Nicklaus tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya hingga akhirnya dia membawa dirinya sendiri untuk meminta lebih pada Lavender. Dia mencium bibir gadis yang sedang mabuk itu dengan sedikit tergesa-gesa. Setengah pikirannya mengatakan pada Nicklaus bahwa dia harus berhenti atau dia akan segera mendapatkan masalah setelah ini. Namun, entah bagaimana dia lebih dikuasai oleh nafssu dan rasa yang menggelora dalam dadanya. Apalagi ketika tahu kalau Lavender sama sekali tidak melawan. Nicklaus berengsek. Dia sadar kalau hal ini salah, tapi dia tetap kalah. Bagaikan seseorang yang kelaparan, Nicklaus mencium Lavender seolah gadis itu adalah makanannya. “Lavender …” Suaranya terdengar sangat berat dan penuh dengan helaaan napas. Sementara Lavender hanya membalasnya dengan tatapan sayu dan pi

