42. Jujur

1542 Kata

"Sayang" Napas Kania masih memburu, panggilan Radhit dia abaikan. Mimpinya terasa begitu nyata. Kebingunan di kepalanya bertambah hingga rasanya ingin pecah. Turun dari tempat tidur, Kania melangkah menuju pintu kamar, saat ini, butuh waktu untuk sendiri. "Sayang!" Radhit dengan cepat ikut turun dan menahan tangan Kania. "AKU BUTUH SENDIRI!" bentak Kania sambil menghempas tangan Radhit. Radhit terdiam, Kania langsung keluar kamar. Naik ke lantai dua, masuk ke kamar yang sudah tidak mereka tempati. Mengunci pintunya dan menangis. Sungguh, dia sudah tidak kuat. Rasanya benar-benar sudah begitu berat. Dia ingin semua segera normal. Dia ingin segera menjalani hidupnya yang dulu. Tidak mengenal Radhit dan tidak mencintanya. Kania terus menangis, sesekali dia menarik rambutnya karena kep

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN