Resya merasakan tulang punggung dan bokongnya begitu pegal, duduk selama berjam-jam dan terus menatap layar komputer di hadapannya mau tak mau membuat matanya sakit. Rasanya ia ingin cepat-cepat pulang berendam dengan air hangat, rasanya pasti akan sangat enak dan membuat tubuhnya rileks. Dengan cepat wanita itu mulai membereskan semua pekerjaannya karena sudah waktunya ia untuk pulang. "Zian?" Merasa dipanggil ia menengok menatap Dani yang berdiri didepan mejanya. "Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" "Mau dinner bersamaku?" Resya sangat ingin menolak namun ia tidak tau bagaimana caranya, ia termasuk orang yang tidak enakkan menolak orang lain. Dani yang melihat gelagat wanita didepannya tersenyum kecil dan hatinya terasa sakit. Wanita itu benar-benar sudah tidak bisa digapai, dari awal

