut mengusapi perutnya. Membuatnya semakin merapatkan diri dan meminta lagi. "Perlu ke rumah sakit?" Sagara bertanya lagi. Kali ini Athena menggeleng cepat. "Tapi muka lo pucet banget, Na." Athena tetap menggeleng kekeuh. "Gue cuma ngantuk aja, belum tidur soalnya. Udah gitu sekarang malah mual. Tapi gak pa-pa kok, udah enakan." Sagara sama sekali tidak bisa membayangkan, inikah yang dirasakan ibu hamil? Kenapa sepertinya tersiksa sekali? Dan ... apa yang Athena rasakan adalah akibat dari apa yang sudah ia lakukan. Masa muda Athena harus hilang dan berubah menjadi berat seperti ini. Sagara meneguk air liurnya susah pahah. "Jadi lo gak bisa tidur?" Suara Sagara terdengar lirih. Dan saat mendapatkan gelengan kepala dari Athena, Sagara semakin merasa bersalah saja. Ia ingat, tadi saat pulang bekerja ia langsung tidur dan tidak menunggu Athena tidur terlebih dahulu. Ia bahkan tidak sempat mandi dan makan karena terlalu lelah. Tapi siapa sangka bahwa di balik itu semua, Athena justru terus terjaga sepanjang malam. "Sini gue gendong ke kasur," kata Sagara langsung mengulurkan tangannya di lipatan lutut Athena. Sebelum bangun, Athena menunjuk kloset. "Iya, nanti gue yang bersihin." Athena mengalungkan kedua tangannya saat Sagara mengangkat tubuhnya. Sampai di kasur, Sagara meletakkan Athena dengan hati-hati. Ia segera berlari ke lantai satu untuk mengambil air hangat. Saat kembali, ia langsung membantu Athena minum. "Lo juga, malem-malem gini malah pakai tanktop doang. Kenapa suka banget telanjang sih, Na?" Sagara bertanya kesal. Bukannya menjawab, Athena justru mengatakan hal yang membuat Sagara semakin kesal. "Tapi kan elo suka kalau gue telanjang," "Gak usah bercanda lo, ya. Gue tampol mau?" Athena tergelak. Habisnya Sagara juga sih terlalu serius. Apa lagi saat cowok itu berlalu ke arah lemari dan membukanya. Menarik asal tumpukan kaus milik Athena. Athena harus menahan geli dalam hati. Sagara itu luarnya saja yang galak, tapi sebenarnya memiliki kepribadian yang lembut. Tangan Sagara mengulurkan baju itu. "Buruan pake!" suruhnya, tapi Athena malah diam saja. Karena itulah Sagara bergerak meloloskan kaus putih itu ke leher Athena. Ia juga memakainya hingga melekat sempurna. "Gue gak pa-pa, Gar." Kata Athena melihat sikap Sagara yang menurutnya berlebihan. Tapi Sagara mengabaikannya. Ia membaringkan Athena dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut sampai dadanya. Untuk sesaat, Athena merasa bahwa ia adalah perempuan sekarat yang perlu perawatan ekstra. "s**u lo udah diminum?" tanya Sagara. "Udah," Sagara mengangguk dan berjalan memutari ranjang, ia beringsut naik dan bersandar di samping Athena. Waktu menunjukan pukul tiga dini hari saat matanya melirik jam dinding yang disinari rembulan. "Udah ngantuk?" tanya Sagara. Athena menggeleng. "Sini deketan!" Athena menurut dan mulai mendekat ke arah Sagara. Ia berbaring di d**a cowok itu. Mencari hangat yang selalu ia dapatkan dengan mudahnya. "Kok lo gak bangunin gue kalau mau ke kamar mandi?" tanya Sagara. Ia mengusap surai panjang Athena dengan lembut. Tangan Athena bergerak memainkan kaus yang dipakai Sagara. "Gue takut ganggu tidur lo," lirihnya. Sagara baru ingat, sejak tinggal satu rumah dengannya, Athena tidak pernah membangunkannya kalau terbangun tengah malam. Padahal saat dirinya dan Athena sering menginap di hotel sebelum menikah dulu, gadis itu sering sekali membangunkannya jika ingin ke kamar mandi. Takut katanya. Tapi akhir-akhir ini tidak pernah lagi. Mungkin karena Athena mengira hal itu akan mengganggu waktu istirahat Sagara. "Besok gue bolos sekolah aja," putus Sagara akhirnya. Athena menggeleng cepat-cepat. "Gak boleh! Lo harus lulus tahun ini, Gar." larangnya. Sagara balas menggeleng. Ia tetap akan bolos walaupun Athena melarang. "Gue takut lo kenapa-napa di rumah sendirian. Kalau minta orang tua lo buat nemenin, mereka sibuk. Orang tua gue juga." Ia melihat Athena yang juga sedang menatapnya. Lewat tatap itu, mereka saling membagi luka. Orang tua mereka, meskipun sudah tahu kondisi mereka bagaimana, tetap saja tidak berubah. Masih gila kerja. Yang ada di pikiran mereka hanya uang, uang dan uang. Seluruh biaya sekolah Sagara memang masih di tanggung oleh orang tuanya. Uang jajan pun masih dikirimi. Sagara bekerja sebagai office boy karena ingin memulai dari bawah. Ia sadar kemampuannya tidak pantas untuk ditempatkan pada pangkat yang lebih tinggi. Gajinya lumayan, cukup untuk membiayai segala kebutuhan Athena. Sesekali, Sagara juga ingin orang tuanya atau orang tua Athena datang menjenguk. Nyatanya tidak. Semenjak pindah ke rumah baru. Keduanya benar-benar seperti hanya hidup berdua. Layaknya dua manusia yang memang hidup sebatang kara. Ibu Sagara hanya menghubungi minimal seminggu dua kali untuk bertanya kabar. Beberapa kali Sagara bertemu dengan ayah Athena di kantor. Sopan dan sering menyapanya. Tapi hanya sampai di situ. Selebihnya mereka tidak pernah mengobrol lama. Meskipun begitu, Sagara tidak ingin membuat Athena merasa tidak diperhatikan. Walaupun justru selama ini Athena yang banyak mengambil peran. Namun, untuk sekarang dan seterusnya ia ingin lebih berguna. Ia janji hal itu. Athena ... tidak akan merasa sendiri. "Besok gue bolos dulu. Nanti gue yang beresin rumah. Elo istirahat aja. Liat lo kayak tadi, gue jadi takut ninggalin lo sendiri." "Hm," Athena mengangguk. Berlebihan memang, tapi Athena tidak bisa menolak. Ia tahu ujungnya akan bagaimana jika diteruskan. "Na," panggil Sagara ragu. "Hm?" "Lo gak nyesel kan pernah ngelakuin semua hal sama gue?" tanya Sagara. Sontak saja Athena menjauhkan diri. "Kenapa lo nanya kayak gitu?" Athena balik bertanya. Sagara juga tidak tahu. Melihat Athena seperti tadi, ia jadi takut apakah mampu membahagiakannya atau tidak. Masih di awal saja Athena sudah seperti itu, bagaimana ke depannya nanti? Janjinya ... untuk sekarang mungkin hanya berisi bualan semata. Tidak menghasilkan arti apa-apa. "Sejak lo hamil, lo banyak ngalamin hal baru yang mungkin gak enak. Gue jadi ngerasa bersalah dan kadang mikir kalau kita gak seharusnya ngelakuin hal itu. Kalau sama orang lain, lo pasti lebih bahagia. Gue ... takut bikin lo makin menderita, Na." Athena beringsut mendekati Sagara lagi. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Sagara. Memberi tahu cowok itu bahwa kenyamanan hanya bisa didapat darinya. "Satu-satunya kesalahan kita itu karena kita ngelakuinnya di luar pernikahan. Gue dulu sayang sama lo, Gar. Sekarang juga begitu. Kalau sama orang lain gue gak bakal mau, atau mungkin malah jijik. Gak usah ngerasa bersalah, soalnya kita sama-sama berengsek. Jadi ... ayo berubah sama-sama!" Senyum kecil Sagara perlihatkan. Ia tahu Athena tidak bisa melihatnya, tapi ia juga tahu kalau Athena bisa merasakannya. "Gue selalu berharap lo bisa bahagia di samping gue." "Udah pasti kan, Gar?" "Iya, semoga seterusnya." Setiap manusia, memiliki sisi lemah dan takutnya masing-masing. Sagara dan Athena adalah dua orang yang memiliki sifat angkuh. Sagara tidak segan melayangkan pukulan hanya karena kesalahan kecil orang lain. Mengusik ketenangannya, misalnya. Sedangkan Athena adalah gadis dengan tatapan tajam yang membuat siapa pun segan untuk berbicara dengannya. Tapi siapa sangka, saat dipertemukan, mereka melihat sisi lemahnya masing-masing. Sama-sama tidak bisa menolak keinginan. Nafsu mereka sama-sama besar, dan bertambah liar saja saat tidak ada yang membimbing. Mereka terbiasa pulang tengah malam, beberapa kali bahkan tidur di luar. Menghabiskan uang dengan berfoya-foya. Berlaku semaunya. Dan tetap tidak mendapat teguran dari orang tua. Mereka diabaikan. Dan saat menemukan sandaran, mereka bergantung pada sandaran itu. Tapi, sekarang Sagara menyadari hal itu. "Na!" panggil cowok itu. Untuk ke sekian kalinya. Athena berdeham pelan. "Kita kan udah nikah, tapi kita sama-sama tau kalau kita belum cukup dewasa. Jangan bergantung sama gue ya, Na? Kalau gue salah, lo harus berani negur. Lo yang paling tau sifat gue. Kalau kelakuan gue udah keterlaluan, lo harus berani hentiin gue. Gue emang sayang sama lo, tapi ... emosi gue kadang gak terkendali." Athena kini beringsut naik mendekati leher Sagara. Ia mengecupnya berulang kali. Kepalanya disandarkan di bahu Sagara. "Lo juga jangan nakal pas di luar. Kalau mau macem-macem, inget ada istri lo di rumah. Jangan bikin gue emosi karena ngeliat kelakuan berengsek lo di luar. Bisa aja gue yang hilang kendali dan bunuh diri. Soalnya lo bukan cuma nyakitin gue, tapi anak lo juga." Mendengar itu, buru-buru Sagara menjauhkan tubuhnya dari Athena. Dia menangkup kedua pipi Athena. Bisa-bisanya Athena berpikir sampai sejauh itu. "Na, gak usah macem-macem. Awas aja lo!" Lalu diciumi pipi Athena bergantian, kemudian turun ke bibirnya. Tidak ada lumatan, hanya sebuah kecupan. "Udah, sekarang lo tidur. Muka udah pucet gitu masih aja cerewet, heran gue." "Tapi gue gak ngantuk," kata Athena. "Iya, tapi gak bagus juga begadang kayak gini. Soalnya lo lagi hamil." Sagara berbaring dan meminta agar Athena ikut berbaring di sampingnya. Athena hanya nurut dan berbaring di lengannya. "Kalau tidur tuh merem, Na. Merem." Kata Sagara saat melihat Athena yang masih membuka mata. "Iya, Sagara." Mata Athena terpejam. Dan karena tadi melihat Athena yang merasa nyaman saat diusapi perutnya, kali ini Sagara juga melakukan hal yang sama. Ia sedikit memiringkan tubuhnya. Di dalam selimut, tangannya bergerak untuk mengusapi perut Athena. Berhasil. Karena Athena semakin merapatkan diri dengannya. Beberapa menit kemudian ia berhenti. "Lagi," pinta Athena terdengar sudah mulai mengantuk. Dituruti Sagara sampai hela nafas Athena terdengar teratur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN