Kania menatap puas hasil masakannya. Soal rasa, jangan ditanya. Kania jamin seribu persen pasti enak. Kalau gak enak? Kania mau deh cium mas duda keren, Song Joongki atau duda hot jeletot Michele Morrone. Tahu gak? Ituloh yang main 365 yang efek nonton nya bikin panas dingin. Hahay.
"Bibi gak tahu kalau Kay bisa masak" Sumi juga menatap kagum hasil masakan sang bos. Beruntung dia sempat menyicipi dan rasanya begitu enak. Luar biasa. Fantastis!
"Banyak orang yang jarang liatin keahliannya karena males di suruh-suruh" ucap Kania.
"Tapi kan gak ada yang berani nyuruh Kay"
Kania mengangguk "iya juga ya. Kemarin-kemarin aku males aja bi. Oh iya, ini tolong di rapihkan aja ya bi, masukin ke tas. Aku mau siap-siap dulu"
Bi Sumi mengangguk "iya, Kay"
"Sip bi, aku titip" ucap Kania lagi pergi menuju kamar.
Info dari sekretaris Radhit, selingkuhan yang dia temukan di kantor merupakan pegawai baru di bagian pemasaran, entah bagaimana ceritanya Radhit yang bos besar bisa kenal dengan pegawai biasa seperti itu. Peletnya kenceng ya shay!
"Gue pastiin itu si kutu gak punya waktu buat ketemu Radhit, masih muda udah mau jadi perempuan murahan" kesal Kania mengingat bagaimana Radhit dan perempuan itu berpelukan. Radhit memang bukan suaminya, tapi sesama perempuan, dia bisa merasakan sakit hati Kaylia karena pengkhianatan.
Selesai berganti pakaian dan memoleskan makeup tipis, Kania turun dan kembali ke dapur.
Dia tersenyum lebar melihat tas yang di siapkan sudah terisi makan siang buatannya.
"Udah semua bi? Gak ada yang ketinggalan?" Kania memastikan.
"Sudah semua, lengkap, gak ada yang ketinggalan"
Kania mengangguk senang. Dia meraih tas tersebut lalu pergi menuju luar, mobil sudah siap dan dia langsung naik.
"Ke kantor Mas Radhit ya" ucap Kania saat sebelum mobil bergerak.
"Siap bu"
***
Sampai di kantor, Kania langsung menuju ruangan Radhit, sesekali dia juga balas menyapa karyawan yang terlebih dulu menyapa nya.
"a***y, serasa beneran gue nyonya besar. Jadi orang kaya boleh uga" ucap Kania sambil bercermin di lift, hanya ada dia didalam karena lift itu memang khusus, tidak untuk sembarang orang.
Lift berhenti di lantai yang bukan tujuan Kania, mungkin salah satu petinggi. Pikir Kania. Tapi pikiran itu hilang saat melihat sosok wanita j*****m yang berdiri di depannya saat pintu terbuka.
"Mau apa kamu?! Lift karyawan bukan yang ini!" Ketus Kania lalu menekan tombol agar pintu kembali tertutup.
"Ngelunjak ya kalau pelakor itu, suka gak tahu malu! Liat aja, gak bakal gue bikin tenang" kesal Kania.
Kali ini lift berhenti dilantai tujuannya. Kania segera keluar dan melangkah menuju ruangan Radhit.
"Siang bu, bapak ada didalam" sapa sekertaris yang jujur saja Kania lupa namanya. Apalagi di ponsel Kania juga hanya menyimpan nomornya dengan nama sekretaris.
"Oke. Saya masuk dulu, hari ini si cabe udah ketemu suami saya?"
"Belum bu"
"Bagus, kamu bisa istirahat sekarang. Jangan terlalu banyak kerja, santai saja" suruh Kania lalu kembali melangkah dan tanpa mengetuk terlebih dahulu, Kania langsung membuka pintu.
"Haloooooo, selamat siang dunia tipu-tipu" sapa Kania penuh semangat.
"Ckckck. Udah jam istirahat nih, udahan dulu lah. Makan! Makan!" Lanjut Kania lalu meletakkan tas berisi makanan diatas meja.
Menyimpan tas selempang nya di sofa, Kiana mulai mengeluarkan kotak-kotak berisi makanan. Menatanya se demikian rupa dengan penuh bangga.
"Ngapain kamu?" Tanya Radhit dengan suara dinginnya. Sejak awal dia memang sengaja hanya diam dan melihat hal apa yang akan dilakukan istrinya.
"Menyiapkan makan siang beracun. Ayam mati, udang wafat dan sayur panggang api neraka alias sayur gak pake kuah" jelas Kania lalu tersenyum lebar.
Radhit merasa bulu kuduknya tiba-tiba berdiri, rasanya senyuman sang istri benar-benar menakutkan. Seperti melaikat maut yang sedang memberi aba-aba.
"Saya gak lapar"
"Dan saya gak tanya. Pokoknya lapar gak lapar harus kamu makan!" tegas Kania.
Melirik pintu, dia kembali melangkah, mengunci pintu agar tidak ada yang masuk.
"Ngapain kamu?!"
"Nanya mulu kaya monyetnya Dora" Sahut Kania santai lalu memasukkan kunci kedalam kantong celananya.
"Kamu!" Geram Radhit.
"Udah cepet makan! Jangan banyak omong dan protes!"
"Saya bilang kalau saya gak lapar!"
"Bodo amat, saya udah masak dan kamu harus makan. Dimana-mana, kalau istri masak ya harus dimakan. Bahkan ada suami orang yang rasanya gak enak juga tetep di bilang enak hasil masakan istrinya biar istri nya seneng. Tapi kalau masakan saya, dijamin enak jadi kamu gak perlu bohong" jelas Kania.
"Saya tetap gak mau, bisa saja kamu masukan racun kedalamnya"
"Ya Tuhan! Kamu suami apa tetangga julid? Kok nuduh istri sendiri begitu!"
"Istri?" Ulang Radhit dengan sinis.
"Iyalah! Kalau berbatang, baru suami. Saya itu berlobang!" Bentak Kania, kedua tangannya melipat di d**a dan wajahnya nampak kesal.
Radhit membulatkan matanya mendenagr jawaban sang istri. Apa yang terjadi dengan istri nya?! Kenapa jadi begini? frontal!
"Pokoknya saya tetep gak mau makan" putus Radhit, sambil mencuri tatap ke arah meja di depan Kania. Sejujurnya, bau masakan yang dibawakan istrinya itu sudah mengganggu ketenangan perutnya. Tapi tetap saja, istrinya itu tidak seperti yang lain, terlalu licik dan memiliki banyak topeng, bisa saja dia benar-benar memasukkan racun.
"Yaudah. Pokoknya saya akan tetap disini!"
"Ngapain?! Bawa kembali masakan kamu dan pulang!" Usir Radhit.
"Engga! Saya mau tetap disini. Titik gak pake nego!" Kekeuh Kania.
Radhit menghela napas, kemana perginya sifat sang istri yang pendiam dan tidak pernah membantah seolah wanita lemah? Kenapa sekarang malah paling jago membantah? Bahkan membentak!
"Terserah, saya masih banyak kerjaan" mencoba mengabaikan perutnya yang meraung, Radhit kembali meraih berkas untuk dia periksa.
Sedangkan Kania yang melihat tidak adanya tanda Radhit akan menghampiri nya, memutuskan untuk melepas sepatu pantofel miliknya, menaikkan kaki ke sofa lalu berbaring dengan lengan sofa sebagai bantalan.
Lalu mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi untuk menonton film, dia kuat melakukan hal seperti ini dengan waktu lama, karena sebelum membuka online shop, dia itu termasuk dalam golongan kaum rebahan. Santuy.
***
Sudah dua jam Radhit mencoba mengalihkan rasa laparnya ke pekerjaan.
Dia tertawa melihat kondisinya saat ini, di kunci dalam ruangan? Baru kali ini dia diperlakukan seperti ini.
Diliriknya sang istri yang sedang tertidur pulas diatas sofa. Ponselnya masih bersuara karena film yang di tontonnya belum selesai.
Beralih ke meja di samping istrinya, makanan-makanan itu seolah melambaikan tangan meminta dia mendekat. Tapi tidak! Dia tidak ingin masuk kedalam rencana sang istri.
Suara film berganti dengan nada dering, Radhit hanya diam, tidak berniat menjawab panggilan yang masuk ke ponsel istrinya.
Lalu dia melihat mata istrinya yang tengah tidur langsung terbuka, wajahnya menggambarkan jika dia belum sepenuhnya sadar tapi harus segera menerima panggilan.
"Iya, kenapa?" Jawab Kania dengan suara serak. Semua gerak-gerik itu tetap diperhatikan Radhit.
"Engga kok, santai aja. Kenapa?"
"Sekarang? Penting?"
"Yaudah, bentar lagi juga keluar"
"Iya, santai aja. Gak ganggu"
Kania mengucek matanya setelah menutup telepon, lalu bangun dari posisi tidurnya dan duduk bersandar kembali.
Dilihatnya makanan yang masih utuh, tidak ada tanda-tanda sudah di sentuh.
"Kok ini makanan masih perawan?! Segitu gak maunya kamu makan masakan aku wahai kanjeng prabu?!" Bentak Kania kesal dan lebay, rasa kantuknya sudah langsung lenyap. Marah? Tentu saja! Siapa yang tidak marah kalau sudah capek-capek ke pasar, masak dan hasilnya tidak di makan.
"Suami macam apa kamu?!" Bentak Kania lagi sambil melayang kan sepatutnya.
Telat menghindar, sepatu tersebut mendarat di ke d**a Radhit. Wajah Radhit bahkan begitu terkejut karena mendapat serangan mendadak seperti itu.
"Kaylia" geram Radhit. Giginya bergelatuk. Sudah cukup dia hanya diam. Kaylia sudah kelewatan.
"Apa?!" Bentak Kania semakin emosi, dia bahkan sudah bangun dan berjalan kerah Radhit dengan kedua tangan di pinggang.
Melempem, rasa marah Radhit menciut tiba-tiba. Dia hanya bisa menelan ludahnya saat sang langsung istri semakin mendekat.
"Kamu sekolah kan? Belajar cara menghargai orang lain kan? Seharusnya kamu juga tahu cara menghargai istri. Kalau tidak tahu, saya jadi ragu kalau kamu memang seorang suami" ucap Kania dengan sinisnya.
Dia meraih sepatu miliknya yang tadi dia lempar, memakai nya lagi lalu kembali ke tempatnya, merapihkan semua makanan yang dia bawa kedalam tas. Meraih tas selempang nya lalu membuka kunci ruangan dan keluar. Dia bahkan menutup pintu ruangan Radhit dengan keras, membuat Radhit tersentak dan semakin terkejut saat mendengar suara nyaring dari luar.
***
"Apa yang ditendang istri saya?" Radhit baru keluar setelah memastikan Kaylia pergi.
"Tempat sampah pak" ucap sekertaris sambil menatap kasihan pada tong sampah yang tadi melayang karena tendangan ibu bos.
Radhit kembali menelan ludah, membayangkan jika kepalanya yang melayang karena tendangan sang istri. Tempat sampah stainless saja melayang, apalagi kepala!
"Pak"
"Pak"
Radhit mengerjap karena panggilan sekertaris nya.
"Iya"
"Apa kita bisa rapat sekarang pak? Sudah di tunggu yang lain di ruang rapat" tanyanya. Beberapa saat yang lalu, dia yang menghubungi ibu bos nya, memberi tahu jika Radhit ada rapat.
"Semua berkas sudah kamu siapkan?"
"Sudah pak"
Radhit mengangguk singkat "ayo" ajaknya kemudian.
Selama rapat, Radhit tidak bisa berkonsentrasi, perutnya melilit karena telat makan, tadi pagi dia hanya sempat minum kopi. Sedangkan jam makan siangnya terhalang Kaylia.
Rapat akhirnya selesai, Radhit bisa menghela napas lega. Baru kali ini dia tidak bisa konsentrasi saat rapat.
"Kamu tolong pesankan saya teh hangat dan roti. Saya tunggu di ruangan saya. Jangan lama" perintah Radhit kepada sekertarisnya. Dia benar-benar butuh sesuatu untuk mengganjal perutnya yang tengah meraung.
Kembali ke ruangan, Radhit duduk bersandar di sofa. Di memijat keningnya, kepalanya berdenyut, dia kurang tidur dan belum ada makanan yang masuk kedalam perutnya hari ini, membuat tubuhnya protes.
Pintu di ketuk, pesanan Radhit datang diantar office boy.
Teh hangat dari roti di diletakkan tepat dihadapan Radhit.
Merogoh kantong celananya, Radhit mengeluarkan dompet, menarik selembar uang pecahan seratus ribu dan menyodorkannya kepada si ob.
"Terimakasih pak, saya permisi" ucapnya setelah menerima uang dari Radhit.
Radhit hanya mengangguk singkat, dia langsung meraih teh hangat dan menyeruput nya. Terasa hangat perutnya saat teh tersebut masuk.
Meletakkan cangkir kembali ke meja, tangan Radhit beralih mengambil roti. Ada dua muffin cokelat dan satu roti kismis, Radhit memilih muffin cokelat.
Memakannya sampai habis lalu menambah roti kismis karena satu muffin masih kurang untuk menghentikan raungan dalam perutnya. Hingga satu cangkir teh hangat dan dua roti sudah masuk kedalam perutnya.
Radhit kembali menyandarkan tubuhnya, dia butuh waktu beberapa saat sebelum kembali bekerja.
Dan tanpa di pinta, kepalanya memutar bayangan sang istri beberapa hari belakanganan. Betul, istrinya berbeda, sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Apa jatuh terpeleset memang berpengaruh besar hingga merubah kepribadian istrinya? Lupa?Apa istri nya benar lupa? Atau itu memang akal-akalan istrinya yang tengah merencanakan sesuatu? tapi terlalu bodoh jika istrinya hanya berpura-pura hingga menginap diluar dan beralasn tersesat atau meminjam uang dari para pegawai di rumah dengan nominal begitu kecil. Gengsi istrinya setinggi langit, tidak mungkin runtuh kecuali istrinya memang benar-benar lupa ingatan dan merubah kepribadiannya.
Bahkan pin ponsel juga pin ATM, rasanya itu cukup menjadi fakta pendukung lain untuk membuktikan jika istrinya tidak sandiwara. Radhit sekarang akan memilih untuk percaya jika istrinya memang lupa. Ingatkan Radhit untuk memberi pelajaran jika Kaylia memang merencanakan sesuatu yang buruk dan hanya berpura-pura. Akan ada balasan untuk semua tindakan yang dilakukan.
***