Bab 7

3354 Kata
“Wow, you look so gorgeous with this outfit, Ma’am. We call it bohemian style, right? Gladiator shoes are so last century. But as a great fashionista, you really know how to match up your printed maxi dress, handband, and cardigan.” Aku tidak bisa menyembunyikan decak kekaguman begitu melihat perempuan berusia lima puluhan membukakan pintu. Perempuan tersebut terlihat terkejut, kemudian tersipu sambil memandang penampilannya. Ia menggeleng, membuat rambut ikal panjangnya bergerak mengikuti. “Thanks, I love boho. Bohemian style make me feel free. Kamu tahu, Nak, rutinitas saat sudah pensiun itu sungguh membosankan. Berkebun, ngopi, membersihkan perabotan rumah. Benar-benar mampu membuat sendi-sendi yang sudah karatan ini meraung-raung.” Perempuan itu tersenyum. Barisan gigi putih rapinya terlihat seiring bibir tebalnya terangkat ke sudut-sudut. Sangat berbeda 180 derajat dari Ibu. Kalau Ibu suka sekali sesuatu yang memang harus protokoler, ibu-ibu di hadapanku ini justru mengingikan kebebasan. Seandainya ibuku menganut sistem kebebasan sepertinya, pasti saat ini aku sudah…. Ya, Tuhan, Semesta. Sudahlah, jangan berandai-andai. Ingat tujuanmu datang ke sini. “By the way, ada yang bisa saya bantu? Maaf, kalian mencari siapa?” “Perkenalkan nama saya Semesta, dan sahabat saya ini Pilar. Kami dari perusahaan kartu kredit tempat Anda membuat kartu kredit. Kami ingin meluruskan hal-hal yang, memang kami akui, sungguh melenceng kepada Anda.” Senyum tuh ibu langsung lenyap. Bibirnya mengerucut. Kelihatan benar dia masih dendam padaku dan perusahaan. Demi ya, demi, kalau pertemuan kali ini gagal dan nggak bisa meluluhkan hati ibu itu, aku benar-benar akan menyate Nataya. Perempuan s****l tersebut harus merasakan gimana susahnya menego klien. Kalau perlu, kumutilasi tubuhnya. Enak benar dia main mendapat madunya, sementara aku harus berdarah-darah dengan lumpur rasa pahit. Oke, abaikan perandaian ngacoku barusan. Orang gondok seperti aku kan halal mengumpat dengan segala bahasa dan frasa. “Oh, Anda, yang namanya Mbak Semesta. Punya nyali juga Anda menemui saya. Saya pikir, Anda hanya bisa main kandang, tidak berani sama sekali menunjukkan batang hidung di hadapan saya. Rupanya saya keliru.” Ya ampun, aku menarik ucapan yang beranggapan dia berbeda dari Ibu. Ibu Karisma, klien supermenjengkelkanku ini, tak jauh lebih baik dari Ibu. Sepertinya, orang-orang tua memang memiliki kelebihan menghancurkan mood anak-anak juniornya, deh. Kalau aku punya anak nanti, oh, aku tidak akan pernah membuat anakku merasa bad mood di dekatku. Berurusan dengan orang-orang se-rating Ibu dan Bu Karisma seperti berciuman dengan ratusan dementor sementara jutaan patronus dari seluruh dunia nggak mampu mengusir hawa suram dari mereka. “Bisa, tidak, Ibu lebih sedikit….” Aku langsung menggenggam tangan Pilar saat dia kayaknya mau melemparkan kalimat serangan. Sangat tidak baik sama sekali melibatkan laki-laki emosi berhadapan dengan mak-emak ber-mood menguntal orang. Bakal tambah runyam. “Maka dari itu kami ke sini untuk meluruskan segala masalah yang ada, Ibu. Bolehkan kita memiliki ruang dan waktu untuk mengobrolkan masalah ini? Maafkan saya, bukannya saya lancang atau apa, tapi sungguh, membicarakan problem kerjaan di depan pintu seperti ini memang kurang cocok.” Bu Karisma mendengus. Bibirnya terlipat tipis. Senyum yang membuatnya tampak jauh lebih muda tadi seolah-olah hanya ilusiku saja, deh. Lihat perempuan di hadapanku, benar-benar seperti banteng beranak tujuh yang lagi dalam mode ingin menyerudukku. Sabar, Ta. Sabar. Orang sabar, jodohnya dekat. Rumah Ibu Karisma beda banget dari kebanyakan rumah yang pernah aku lihat. Sungguh-sungguh mencirikan kebebasan. Dari beranda, terdapat beberapa lentera antik dari kaca berbagai macam bentuk yang tergantung di langit-langit. Rumah ini juga memiliki kaca-kaca besar berbagai macam warna, ada hijau muda, cokelat emas, sampai merah maroon. Ketika Ibu Karisma mengajakku masuk, decak kekaguman lolos begitu saja dari mulutku. “Aku pengin sekali memiliki rumah seperti ini,” kataku tanpa dosa, memperhatikan bagaimana penataan interior rumah yang membuatku terpesona. Sofa-sofanya ditutupi dengan kain beraksen warna-warni. Bantal-bantal beraneka corak dan ragam digeletakkan di sofa. Patung-patung abstrak berdiri di atas meja rendah yang juga diselimuti kain berdesign garis-garis. Ada empat lukisan abstrak  menggantung di tembok yang dilukis dengan kehidupan alam liar—ada lukisan singa, padang rumput, danau, dan pohon-pohon dalam lukisan tembok tersebut. Selain itu, banyak pigura dengan berbagai macam foto menempel di dinding. Ketika aku menengadah, puluhan keping VCD menggantung dan sedang terayun-ayun memantulkan kilat pelangi sewaktu angin berembus. Sementara lantainya ditutup karpet lembut bermotif kotak-kotak dari ujung pintu sampai partisi yang membatasi ruang depan ini dengan ruang dalam. Namun, yang tak kalah membuatku terkagum-kagum adalah tanaman yang ada di dalam rumah. Gila! Gila! Entah ada berapa pot tanaman di sini. Semuanya ditata dengan sangat manis di samping meja, di belakang sofa, di sisi kiri pintu masuk, di tengah-tengah ruangan, di meja tamu. Tidak ada bunga di semua pot itu, hanya juntaian hijau daun yang justru terlihat begitu kontras dan kawin dengan nuansa vintage yang sungguh kental di sini. Jendela dari kayu terbuka lebar di balik sofa, sehingga angin dingin bisa dengan bebas menerabas masuk. “Rumah Anda sungguh eksotis, Bu. Luar biasa menawan. Saya tidak tahu, Anda benar-benar seorang bohemian. Dari pakaian yang Anda kenakan, sampai ke penataan rumah. Sisi liar Anda tercium kuat di sini.” “Wow, Anda pun tahu design yang saya pakai untuk membuat rumah ini.” Aku menoleh ke arah suara, tersenyum. “Kebetulan, saya sangat ingin memiliki rumah bertema boho. Anda tahu, saya merasa pulang apabila punya rumah yang bisa membuat saya betah di dalamnya.” Bu Karisma tersenyum, menyuruhku dan Pilar duduk. “Lo beneran pengin punya rumah aneh kayak gini, Ta?” bisik Pilar ketika dia melesakkan b****g di sampingku. Aku mendeliknya tajam. Aneh dia kata? Otak Pilar kayaknya kudu dibenturkan ke tembok deh, biar dia tahu, apa itu bohemian style. Aku hanya mencibirnya tak suka. Dan, seperti itulah, kami memulai obrolan tentang komplainnya beberapa saat lalu. Senyum ketika aku memuji design rumahnya luntur entah ke mana sewaktu, dengan sangat fasih, Bu Karisma menumpahkan amukan. Terdengar sungguh berlebihan sih, tapi aku jamin, semua kalimat membuat d**a nyut-nyutan dari mulut Bu Karisma tadi, mampu banget bikin orang beranak nggak jadi ngeluarin bayinya. Serem abis. Aku dan Pilar hanya bisa menjadi pendengar setia. Biarkan pelanggan mengeluarkan semua unek-unek dulu. Jangan disela. Apalagi orang macam Bu Karisma, yang akan mengaum tanpa sungkan apabila omongannya kuselingi protes. “Pertama, saya ingin mengatakan kepada Ibu, bahwa sayalah dalang dari semua masalah ini,” kataku pada akhirnya ketika Ibu Karisma menyudahi suaranya. “Ini semua salah saya, Bu. Saya mengakui bahwa saya benar-benar teledor melepas karyawan baru untuk meng-hire semua pekerjaan.” Tentunya aku bohong lah ketika mengatakan sebaris kalimat barusan. Nataya sudah ada dua tahun bekerja di sana, walaupun emang sih begonya kayak karyawan baru saja. Tapi kan aku nggak mungkin bilang ke orang ini bahwa karyawanku nggak pernah punya otak saat memprospek klien. Bisa hancur nama perusahaan. “Saya memang sudah memberi pelatihan kepada karyawan saya. Saya pikir itu sudah cukup sehingga saya main melepaskannya begitu saja tanpa dampingan. Makanya, kesalahan seperti ini bisa terjadi. Saya sungguh menyesal, Bu Karisma. Saya benar-benar meminta maaf.” “Anda memperkerjakan seorang karyawan baru untuk memprospek saya? Anda atasan tidak punya otak? Tidak punya pikiran? Bagaimana kalau karyawan itu melakukan penipuan ke seluruh orang Indonesia? Perusahaan Anda bisa saja dilaporkan ke pihak berwajib dengan pasal penipuan. Saya benar-benar tidak terima ya, Mbak Tata, dengan kelakuan karyawan Mbak Tata. Sangat merugikan! Saya sungguh tertipu dengan promo yang dia ajukan! Tahu begini saya juga ogah membuat kartu kredit di sana. Mbak Tata pikir saya tidak bayar perbulannya dari semua tagihan belanja saya? Baru kali ini saya dikecewakan perusahaan kartu kredit. Saya berjanji tidak akan pernah sudi bersinggungan dengan perusahaan Anda. Tunggulah ulasan kritikan saya di Kompas, Mbak Tata. Saya tidak main-main dengan ucapan saya.” Sabar, Ta. Sabar. Baik-baikin orang model beginian. Jangan sampai tersulut emosi lo, Ta. Aku melirik ke samping. Rahang Pilar mengetat. Ya ampun, dia kan pengendalian emosinya kurang banget. Kalau kubiarkan Pilar menumpahkan amukannya, bisa semakin runyam masalah. Dari bawah meja, kugenggam tangan Pilar. Mencoba meredam emosinya. Aku nggak mau saja satu-satunya kesempatan yang kumiliki harus ambyar apabila, entah kesurupan jenglot dari mana, Pilar main misuh-misuh di sini. Cowok itu menoleh ke arahku. Kukode dia supaya jangan ngamuk. Syukurnya sih Pilar paham kodeku. Dia membuka kepalan tangannya, bergantian mengambil telapak tanganku untuk dia genggam. Hawa panas dari genggamannya membuat dadaku yang kepingin meledak karena emosi, seperti disiram segalon air es. “Saya memang patut mendapatkan amukan seperti ini, Bu.” Jempol tangan Pilar mengusap punggung tanganku. Seolah-olah berkata: ‘Tenang, Ta, gue di sini.’ “Kerjaan saya seminggu lalu memang sungguh berantakan. Saya sedang dalam proses mempersiapkan segala sesuatu menjelang pernikahan saya, soalnya.” Kontan, mata Bu Karisma melirik Pilar. “Bukan, bukan dengan Pilar. Dia sahabat saya.” Bu Karisma menatapku lagi. Cekalan tangan Pilar semakin menguat, membuatku nyaris memekik. Saat kutoleh pemuda itu, Pilar pura-pura enggak menghiraukanku. “Saya sedang dirundung kebahagiaan ketika teman pria saya ingin melamar saya, sehingga saya main melepas tanggung jawab sebagai supervisor begitu saja. Saya tidak meneliti pekerjaan anak buah. Saya pun hampir tidak mendengar track record percakapan mereka dengan klien. Apalagi ketika pernikahan di depan mata itu gagal karena saya tidak mendapat restu dari Ibu, perhatian saya sama sekali tidak berada di tempat kerja. Saya justru mematikan sambungan telepon ketika atasan saya mencoba menghubungi. Yang saya lakukan hanya menangis seperti bayi. Makanya, saya benar-benar meminta maaf atas kecerobohan saya. Ini semua tidak akan terjadi kalau saja saya tidak terlalu stres memikirkan masalah pribadi saya. Kekecewaan Ibu tidak seharusnya tercetus jika saja saya bisa memilah masalah kerjaan dan masalah pribadi.” Genggaman tangan Pilar kembali melembut. Kenapa sih anak orang ini? Dia pikir tanganku spons? Yang bisa dia remas seenak jidat? Untung, sekarang lagi ada meeting, coba kalau enggak, sudah kugigit tangannya. “Anda… batal menikah?” Aku mengangguk. Memasang mimik berkabung. Pilar batuk sekali. Kalau memuji nggak berhasil merebut perhatiannya, aku harus menyentuh hatinya dengan perasaan. Di mana pun berada, perempuan tetaplah perempuan, bukan? Yang akan terenyuh ketika mendengar berita mengenaskan, seperti kegagalanku berhubungan dengan Tian, misalnya. Gagal di mata Ibu, sih, maksudku. Kami kan belum official mendeklarasikan putus. Dia menghilang dan nggak bisa dihubungi, lo tahu, kan? Dan, aku tipe orang yang segalanya harus jelas. Putus apa tidak! Aku nggak mau digantung seperti jemuran. Aku jelaslah beda dengan jemuran. Lagian, demi apa pun, aku masih mengharapkannya menjadi suamiku, menjadi bokap buat anak-anakku nanti. Wajarlah aku nggak mau diputus. “Untuk yang ke… entah keberapa kali. Ada mungkin belasan kali.” “Maksud Anda? Batal nikah nggak cuma sekali? Kok bisa?” “Kalau Anda memiliki Ibu selurus dinding, maksud saya, memiliki Ibu yang masih menyangkutpautkan segala sesuatu dengan mitos dan adat Jawa seperti ibu saya, pernikahan yang sudah Anda rencanakan bisa saja batal sampai puluhan kali. Ibu saya sangat kaku dan kolot. Sekali Ibu percaya bahwa pernikahan dengan orang sekampung Bapak itu adalah hal yang membawa kesialan, selamanya Anda tidak akan pernah diizinkan menikah dengan orang itu. Ibu saya tidak bisa dibengkokkan. Bahkan mungkin, saya berasumsi, Tuhan pun tidak bisa menggugat putusan Ibu.” “Saya turut prihatin, Mbak Semesta.” Aku tersenyum sedih. Bagus, Ta. Bagus. Target kelihatan mulai termakan umpananmu. Nggak apa-apalah curcol dikit-dikit asal bisa mengambil perasaannya. Lagian dia kan nggak kenal aku, jadi nggak mungkinlah menggosipkan kisah cintaku dengan teman sosialitanya. “Tidak seharusnya orang tua mengekang keinginan anak-anak. Biar bagaimana pun, anak-anak adalah individu yang memiliki hak asasi, memiliki hak untuk hidup dan memilih.” Mimik wajahnya berubah drastis. Kesan angkuh tadi tergusur begitu saja. Aku tersenyum kecut. “Kalau hak itu dirampas dengan dalih ‘orang tua bisa berbuat apa saja kepada anak’ bagaimana keadilan akan terjadi? Itu sama saja dengan merusak nilai kemanusiaan, saya pikir. Sungguh sangat miris, nilai kemanusiaan Mbak Semesta harus dirampas oleh orang terdekat sendiri.” Aku, tercenung. Jujur saja, aku sama sekali nggak pernah memikirkan perampasan nilai kemanusiaan dari cerita kegagalanku membangun rumah tangga. Sedikit pun, enggak pernah. Hellooo, ini kan masalah hati, bagaimana bisa aku menyangkutpautkan dengan teori nilai kemanusiaan, sih? Kecuali kalau kisah asmaraku ada bumbu serangan kemiliteran atau teroris, baru wacana mengerikan tersebut melintas di pikiranku. Selama ini aku hanya beranggapan, Ibu nggak menginginkan kebahagiaanku, nggak mau melihat anak gadisnya diambil laki-laki. Itu saja. Tapi, sampai ke teori merampas nilai kemanusiaan, ya ampun itu nakutin banget, sumpah. “Bukankah itu terlalu berlebihan dengan menyebutnya merampas nilai kemanusiaan, Ibu Karisma?” “Tidak, Nak, tidak. Kebanyakan orang tua hanya memaksakan kehendak mereka tanpa mendengar suara anak-anak. Sementara mengeluarkan pendapat itu merupakan sebuah kemerdekaan. Kalau anak tidak diberi kemerdekaan, apa sebutannya kalau bukan penjajahan? Sedangkan penjajahan merupakan hal yang tidak memiliki hati. Penindasan. Mirisnya, banyak orang tua yang tidak sadar karena telah menjadi kompeni buat anaknya sendiri, dan banyak anak yang tidak paham bahwa dia telah dijajah orang tuanya sendiri. Kita memang diwajibkan untuk berbakti kepada orang tua, tapi tak lantas dengan  menyerahkan kehidupan kita seutuhnya kepada orang tua. Percayalah, Nak, setiap bayi baru lahir memiliki hak untuk merdeka. Setiap anak memiliki hak asasi. Perampasan-perampasan kecil yang tidak disadari inilah cikal bakal kekerasan terhadap keluarga, pelecehan terhadap keluarga. Sungguh sangat miris. Sangat, sangat miris. Saya jadi paham kenapa Mbak Semesta bisa sampai seteledor itu melepas karyawan baru. Tidak ada satu pun orang yang baik-baik saja ketika dirampas hak dasarnya untuk hidup.” Aku membeku. Kutoleh Pilar. Dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan. Kalimat Bu Karisma membuatku merinding. Pemikirannya yang melompat sangat jauh nggak mampu kujangkau. Dapat teori dari mana dia tentang penjajahan di dalam keluarga? Ini kan hanya semacam Ibu nggak setuju aku kawin dengan Tian saja, kan? Nggak sampai meledakkan bom molotov untuk memutuskan hubungan penuh gula-gulaku? Apalagi sampai ada agresi apalah-apalah. Tapi kenapa uraian dari Bu Karisma sungguh mengerikan? Aneh banget tuh orang. Sudah nyentrik gila, omongannya pun menohok lagi. Tapi, aku kayaknya memang kudu bersyukur deh sudah mengeluarkan segenap kerisauan hati kecilku kepada klien ini, berkat curhat colonganku, Bu Karisma mengeluarkan kalimat yang sangat aku tunggu-tunggu. Dia menarik semua gugatannya, dan nggak akan mempermasalahkan ini ke media apa pun. Bahkan, Bu Karisma memintaku dan Pilar untuk bermalam di rumahnya karena hujan lebat mengguyur Bogor lepas asar. Aku sih mau-mau saja, Pilar pun nggak masalah. “Kamu menyukai sahabatmu?” Sekonyong koder aku menoleh. Bu Karisma dengan bandana merah polkadot tersenyum, memberiku secangkir kopi. “Saya, tidak… saya….” “Hanya orang bodoh yang tidak melihat cinta di matamu saat menatapnya.” Ya ampun, orang ini dulunya dikandung berapa tahun sih kok kayaknya tahu banyak banget? Aku nyengir. Ibu Karisma melesakkan b****g di sampingku duduk. “Minum kopinya, Ta. Aku sangat senang kalau kamu menghabiskan kopi buatanku. Itu kopi terbaik. Dari biji kopi kintamani juara. Pengolahannya pun nggak asal-asalan. Aku memiliki satu hektar kopi kintamani di Bali, yang semua proses dari penanaman hingga panen dilakukan oleh petani asli Bali yang tahu bagaimana cara mengolah kopi.” Aku menarik alis, lantas menghirup aroma kopi dalam cangkir. Kutiup pelan-pelan genangan cairan hitam pekat tersebut, lalu kusesap perlahan-lahan. Rasanya, walaupun bukan favoritku kopi hitam tanpa gula, enak. Ada aroma rempahnya, ada aroma jeruknya juga, tidak terlalu pahit, pun tidak terlalu sepat. Aku pernah mencoba kopi kintamani, tapi yang rasanya selezat ini, jujur, belum pernah. “Suka?” “Saya pecinta kopi hitam tanpa gula, tapi kopi buatan Anda, pengecualian. Enak sekali.” “Mendiang suamiku pecinta kopi, dan tahu bagaimana caranya menjaga kualitas kopi dari tahun ke tahun. Kebun kopi yang kupunya juga buah prakarsanya.” “Suami Ibu orang penuh cinta sepertinya.” Ibu Karisma tertawa kecil. Aku memegangi erat cangkir keramik. Membiarkan panasnya kopi menghangatkan telapak tanganku. Di luar, hujan semakin menggila. Udara dingin yang berembus dari ventilasi cukup menggigilkan susunan tulang-belulangku. Pilar ke mana, yak? Dari makan malam tadi sudah main mengilang saja. Nggak mungkin kan dia ngebokep di rumah orang? Bisa kena razia nanti. “Kami dulu aktivis kampus.” Oh, itu menjelaskan kepadaku kenapa ada kosakata penjajahan dan perampasan nilai kemanusiaan dalam hubungan keluarga yang diucapkannya tadi siang. Aku mengangguk, tersenyum samar. Aku suka perempuan ini. Dia dan pemikiran liarnya, membuatku menemukan hal-hal baru. Penampilannya yang beda justru semakin memikat daya tariknya. “Aku kepala redaksi majalah kampus, sementara dia seorang demonstran. Kami sering mengedarkan surat tentang politik pemerintahan busuk yang mengakibatkan kami keluar masuk tahanan.” “Ibu pernah dipenjara?” “Orde baru sangat membungkam media, kamu pastinya masih ingat kan itu?” Sekali lagi, aku mengangguk. “Kebebasan berpendapat itu merupakan hak kita sebagai manusia, dan tidak ada satu orang pun yang boleh merampasnya.” Apakah obrolan ini berujung pada kisah cintaku dan penolakan-penolakan yang dilakukan Ibu? “Ketika kami masih ditahan, dan dalam haribaanku kemerdakaan itu hal yang sangat sulit, aku menyuarakan cintaku padanya.” “Anda menembak suami Ibu?” “Bahasa anak muda sekarang kayaknya seperti itu. Di dalam ruangan tanpa penerangan itu, dengan keadaan tubuh yang sudah babak belur, aku menyatakan cinta padanya.” “Manis banget.” Bu Karisma terkekeh. “Kamu harus menciptakan rasa manis itu sendiri kalau kamu tidak ingin mati dalam keadaan mengenaskan, Anak Muda.” Giliran aku yang terkekeh. “Tanpa kuduga, suamiku menerimaku. Selama ini dia juga memiliki perasaan yang sama denganku, hanya saja tidak memiliki keberanian untuk mengeluarkannya.” Aku termenung. “Kalau aku tidak menyatakan cintaku, selamanya kami akan bertahan menjadi teman. Mungkin aku akan menikah dengan orang lain yang tidak memberiku dunia menakjubkan sebagaimana suamiku, pun dengannya, mungkin dia akan menikah dengan perempuan lain dan memiliki banyak anak. Berkat suaraku, keajaiban itu terjadi. Kami menikah. Kami membangun kehidupan yang kami citakan. Biarpun kami tidak memiliki anak yang membuat kami memutuskan untuk mengadopsi seorang anak sampai sekarang, kami tidak mempermasalahkan hal itu.” Kusesap sekali lagi kopi yang berada dalam genggamanku. “Seseorang harus mengeluarkan unek-uneknya untuk mengetahui keajaiban apa yang ada setelah itu, Ta. Kamu tahu, kita sering menyuarakan hapus penjajahan di atas bumi, padahal di dalam diri kita sendiri, kita bisa menjadi penjajah untuk hati dan tubuh kita. Membungkam suara hati kita, membiarkan kita mengonsumsi makanan tidak baik, merupakan bentuk penindasan terhadap diri kita. Aku tidak tahu apa penyebab kamu menahan perasaanmu terhadap sahabatmu. Tapi, Nak, kamu menyakiti diri kamu sendiri saat ini. Aku sudah mendengar kisah hidupmu, dan aku merasa, kamu butuh kebahagiaan, Semesta. Kamu layak mendapatkannya.” Ibu Karisma menepuk lembut pundakku sebelum berlalu. Ya, Tuhan, aku memimpikan memiliki orang tua seperti dia. Kalimatnya sungguh menyentuh satu titik yang selama ini kucoba abaikan. Ucapannya, meskipun frontal, sangat hangat dan dekat denganku. Coba kalau ibuku sehangat Bu Karisma, mungkin saat ini…. Anjir, Ta. Anjiiir. Udah, Ta. Udah. Lo jangan berandai-andai mulu, napa? Hadapi kenyataan hidup, elah, Ta. Ponselku mengeluarkan notifikasi. Ketika kucek, darahku seakan tersedot seiring hawa dingin yang dibawa hujan begitu menusuk-nusuk. SebastianDirgantara memulai video siaran langsung. Tonton sebelum siaran berakhir! Aku menekan notifikasi tesebut, dan sebuah layar siaran langsung terpampang nyata di ponsel. “Hi, guys, gue udah nikah nih, guys. Sekarang gue resmi jadi Ajeng’s husband. Terima kasih doa yang sudah kalian berikan. Semoga pernikahan gue dengan Ajeng langgeng ya, sampai kakek nenek. Untuk buah hati kami yang lagi tidur, Syafila, Ayah dan Bunda mencintaimu, Nak.” Napasku tertahan seketika. Mataku memburam. Tian sudah menikah? Menikah dengan Ajeng? Kapan? Dan, dan… anak? Anak mereka? Syafila? Maksudnya apa? Ya, Tuhan… Aku buru-buru bangkit dari tempatku duduk untuk mencari keberadaan Pilar yang sejak tadi menghilang entah ke mana. “Pilaaar….” Aku bahkan menyangsikan suara serak tadi berasal dari mulutku. Kepalaku pening. Air mataku merembes tanpa bisa kucegah. Dadaku sakit banget, demi Tuhan. Aku membutuhkan Pilar sekarang juga. Aku membutuhkannya saat ini juga. “Pilaaar….” Laki-laki itu kutemui di serambi samping rumah. Saat aku akan menghambur ke dalam pelukannya, dan menumpahkan kesedihanku di dadanya, Pilar justru bertanya padaku. “Ponsel lo ada sinyal, nggak, Ta? Ponsel gue dari tadi lost signal melulu. Ah kampret, padahal gue lagi telepon penting dengan Nataya. Tadi dia nangis-nangis karena bokapnya masuk rumah sakit lagi. Gue suruh tenang, tapi sialnya ponsel gue nggak ada sinyal. Kayaknya gue balik ke Jakarta malam ini deh, Ta. Gue nggak tenang nih ngebiarin Nataya nangis-nangis. Mana hujan lagi. Pasti dia sendirian di kos. Dia pasti ketakutan, dan nggak tahu harus gimana. Gue mau ngantar dia pulang ke Jogja. Nggak enak gue dengannya. Nanti gue hubungin Mbak Silvi untuk cuti beberapa hari selama ngantar Nataya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN