“OK, aku perhatiin. Cepetan bikinnya, jangan lama. Bentar lagi waktunya Raffa minum obat.” Dia memasang pose telapak tangannya sedang memberi hormat padaku, lagi-lagi membuatku memutar bola mata. Setelah itu, seolah menjadi chef cocok menjadi profesinya selain bisnisman, dia mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat bubur. Aku mengernyit bingung ketika melihatnya mengeluarkan wortel dan kentang. Lalu memotongnya menjadi kotak-kotak kecil. “Sayur itu buat apa?” tanyaku. “Buat dicampurin ke buburnya. Kita bikin bubur sayur buat Raffa. Ditambah ayam tentunya.” “Raffa gak boleh makan yang berminyak-minyak dulu kalau kamu berniat goreng ayamnya.” Dia menggeleng. “Nggak kok, siapa bilang aku mau goreng ayamnya?” Aku tak mengatakan apa pun lagi. Hanya diam memperhatikan ketika d

