Ibu pun membalas pelukan ku.
Keesokan harinya pun aku pergi ke sekolah seperti biasa, dan melakukan aktifitas disekolah seperti biasa dan disaat pulang sekolah kebetulan ban sepeda ku bocor pikir ku aku pasti akan telat pulang kerumah karena harus mendorong sepeda.
Sesampainya dirumah ayah sudah berada didepan pintu menunggu ku pulang,
"Darimana saja kamu, kenapa jam segini baru pulang" tanya ayah dengan nada marah,
Aku hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala,
"Kenapa kamu diam" tanya ayah lagi
"Tadi ban sepeda Riska bocor jadi Riska harus mendorong sepeda sampai rumah yah" jawab ku menangis
"Alasan aja kamu, mau kebiasaan pulang telat kamu mau jadi lo**e kah, sama seperti mereka" bentak ayah kepada ku
"Itu sudah ajar-ajaran ibu mu semua" bentak ayah lagi
Sambil terus menghina aku dan ibu,
"Kenapa kamu bilang seperti itu ayah Riska" tanya ibu kepada ayah atas penghinaannya
"Memang semua didikan mu, kamu orang yang gk berpendidikan, orang yang agama" ujar ayah
Ibu hanya menangis dengar kata-kata ayah yang begitu kasar terhadapnya.
Pada malam hari saat ayah telah kerja aku bertanya kepada ibu
"Bu, kenapa ayah dari Riska kecil Sampai Riska besar ayah hanya marah-marah kepada riska" tanyaku sambil menangis.
Ibu tidak bisa menjawab pertanyaan ku ibu hanya terdiam dan meneteskan air mata.
Hingga disaat aku berusia 14 tahun dimana aku telah bersekolah SMP kelas 1 ayah tetap tak pernah berubah,
Pada saat itu hari dimana hujan turun sangat deras dan aku harus berangkat ke sekolah, aku meminta tolong kepada ayah,
"Ayah bisa minta tolong antar kan Riska kesekolah, karena diluar hujan lebat jika Riska naik sepeda sampai SMP kemungkinan telat" pinta ku kepada ayah dan berharap agar ayah akan Mengantar ku sekolah karena dari kecil aku ingin sekali diantar sekolah oleh ayah seperti kawan-kawan lainnya yang selalu diantar ayah ny,
"Ayah gak bisa antar, ayah cape mau istirahat kamu berangkat naek sepeda aja bawa payung, gak usah manja" jawab ayah dengan nada kasar.
Aku berjalan menuju kesepada ku sambil menangis, aku bertanya kepada diriku sendiri "kenapa ayah tidak mau mengantar ku dari dulu, apa mungkin ayah gak sayang sama aku??, aku dari kecil selalu dapat kasih sayang dari ibu."
Tapi akhirnya aku membuang pertanya-tanyaan itu dan aku berfikir positif mungkin memang Ayah gk bisa mengantarkan Ku karena dia cape.
Sepulang aku sekolah teman-teman ku ikut kerumah ku untuk mengerjakan tugas sekolah dan bermain bersama hingga sore teman-temanku berpamitan untuk pulang
"Ris, kami pulang dulu ny, nanti kami main-main kesini lagi" ujar temanku si A
"Iyha sering-sering aja" jawab ku
Setelah berpamitan mereka pun pulang.
Dan terjadi lah sebuah tragedi