6. Priscillia Andriana?

2259 Kata
"Ada masalah?" ujar Langit. Dia menghentikan langkahnya, memutar tubuh dan menatapku dengan sorot datar. "Sil, apa-apaan sih, Lo?" desis Amel. "Bu-bukan, Kak. Sisil bukan maksud--" "Jadi nama Putri Alam Baka ini ... Sisil?" tukas Braga. "Iya, aku Sisil." Aku keluar dari tempat dudukku. "Kenapa? Enggak boleh ya, aku teriakin orang ini?" tunjukku pada Langit. Jimmy berdecak. "Memang di kampus ini ada peraturan, kalau juniior enggak boleh berteriak sama seniornya?" "Enggak ada. Cuma sayangnya, entah kapan terakhir kali ada anak kampus yang teriakin kita," ucap Braga. "Udah, deh. Kakak berdua diam aja, urusan aku cuma sama cowok ini." Aku menunjuk Langit. Lelaki yang kumaksud maju selangkah. "Urusan apa?" tanyanya tanpa intonasi sedikit pun. "Urusan semalam," bisikku. "Lo 'kan yang hampir tabrak Bunda?" tuduhku masih dengan suara pelan. Sedikit mendongakkan kepala demi menatap matanya. Tiba-tiba Braga dan Jimmy mendekat, merapatkan tubuh di samping Langit. Mereka ikut menatapku. "Dia ... cewek semalem?" tanya Braga. "Bukannya ... semalem emak-emak?" tanya Jimmy. Salmon ... Hiu ... Ikan Teri ...!!! Jadi mereka juga ada. "Dia anaknya," sela Langit. "Urusan semalam udah beres. Gue udah minta maaf sama bokap dan nyokap lo. Lo inget, 'kan?" "Lo, maksud gue kalian, hampir bunuh orang. Gampang banget minta maaf. Tapi sekarang, giliran Gita minta maaf, kenapa susah, hah? Kalian semua malah bully dia," tuduhku berapi-api. Terdengar gelak tawa dari Braga dan Jimmy. Sedang Langit, dia hanya tersenyum dengan sudut bibir kanan ke atas. "Udah, lah. Dia enggak ngerti apa-apa. Kita ke base camp," tandas Langit. "Heh, jangan pergi kalian! Gue belum beres ngomong!" Sayang, mereka tidak menggubris teriakanku. Braga, Jimmy dan Langit melangkah dengan gaya tak acuh, keluar dari kantin. Aku pun berbalik, menatap Gita yang masih berdiri dengan pakaian basahnya. "Lo enggak apa, Ta?" Kuhampiri dia segera. "Diem lo, Sil! Enggak usah sok perhatian." Gita mendorong bahuku dengan tangan kanannya. "Cukup, ya! Bisa enggak sih, lo enggak usah ikut campur urusan gue?!" Aku mengerjapkan mata tak percaya. Gita pun berlalu begitu saja dari hadapanku. "Gue bilang apa? Lo enggak usah sok kasian sama si Gigi Taring. Dia enggak bakalan nge-respect simpati lo." Tanpa kusadari Amel sudah berdiri di sampingku. Aku hanya bisa tertawa hambar, lalu berdecak. Tanpa bisa memahami inti dari kejadian ini. Namun, satu yang pasti. Aku berharap Langit Biantara, bukanlah Langit Kelam teman masa kecilku. Anak itu terlalu baik jika harus dibandingkan dengan sosok lelaki angkuh dan kasar seperti Langit Biantara. . "Assalamualaikum," ucapku lesu sambil menutup pintu, lalu menjatuhkan tubuh di atas sofa. "Waalaikumsalam. Udah pulang, Sil?" Bunda datang dari arah dapur. Aku mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Bunda. Mencium punggung tangan perempuan itu dalam posisi duduk. Bunda hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahku yang sudah tidak aneh ini. "Mau Bunda buatin minum?" tawarnya. "Mau, dong!" sahutku semringah. "Hm. Ya, udah. Sekalian Bunda bawain camilan, ya. Tadi Bunda bikin brownies lumer kesukaan kamu." "Gamsahabnida, Eomma. Salang haeyo," ucapku sambil memberikan tanda cinta dalam bentuk telunjuk dan jempol tangan bersilang. "Iya, salang haeyo juga," sahut Bunda sambil melangkah kembali ke dapur. Aku melepas tali pas, merebahkan kepala di atas bantal kursi. Terbayang kejadian tadi siang sewaktu di kantin. Aish, bisa-bisanya aku berkata seperti itu sama senior kampus. Kyaaa! *** "Jadi, mereka hampir celakain Bunda?" Kedua mata Amel melotot. Aku mengangguk. "Gue kira lo emang belain si Gigi Taring," cetusnya lagi. "Ya, sebenernya gue juga kasian sih, sama Gita. Kenapa enggak ada yang belain dia, atau lapor sama Pak Bowo," ujarku terheran. "Lah, lo lupa kalo Kak Langit itu keponakan Pak Dekan? Dan kabarnya, bapak dia yang seorang pengusaha itu selalu membuka kesempatan untuk mahasiswa kampus kita buat PKL dan magang di perusahaannya. Enggak sedikit juga yang jadi karyawan tetap. Makanya enggak aneh, kalo semua dosen enggan kasih teguran sama Kak Langit." Akhirya aku hanya bisa berdecak kesal. Jadi dia putra dari seorang pengusaha. Pantesan kelakuannya songong, tamengnya kuat banget! "Eh, Sil. Bagus nih, kaosnya lucu. Dih, kenapa ada lo, sih?" Aku yang sedang asyik memilih kemeja, menoleh segera. Gita? Astaga! "Lo yang kenapa ada di sini? Bosen gue lihat muka lo berdua," umpat Gita. "Untung lo cewek. Ogah gue kalo orang bilang keseringan ketemu gara-gara jodoh," balas Gita tak kalah sengit. Aku yang jadi penonton hanya bisa mengembuskan napas. "Udahlah, Mel. Kita ke sini mau beli baju, bukan buat adu debat sama dia." Amel akhirnya mengambil hanger baju yang sedari tadi dipegangnya. "Nih, kaosnya bagus. Cocok buat lo." "Apaan? Gue yang duluan lihat!" Gita merebut kaos berwarna merah muda itu. "Gue!" "Gue!" "Gue!" "Gue!" Breet. Mereka terdiam. Aku pun melongo melihatnya. "Ya udah, buat lo!" Amel menarik tangannya. "Ayo, Sil. Kita cari di tempat lain," ajaknya sambil memegang lenganku, mengajak pergi paksa. "Eh, Melati Busuk! Apaan, nih! Lo harus tanggung jawab! Amel! A--" Aku menyempatkan menoleh. Ternyata Gita sedang berbicara dengan salah satu karyawan toko. Sepertinya dia diminta untuk mengganti rugi kaos itu. . Selepas membeli beberapa potong baju di toko berbeda, aku dan Amel melepas dahaga di sebuah kafe terdekat. Kami duduk di kursi bagian depan, di samping jendela. Tak perlu menunggu lama, lima menit kemudian pelayan datang membawa minuman pesanan kami. "Wah, kalo ini bisa disebut jodoh enggak, ya?" ujar Amel tiba-tiba. Aku yang sedang mengaduk Ice Thai Tea dalam gelas, ikut menengokkan kepala ke arah ke mana Amel menatap dengan sorot terpaku. Hah, ternyata dia melihat si Mr. Presiden alias Arfan Ketua BEM yang sudah menghukumku. Gara-gara dia, aku jadi mendapat julukan Putri Alam Baka! "Sil, dia ke sini, Sil," bisik Amel dengan nada gugup. "Aduh, muka gue berminyak enggak, ya? Lipstik gue luntur enggak, nih?" "Dih, kenapa jadi salting gitu?" ucapku sebal. "Eh, kalian anak Universitas Putra Bangsa, 'kan?" "Iya, Kak Arfan. Kita 'kan satu fakultas juga. Kak Arfan sendirian aja?" "Temennya masih di jalan. Ini ... Priscillia, 'kan?" "Iya, ini ... Sil, Kak Arfan sapa lo, nih." Aku yang awalnya berpura-pura fokus menatap layar ponsel, akhirnya harus menoleh pula. Kuberikan seulas senyum kecil yang murni sangat terpaksa. "Kak," sapaku. "Hai, maaf ya, buat hukuman itu. Aku harap kamu enggak dendam sama aku." Arfan menyunggingkan senyum lebar. "Enggak, kok. Lagian itu 'kan wajar, mahasiswi yang tidur di jam orasi tentu harus dihukum." Kini senyumnya berubah kecut. "Oya, Kak Arfan kalau masih nunggu, gabung aja di sini sama kita," tawar Amel. "Em, boleh juga. Aku duduk, ya." Arfan pun duduk di sebelahku. Aish, bikin bad mood aja! "Denger-denger sebentar lagi kampus mau adain acara pemilihan ketua BEM baru, ya?" tanya Amel. "Iya. Masa jabatan aku 'kan udah mau habis. Mau jadi kandidat?" seloroh Arfan. "Enggak, lah. Ketua BEM 'kan harus mahasiswa yang punya pamor, famous gitu, smart juga." Amel berkata dengan nada sok akrabnya. Cih! Arfan tergelak sekejap. "Nanti di acara kemping ada beberapa mahasiswa yang mau perkenalan diri buat jadi calon kandidat." "Oya? Wah, udah enggak sabar." Aku mengernyitkan kening. Kemping? Astaga, lupa. Belum laporan sama Ayah Bunda. Surat pemberitahuannya aja enggak tau di mana. Haduh! "Arfan." Aku menoleh karena mendengar suara asing di antara kami. "Hei, Amora." Arfan berdiri, lalu mencium pipi kanan dan kiri perempuan itu. Amel melebarkan mata melihat kejadian itu. Oh, Lord. Ingin tertawa tapi takut dosa. Amel pasti merasa kalah saing. Perempuan bernama Amora itu cantik luar biasa. Memiliki wajah blasteran khas orang Eropa dan bertubuh tinggi langsing. Tentunya, berpenampilan 'wah' layaknya wanita sosialita. "Udah lama nunggu?" "Enggak, baru datang, kok. Oh, ya. Kenalin, mereka adik tingkat aku di kampus." "Hai, aku Amora," sapanya ramah. "Hai, aku Amel." "Sisil." Aku membalas uluran tangan Amora. "Aku udah pesan meja di lantai atas," ujar Amora. "Kalian mau ikut?" Menatap aku dan Amel bergantian. "Oh, enggak makasih. Kita sebentar lagi juga pulang, kok," sahut Amel. "Kalau gitu kita tinggal dulu, ya. Bye," pamit Arfan. "Bye." Aku dan Amel menjawab bersamaan. Kusempatkan menatap dua punggung yang berlalu sambil bergandengan tangan mesra itu. "Masih mau bilang, kalau ini ... jodoh?" sindirku. "Ih, Sisil. Tega amat lo." Amel mengerucutkan bibir, kemudian mengaduk dengan kasar Manggo Jelly Ice Milk di gelasnya. Akhirnya aku tak kuasa menahan tawa. . "Kemping?" Ayah melepas kaca matanya lalu menatapku setelah menyimpan kertas di tangannya ke atas meja. "Iya, tiga hari dua malam." Aku menambahkan. "Terus gimana? Di surat ditulis acara wajib untuk semua maba. Ayah enggak bisa larang, 'kan." Kening lelaki di sampingku itu kini penuh kerutan. "Ayah, kayak enggak tau aja punya putri semata wayang gimana tabiatnya," sindir Bunda tiba-tiba. Padahal sejak tadi dia asyik menonton sinetron favoritnya. "Tadi udah beli baju, 'kan?" tanya Ayah. "Cuma baju sama celana, doang. Tas sama sepatunya enggak," dalihku. "Ya, 'kan Ayah bilang bulan depan. Katanya besok mau beli hape." "Tapi Sisil enggak punya tas ransel sama sepatu buat naik gunung," rengekku. "Ya ampun, Sisil. Kamu ini. Ya udah, besok beli hapenya jangan mahal-mahal. Jadi ada sisa buat beli yang lain." "Asyiap. Makasih Ayah Fardan terbaik sedunia." Aku memeluk tubuh Ayah dari samping. "Kalau bisa jual aja hape lamanya, Yah. Biar ada tambah-tambah." Bunda berkata sambil berlalu ke arah dapur. "Ih, Bunda sewot aja," ketusku. "Sil." "Hm?" "Terus itu, si Langit itu. Gimana dia sekarang? Kamu udah selidiki belum." "Selidiki apa?" Aku menautkan alis. "Dia Langit anaknya Kamila bukan?" Aku melotot. "Ayah masih penasaran?" "Mm, bukan gitu. Cuma ...." "Teh jahenya mau di minum di sini atau Bunda simpen di kamar, Yah?" "Di kamar aja, Bun. Ayah udah mau tidur, kok," sahut Ayah dengan ekspresi kikuk, melirik takut ke arah Bunda yang sebenarnya masih berada di dapur. "Cih, takut," ejekku. "Hust," ucapnya sambil menyimpan telunjuk di depan bibir. "Ya udah, Ayah tidur dulu. Kamu juga cepet tidur, Sil." Ayah berdiri, lalu berjalan ke arah kamar. Akhirnya mode bisik-bisik membicarakan Langit selesai. Ih, Ayah. Apa maksudnya nanyain cowok nyebelin itu? Bukannya kemarin bilang jangan bahas lagi nama Langit dan Kamila. Terus, gimana kalau seandainya dia tau, Langit itu orang yang hampir tabrak Bunda? *** Aku menghentikan motor. Melepas helm, lalu turun setelah mencabut kunci motor. Tiin!!! Aku terlonjak kaget. Bahkan tas dan kunci motor saja sampai berjatuhan. Sialan sekali itu orang yang menekan klakson! Aku berbalik segera. Cih, Langit ternyata. "Heh, Putri Alam Baka!" "Ada apa?!" "Lo lupa, ini tempat parkir gue," ucap Langit yang masih duduk di atas motor besarnya. "Mana? Di sini enggak ada tuh, keterangan tentang tempat parkir siapa ini," elakku. Kemudian berjongkok untuk mengambil tas dan kunci motor yang masih tergeletak di bawah kaki. "Memang enggak ada. Tapi, semenjak dua tahun lalu, tempat ini enggak pernah ada yang nempatin selain gue," paparnya dengan raut santai setelah aku berdiri kembali. "Kak Langit!" "Damn, kenapa dia mesti muncul? Gara-gara lo nih, yang kelamaan," gerutunya. Akhirnya dia melajukan motornya dan berhenti di samping motorku. Dengan gerak terburu-buru dia melepas helm, menarik kunci motor dan pergi begitu saja. Aku yang melihatnya hanya sanggup menatap heran. "Kak Langit! Ih, kok malah pergi. Eh, lo, Sil. Kenapa lo parkir di sini?" "Aduh!" Aku mengusap pundakku yang ditepuk oleh Gita. Tepukan yang cukup keras. "Kenapa? Ini 'kan tempat umum," jawabku kesal. "Tapi ini udah dua tahun jadi tempat parkir Kak Langit!" tukas Amel penuh emosi. "Lo tuh, ya? Segitunya amat suka sama tuh cowok bergajulan--" "Stop! Sekali lagi lo jelek-jelekin Kak Langit," ujar Gita sambil memberi kepalan tangan di depan wajahku. "Nih!" Aku memundurkan kepala. "Coba aja," desisku. "Sisilia-ku!" "Nah, nah. Ini nih, si biang kerok! Dasar, Melati Busuk! Kenapa kemarin lo kabur? Gue jadi harus gantiin baju yang lo rusak!" Gita berkacak pinggang melihat kedatangan Amel. "Kemarin kapan, ya? Lupa, tuh! Ayo, Sil. Kita lihat Kak Arfan. Dia lagi kasih pengarahan buat entar kemping penutupan ospek." Amel menyeret langkahku. "Biasa aja, dong!" seruku. "Kita daftar sekarang cepetan! Besok belum tentu yang jagain meja pendaftarannya dia." Amel masih tetap menarik paksa lenganku. Benar saja. Di depan aula, sudah berbaris beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang mendaftar untuk acara kemping. Amel dengan semangat berdiri di jajaran paling belakang. "Gue pikir, lo bakal berhenti jadi fans-nya si Mr. Presiden itu." Aku berbisik setelah ikut berbaris di belakangnya. "Hm, enggak, lah. Gue ini tipe fans setia walau apa pun yang terjadi pada idola," ujarnya bangga. Aku hanya bisa memutar bola mata kesal. Setelah hampir sepuluh menit mengantri, tibalah giliran Amel berdiri di depan meja. "Hai, Amel. Apa kabar?" tanya Arfan dengan akrabnya. "Baik, Kak!" jawab Amel semringah sambil memberikan kertas di tangannya. "Aku salin dulu, ya, biodata kamu." Arfan pun meraih kertas itu. "Iya, Kak," sahut Amel. Sekitar satu menit kemudian, Amel menyingkir dari depan tubuhku. "Hai, Priscillia," sapa Arfan. Sayang, aku tidak suka dengan sikap sok akrabnya. Kubalas dengan anggukan kepala, lalu memberikan kertas yang sudah sedari tadi aku pegang. "Aku salin dulu, ya." Arfan meraih kertas itu. "Priscillia Andriana, nama yang cantik. Secantik orangnya." Aku menautkan alis. Cukup kaget dengan pujiannya itu, walau sebenarnya aku pun hampir terbang setelah mendengarnya. "Ma ... kasih," ucapku gugup, disertai senyum serba salah. "Sudah," ucap Arfan tiba-tiba. "Ah, iya. Makasih sekali lagi, Kak." Aku melangkah, keluar dari jalur pendaftaran. Amel menyambutku dengan senyum menggoda. "Apaan, sih?" ketusku. "Hm, salting juga, 'kan, digoda gitu," ejeknya. Aku hanya bisa berdecih sebal. "Jadi nama lo Priscillia Andriana?" Aku berpaling segera demi melihat siapa yang berbicara. Sosok itu berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Aku mengembuskan napas pendek. Langit lagi? Haduh. "Iya, Kak. Sisil ini nama panjangnya Priscillia Andriana," sela Amel ketika aku baru saja membuka mulut. Sepertinya Amel tahu jika aku akan berkata yang lain-lain. Langit terdiam. Kemudian memutar tubuh, pergi begitu saja. Aku terheran menatap punggungnya yang semakin jauh. Kenapa dia? Semakin aneh saja itu cowok bergajulan. "Yuk, ke kelas, Sil,"ajak Amel. "Yuk," sahutku. Aku pun melangkah bersama Amel. Namun, entah kenapa kejadian beberapa detik lalu itu masih saja terpikirkan. Kenapa Langit harus memastikan namaku? Deg. Aku menghentikan langkah. Berbalik ke belakang. Sayang, sosok itu sudah menghilang. ***** --bersambung--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN