Bab 5

3193 Kata
“Saya nggak peduli dengan apa yang situ katakan, saya hanya menuntut hak yang harusnya saya terima dari promo kartu kredit perusahaan situ. Kenapa situ tidak mengerti? Situ kan pernah bilang bahwa perusahaan situ menggratiskan iuran kartu kredit selamanya. Kenapa sekarang jadi hanya setahun saja? Situ mau membohongi saya? Situ salah mencari musuh, Bu! Saya bisa melaporkan perusahaan situ ke YLKI, ya! Promo yang perusahaan situ berikan telah melanggar hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa. “Jangan dikira saya buta hukum! Menantu saya seorang pengacara, dan saya jelas akan menindaklanjuti masalah ini ke ranah hukum kalau situ tetap tidak memberi saya promosi yang situ berikan! Saya bisa mengirimkan rekaman telepon saya dengan perusahaan situ tentang promosi selamanya ke Lambe Turah, biar seluruh dunia tahu, perusahaan situ perusahaan abal-abal! Sebelas dua belas dengan perusahaan pengadaan umrah murah! Kalau situ mau mengganti gigi situ dengan emas seperti pemilik travel umrah itu, LAKUKAN DENGAN CARA JUJUR! JANGAN SEKALI-KALI MENIPU PELANGGAN!” Ya ampun, nih ibu-ibu nggak selow banget sih ngomongnya. Dikira kupingku ini tuli apa sampai berteriak-teriak kayak orang kesurupan gitu? Aku menutup ponselku dengan gemas. Rencanya sih aku mau menego konsumen yang telah ditipu nataya beberapa hari lalu melewati telepon. Tapi benar apa yang dibicarakan Mbak Silvi, manusia-manusia seperti si klien ini nggak akan tersentuh hanya dengan ucapan-ucapan manis penuh gula-gula. Terpaksa deh besok harus ke Bogor. Males banget. Jauhnya itu loh, belum harus membuat laporan buat presentasi tiap akhir pekan, belum memilah-milah data klien yang akan kubagikan kepada para telemarketer, belum memantau pekerjaan anak buah, belum mendengarkan mereka melakukan penawaran. Masih banyak. Kalau dijabarin satu-satu, bisa sampai Surabaya sana list pekerjaanku. Aku mendesah. Ini semua gara-gara si kutu kupret nataya itu! Gara-gara congornya main bilang bebas iuran selamanya! Dia pikir ini perusahaan undur-undur? Yang semua transaksi bisa pakai daun pepaya? Aku benci sama dia. “Ta, makan yuk. Lapar nih gue.” Aku menoleh ke arah suara. Pilar dengan tampang lesunya berdiri di sampingku. “Mau salad,” desahku. “Gue juga lapar parah. Kerjaan banyak banget, tapi gue nggak mau makan makanan berlemak, nanti gue melar lagi.” “Yang benar aja lo, Ta. Sepagian gue ngebacotin kartu kredit kepada klien sampai liur gue habis dan siangnya main diajak makan rumput? Ogah gila! Lo aja sono yang makan daun! Gue mau sate kambing.” “Itu kan makanan berlemak. Berkolesterol pun. Gudangnya penyakit, Lar. Ogah!” “Suka-suka lo ya, Ta. Gue mah nggak mau gila makan dedaunan! Mending gue kena kolesterol daripada mati kelaparan akibat obsesi gila lo akan bentuk tubuh! Gue ke bawah! Lo mau ikut apa enggak, bukan urusan gue!” Ingin rasanya aku menyaduk kepala Pilar dengan wedges-ku, tapi nanti sepatuku rusak lagi. Kepala m***m seperti Pilar kan banyak dosa, pasti nggak akan mudah dipukul dengan barang sekelas sepatu kan? Kecuali mau menibani kepalanya dengan satu ton beras, mungkin ceritanya akan lain. Akhirnya, ya lo tahu lah, niatan diet yang begitu indah di angan-angan, dengan hasil yang sungguh menggiurkan di alam mimpi kita, terhancurkan tanpa perasaan ketika sepiring nasi yang masih mengepulkan asap, semangkuk gulai kambing yang begitu berlemak, serta sepiring sate kambing berpotongan besar, tersaji di meja depanku. Terasa kurang puas mengolok-olok niatan dietku yang sudah terpuruk, segelas es teh luar biasa menggiurkan diletakkan dengan begitu manis di samping siku. Aku menelan ludah. Hidungku mengendusi aroma kambing yang menguar. Udara panas Jakarta yang hanya diusir dengan kipas angin membuat kerongkonganku tercekik. Aku meraup cantel gelas belimbing, lalu dengan perasaan haus luar biasa, aku meneguk es teh secara rakus. Tak membutuhkan waktu banyak, setelah dahagaku terpenuhi, sate kambing dan konco-konconya ikutan absen menuju lambung. Meninggalkan niatan diet yang dengan sangat terpaksa harus aku lipirkan dulu. “Lo kenapa sih dari tadi cemberut melulu, Ta? Gue tahu lo emang beda dengan model rambut pendek, tapi puji Tuhan, sekali-kali, kalau lo manyun, bawa tu cermin, ngaca di sana, lo udah kayak ikan lele megap-megap tahu, nggak?” “Tuh mulut bisa diam, nggak, sih? Lo nggak tahu pikiran gue lagi kacau?” “Pasti masalah Tian lagi. Heran deh sama cewek, suka banget gitu galau lama-lama. Kayak nggak ada yang diurusin hal lainnya saja.” “Haduh, ini lebih heboh dari kasus Tian atau Ibu di rumah.” Pelipis kupijat-pijat. Bisa nggak ya kira-kira aku punya hari paling normal sedunia? Yang nggak ada masalah di dalamnya? Yang isinya hanya shopping, hadir ke acara runaway, travelling ke pelosok dunia? Yah, capek banget tahu tiap hari harus dihadapkan dengan masalah. Kemarin Tian dan Ibu. Sekarang pekerjaan. “Kenapa? Masalah kerjaan dan target? Lo kan nggak pernah ngeluh kalau masalah target, Ta?” “Perusahaan kita terancam masuk IG Lambe Turah. Lo tahu, kan, lebih baik kita nggak dilahirkan di muka bumi ini daripada wajah kita terpampang di akun gosip itu. Kalau instansi pemerintahan saja dibuat tak berkutik dengan akun itu, gimana dengan perusahaan kita? Akan dilumat ribuan netizen, bahkan jutaan. Terlebih lagi ditunjang dengan caption-nya Minceu, dijamin deh, kita akan gulung tikar.” Aku mendramatisir, mengelap bibir dengan tisu. Habis ini kudu touch up lagi, deh. Makan-makanan pedes dan panas bikin wajahku berminyak. Aku nggak mau kerja dengan tampang acak-acakan. “Hah? You serious?” “Lo nggak melihat muka gue udah kayak orang beranak ini?” “Masalahnya apa, Ta? Lo bikin masalah? Lo kan libur lima hari kemarin, Ta?” “Nataya bikin fraud lagi anjing!” “Puji Tuhan.” “Dia bilang pada klien bahwa kartu kredit kita menggratiskan iuran selamanya. Selamanya, Lar. Bikin kartu kredit di tempat kita nggak ada biaya apa-apa sepeser pun!” “Wanjer! Itu bunuh diri namanya!” “Berita lebih menggembirakan lagi, tuh ibu-ibu main mengancam akan membawa kasus ini ke YLKI! Bahkan, demi Tuhan, bahkan dia sangat fasih mengatakan hak konsumen yang tercantum dalam YLKI. Katanya sih menantunya pengacara gitu, Lar. Makanya, dia nggak akan mundur. Akan terus memperjuangkan promo palsu itu sampai kita menyetujuinya!” “Entot!” “Nataya emang entot parah!” “Terus gimana, Ta? Nataya di-out­-in?” “Penginnya sih gitu. Gue benar-benar enek melihatanya berkeliaran di kantor sini. Apalagi dengan kesalahan fatal ini. Gue sungguh berharap dia kena batunya dikeluarin gitu saja. Tapi, gue nggak akan setega itu lah. Maksud gue, ya ampun gue benar-benar terdengar seperti ibu peri sumpah, gue nggak sampai hati aja melihat nataya terpuruk kalau dipecat.” “Tapi, ini gila! Perusahaan kita main dilaporkan ke pihak berwajib?” “Intinya sih gitu!” “Ya ampun, Ta. Terus gimana, Ta? Kita nggak mungkin kan membiarkan hal itu terjadi? Mbak Silvi ada bilang apa? Dia punya solusi?” Aku berdecak. Mengingat debatku dengan nataya di dapur, membuat emosiku seakan mendidih. “Karena yang bikin fraud anak buah gue, jadinya mbak silvi main melimpahkan kasus ini ke gue. Dia pengin semuanya kelar beres. Mbak silvi udah berusaha meminta maaf kepada klien ini. gue pun turun tangan tadi keluar dari meeting. Tapi tetap aja, kami nggak berhasil. Setelah gue dicaci maki sedemikian rupa, nggak ada cara lain yang bisa gue ambil selain pergi ke Bogor dan ngobrol face to face dengannya.” “Gue anterin besok. Gue nggak mau lo ke sana sendirian. Kalau tuh ibu-ibu main nerkam lo bisa berabe. Mending gue yang kena amukannya daripada lo. Gue nggak tega aja sama lo. Udah di rumah banyak masalah, balik kerja lagi pun tetap dihadapkan masalah.” “Iya, tadi gue ijin ke Mbak Silvi buat diantarin lo.” “Diijinin keluar apa enggak, lo tetap sama gue besok. Gue nggak akan ngebiarin lo pergi sendirian.” == Jadi rencananya begitu, besok aku sama Pilar pergi ke bogor. Tapi sebelum kami meluncur ke sana, kami nikmatin dulu malam ini dengan mabuk-mabukan. Masalah Tian, untuk sementara, benar-benar setelah kasusku dengan klien selesai, baru akan kupikirin lagi. Aku cinta padanya, tapi aku nggak akan bego membiarkan nasibku di perusahaan terancam hancur dengan mengabaikan amukan klien. Omong-omong, untuk acara kelabing dengan Pilar malam ini, aku sudah siap dengan outfitku yang seksi. Oh, apakah aku harus memberitahukan setelan elegan yang kupakai malam ini kepada kalian? Baiklah kalau kalian memaksa begitu. a.       Bow shoulder playsuit-nya Azkara yang membuat lekukan tubuhku terlihat menawan. Aku pernah bilang belum sih kalau aku paling suka menggunakan atasan yang memperlihatkan bentuk pundak dan tulang selangkaku? Banyak yang mengatakan bahwa keseksian tubuh perempuan terletak pada mata atau bibirnya. Tapi buatku, pundak dan tulang selangka mampu merebut perhatian. b.      Kupadukan dengan boot setinggi di atas lutut dari Public Desire berwarna merah. Ah, aku paling suka sepatu boot. Membuat penampilan manisku terkesan ada sentuhan liar. c.       Serta clutch-nya Luis Vuitton d.      Yang nggak kalah ketinggalan, gincu seterang boot, dan manisnya parfum Scandalous yang selalu setia menemaniku. Astagah, aku siap untuk puluhan bir agar masalah yang menyanderaku hengkan tunggang langgang. “Ajining raga saka busana, Semesta.” Nenek tua itu kembali menegur ketika aku barus saja turun dari kamar. Heran deh. Di rumah ada ibu yang menjadi satpam penampilanku. Di kantor ada Angkasa yang ngeselinnya mirip hansip. Kenapa orang-orang suka sekali sih merecokin kehidupan orang lain? Kenapa kita nggak bisa hidup tenang tanpa gunjingan dan pandangan hidup orang lain? Masalahnya, setiap manusia memiliki kepala dan pemikirannya masing-masing. Setiap orang memiliki keyakinan dan seleranya. Jadi kita jelas nggak bisa memaksakan kehendak kita kepada orang lain, kan? “Tata mau pergi, Bu. Tata buru-buru, Ibu jangan mengganggu Tata.” “Kamu anak Ibu, Cah Ayu. Seenggakmaunya kamu Ibu rusuhi, Ibu akan selalu menuntunmu mengambil arah yang benar. Pakaian yang kamu kenakan sekarang keterlaluan. Kamu ndak akan pergi dengan tubuh yang hampir terbuka seperti ini.” Aku menatapnya seketika. Cekungan hitam di bawah kelopak mata ibu menandakan, satu-satunya orang tua yang kumiliki tersebut tampak kelelahan—entah Ibu sudah berapa malam enggak tidur. Pundaknya sempit. Ibu jauh lebih kurus dari yang terakhir aku ingat. Rambut yang ia gelung ketat memperlihatkan uban di mana-mana. Kebaya kutu berwarna krem serta jarik cokelat tua membungkus tubuhnya yang seakan rapuh. Tapi aku nggak akan terkecoh dengan chasing Ibu. Di dalam tubuh menuanya, Ibu tetaplah singa kelaparan yang selalu memamangsa setiap penampilanku. “Tata capek, Bu. Tata capek berdebat.” Aku berdecak, meninggalkannya. Tatapi suara lantang Ibu memaksaku untuk tinggal. Mataku berputar, kedua tanganku bersedekap. Tuhan, bisa, nggak, sih aku keluar dari rumah ini tanpa adu argumen dengan Ibu? “Tigapuluh lima tahun, Bu. Tigapuluh lima tahun Tata tinggal di bawah atap rumah ini. Tigapuluh lima tahun Tata menaati semua perintah Ibu. Hampir lima puluh tahun Tata hidup, tak pernah sekali pun Tata membantah Ibu. Semua larangan Ibu tata patuhi. Bahkan, meninggalkan para kekasih Tata pun untuk sekadar alasan konyol, Tata tetap tunduk di bawah kaki Ibu. Tata tuh capek, Bu. Tata capek! Tata menginginkan kehidupan Tata! Tata menginginkan bebas di atas kedua kaki Tata! Dan sekarang untuk masalah pakaian saja Ibu masih merecoki Tata? Mau Ibu apa, sih? Kalau Ibu mau memiliki anak yang bisa diatur-atur, bisa disuruh ini dan itu, jangan melahirkan manusia, lahirkan robot! Tata bukan robot!” Aku hampir menyembur murka di hadapan Ibu. “Busana membawa nilai untuk pemakainya, Cah Ayu.” Mulut ibu terlipat ke dalam. Rahangnya mengetat. Ibu tampak emosi mendengar racauanku. Bagus lah, dengan begitu Ibu akan sadar bahwa dia salah karena selalu dan selalu mengekangku. “Kamu harus bisa menghargai tubuhmu. Kamu harus tahu tata cara berpakaian yang bagus. Apa yang menurutmu nyaman bukan berarti sesuia dengan norma yang kita anut, Nduk. Ibu tahu, kamu paham apa maksud Ibu.” “Bu, di luaran sana, banyak yang pakai baju ombor-ombor, pakai jilbab tapi main nyolong harta orang. Baju nggak bisa hati dan pikiran pemakai. Itu pepatah lama, Bu. Sekarang itu, karakter dan peringai manusialah yang paling utama. Orang nggak akan melihat bentuk baju kita selama kita berbuat baik kepada mereka!” “Bukan berarti banyak penjahat berhijab lantas kamu enggan menjaga kebaikan tubuh kamu, Semesta. Kalau kamu pakai pakaian seperti ini, malam-malam, di mana hujan sering turun, angin berembus kencang, kamu akan sakit, Anak Wedok. Memang benar orang ndak melihat baju kita kalau kita berbuat baik kepada mereka, tapi apa kamu bisa menjamin orang-orang yang kamu maksud memiliki peringai sebaik yang kamu pikirkan? Dengan baju seperti ini, jika kamu berjalan di tempat sepi, apa bisa kamu mengontrol hawa nafsu laki-laki liar di sana? Pakai pakaian tertutup saja, kita ndak bisa mengendalikan pelaku kejahatan, bagaimana dengan baju yang memperlihatkan hampir lekuk tubuhmu, Semesta? Kamu melecehkan diri kamu sendiri!” “Keterlaluan, Bu!” Aku nyaris melayangkan clutch dalam genggaman. Ibu menatapku tanpa ampun. Bola mata hitamnya tak berkedip sama sekali. “Apa ini yang kamu bilang siap untuk menikah?” “Apa yang aku kenakan nggak ada hubungannya dengan pernikahan, Bu! Seharusnya, pikiran Ibu itu yang diperbaiki sebelum Ibu menghinaku! Bagaimana mungkin ibuku sendiri mengatakan aku melecehkan diriku? Bagaimana mungkin Ibu yang menyusuiku tega mengatakan kalimat sejahat itu?” “Lihatlah dirimu sendiri, Cah Ayu. Pahamu terlihat, puncak payudarayamu terlihat, kamu menjajakan apa yang seharusnya dilihat suamimu. Kamu merendahkan apa yang seharusnya dilindungi perempuan. Ndak, ndak ada laki-laki yang sudi mempersunting perempuan yang ndak bisa menjaga kehormatan badannya sendiri. Ndak ada laki-laki yang sudi mengucap ijab kabul untuk perempuan yang suka mengumbar-umbar tubuh berharganya sendiri. Menggunakan pakaian yang sopan adalah satu bentuk dari kamu menghargai pagar ayumu, Semesta. Menghargai normamu sebagai perempuan. Kalau dengan tubuhmu sendiri pun kamu dengan sengaja melecehkannya, bagaimana dengan orang lain? Kamu mengundang laki-laki menyentuh dan melecehkan kamu, Nduk. Pergi ke kamar dan pakai pakaian yang sopan! Ibu ndak  merestuimu keluar dengan busana seperti ini!” “Ibu jahat! Ibu jahat banget tahu, nggak? Ibu menyumpahi anak sendiri? Ibu mendoakan yang buruk-buruk untuk anak sendiri? Keterlaluan, Bu! Keterlaluan!” “Cepat ganti baju kamu, Cah Ayu.” Aku mendengus keras sebelum menatap Ibu. “Persetan! Persetan dengan apa yang Ibu ucapkan! Aku nggak mau diperintah Ibu lagi! Aku ingin merdeka dengan caraku sendiri! Ibu nggak suka aku berpakaian seperti ini? Bukan urusanku!” == Dance floor ramai dengan orang-orang berjoget. Aku membaurkan diri. Di panggung depan, para penari hampir telanjang asyik meliuk-liukkan tubuh. Aku tersenyum kecut, kemudian sendawa keras! Ya ampun, aku cinta alkohol. Bir kedua yang kusambar dari bartender benar-benar mampu membuat tubuhku terasa terbakar. Membuat malam dingin beserta kejahatannya lenyap digantikan hiruk pikuk kelab malam di kawasan BSCD yang dituju Pilar. Omong-omong tentang Pilar, ke mana tuh cowok? Main ninggalin aku gitu saja dia! Dia pikir aku ini perempuan apaan? Pasti lagi n*****t lagi, nih! Seperti di hampir seluruh hidupnya yang dia habiskan denganku, acara ngebar itu adalah acara nyelupin barang rongsokannya ke lubang entah siapa. Sialan! Katanya dia mau menghiburku, eh sekarang malah meninggalkanku. Omongannya Pilar tuh, kayak kebanyakan cowok otak selangakangan, bullshit doang. Ayo goyang lagi, Taaa! Nggak usah pikirin Pilar, nanti juga tuh cowok akan balik lagi kalau butuh lo! Tubuhku berayun-ayun, kepalaku angguk-angguk, geleng-geleng. “Huuuu!” teriakku lalu ketawa, yang kemudian kembali kuteguk bir dengan beringas. Perutku begah seketika, punggungku terasa dingin. Bulu-bulu kudukku meremang. “Sendirian saja?” Seorang cowok yang nggak aku ketahui jelas bentuk mukanya menegur. Aku tersenyum, sendawa, masih berjoget. “Seksi banget lo!” Kan, apa aku bilang? Bajuku ini memang sangat cocok untuk acara kelabing. Aku memang seksi. Semua orang tahu itu! Tak rugi menggelontorkan duit banyak untuk belanja ke butik kalau hasilnya semengesankan ini. Angguk-angguk lagi, Ta. Tuh cowok bergoyang di hadapanku. Disenggolnya tubuhku dari depan. Aku tersenyum lebar. Meneguk bir lagi. Ya Tuhan, aku berasa terbakar. Aku bisa saja terbakar di lantai dansa ini. “Lo model, ya? Tubuh lo bagus?” teriak cowok itu di kupingku. Yah, seharusnya, kalau Ibu nggak suka menegurku, aku bisa saja menjadi model internasional sekarang. Sewaktu masih SMA, aku pernah ikut-ikutan lomba fashion show, sering juara satu pun. Tapi, yah, Ibu kan kolotnya kayak cingur. Ngelihat aku pakai rok sebatas paha saja sudah kepingin makan lem seempang. Belum kalau aku pakai bikini di atas catwalk, bisa kejang-kejang nenek tua itu. “Eh, eh, eh, apaan lo?” Sekonyong-konyong aku mundur tatkala tuh cowok menyentuh pinggulku. “Jangan resek deh lo! Minggir sana, Babi!” Tapi yang ada, cowok itu semakin menekan tubuhnya padaku. Tangannya meraba pundakku. “Anjing lo! Minggat sana, b*****t!” Kontan, aku memukulkan botol bir ke kepalanya ketika dia menyentuh payudaraku. Suaranya yang lantang seketika membuat orang-orang memekik. Aku mundur. Tuh cowok merangsek maju sambil mencengkeram pundakku. “Model jangan sok jual mahal lo! Jaman sekarang, model bisa di-booking di kamar! Mending sama gue! Gue bayar lima juta satu jam! Gue sudah ngaceng, b*****t!” “Heh, Babi! Tu congor jangan macam-macam, ya! Gue bukan perempuan seperti yang lo tuduhkan! Pergi sana lo!” Dia nggak pergi, yang ada semakin mendekat. Lenganku dicengkeram erat. Aku mengelak, tapi nggak bisa. Sialan! Siapa sih? Bertahun-tahun kelabing nggak ada yang pernah sebrengsek ini padaku! Kampret tuh cowok! “Jangan muna deh! Tubuh lo yang bilang ke gue kalau lo bisa gue pake! Ayo dong, gue udah nggak betah nih!” “Jauh-jauh lo dari cewek gue!” Entah kenapa, tahu-tahu, cowok itu ambruk. Orang-orang yang mengerumuni kami seketika mundur memberi tempat. Musik dimatikan. Sorot lampu berada di tengah-tengah. Dari belakang cowok itu, Pilar berdiri sambil menatapku. Aku menggeleng takut. Kukira kamu ninggalin aku, Lar. bisikku, ngeri. “Jauhin tangan busuk lo dari cewek gue!” Pilar menindih tubuh cowok berewokan itu, lalu meninjunya membabi buta. “Sekali lagi lo nyentuh cewek gue, lo nggak akan gue kasih ampun!” “Pilar, berhenti! Berhenti, Lar!” Aku mencoba menarik tubuh Pilar, tapi nggak bisa. Orang-orang di sekeliling kami pun hanya bisa bersorak-sorai. Eh, ini bukan tontonan. Bantuin napa? Kenapa malah bersorak-sorai, sih!? “Udah, Lar! Udah!” “Nggak ada yang boleh nyentuh cewek berharga gue! Nggak ada yang boleh nyakitin cewek gue!” Pilar seperti kesurupan setan entah apa. Dia nggak bisa dikendalikan, tubuhnya nggak mau beranjak dari cowok yang hampir nggak babak belur. Akhirnya, huru-hara itu berakhir ketika pihak kelab menyeret tubuh Pilar. Mereka akan menghubungi pihak berwajib kalau Pilar enggak berhenti. Pilar menarik tanganku, dan mengajakku keluar. Entah sejak kapan, tahu-tahu Pilar memelukku, mengusap-usap punggungku. “Jangan nangis, oke? Jangan nangis.” Refleks, aku mengusap mata. Basah. Sejak kapan aku nangis? Ini pasti dari sejak cowok b***t itu menyentuhku. Kurang ajar! Sialan! Nahas banget sih kehidupanku? Kalimat-kalimat Ibu berdesing-desing. Amukannya tadi sore seperti mengencingiku saat ini. Ya, Tuhan, kenapa Ibu tega menyumpahi anaknya sendiri? Kejadian kan apa yang enggak pernah aku alami? Kenapa Ibu jahat banget sama aku? Ibu emang benar-benar deh. Anutannya tentang norma dan adat mengalahkan rasa cintanya pada anak. Sekarang, mana ada Ibu yang main menyumpahi anaknya sendiri selain ibuku? Ugh. “Orang itu ngatain gue cewek bisa dipakai, Lar. Persis dengan apa yang dibicarakan Ibu! Aku rendahan, Lar. Aku murahan! Dia melecehkanku seperti yang dibicarakan Ibu. Dia memperlakukanku sesuai dengan sabda Ibu, Lar. Aku benci Ibu, Lar. Aku benci orang tua itu. Padahal aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, Lar. Aku hanya ingin nyaman dengan diriku sendiri, Lar. Demi Tuhan, Lar.” “Jangan didengar, Ta. Jangan didengar!” Pilar melepas pelukan. Ditangkupnya rahangku. Kedua jempolnya mengusap air mataku. “Ketika dunia berkata jahat kepada lo, Ta, jangan didengarkan. Cukup dengarin gue. Ketika lo disakiti, ketika lo merasa sedih, cukup dengarin gue. Di hadapan gue, lo bebas menjadi diri lo sendiri, Ta. Bersama gue, lo merdeka sebagai perempuan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN