Saat ini, aku sedang berdiri seorang diri di depan gedung pengadilan agama, menunggu Indira yang belum keluar karena ada beberapa hal yang ingin kukatakan padanya sebelum kami berpisah. Sosok Indira muncul setelah aku menunggunya sekitar 20 menit lamanya. Dia berjalan sendirian dengan kepala tertunduk. Meski dia berusaha tegar, raut kesedihan tergambar jelas di wajahnya. Aku sangat mengenal Indira, dia bisa berpura-pura tegar di depan orang lain tapi tidak di depanku. “Indira.” Indira yang tampaknya sedang melamun seketika tersentak kaget, wajahnya yang sejak tadi tertunduk akhirnya mendongak. Dia menatapku bingung. Kuabaikan reaksinya itu, aku berjalan menghampirinya tanpa ragu. “A-Ada apa, ya?” tanyanya canggung. Aku menghela napas panjang, ada keinginan untuk memeluknya, tapi

