Ketakutan Lain

2193 Kata
-Tiga tahun kemudian- Waktu terus berputar, hari terus berubah dan tahun terus berganti dan semua terus berjalan tanpa bisa di cegah dan di hentikan, kecuami memang Tuhan yang menghentikannya. Alea menuntun tangan mungil Agam, dia akan berangkat bekerja di desa, bersama Agam.  Alea sangat bersyukur, ketika orang-orang di kantor desa memberinya izin untuk membawa Agam ke kantor. Selain itu, Alea juga senang mendapati lingkungan tempat tinggal yang tidak memandang buruk dirinya karena berstatus ibu tanpa suami. Saat kedatangannya ke desa ini, papanya Mika memang memberikan alasan bahwa Alea adalah janda karena di tinggal suami, dia pindah demi menenangkan diri, memang sebuah kebohongan, karena Jonathan masih hidup dan Alea bukanlah seorang janda karena dia dan Jonathan tidak pernah menikah. Tapi bagaimanapun, saat dulu,  pertimbangannnya adalah untuk melindungi Alea. Awalnya Alea pikir dengan alasan itu orang tidak akan peduli, dan merasa tetap akan ada orang yang menatap dirinya dengan sebelah mata.  Tapi bersyukur, para ibu-ibu atau perempuan lain sangat peduli kepadanya, selalu menyemangati Alea dan tidak menuduh hal yang macam-macam apalagi menjadikan Alea ancaman untuk suami mereka seperti yang ada di sinetron-sintron kesukaan mamanya Mika.  "Ma, Agam mau coklat" mata bening Agam menatap Alea penuh permohonan "masih pagi sayang, nanti Agam sakit perut" Agam langsung cemberut, membuat Alea langsung berjongkok dan mengecup pipinya. Gemas. "kalau siang mama izinkan, tapi sekarang tidak"  Agam nampak menimang ucapan Alea, lagi-lagi hal tersebut membuat Alea gemas. "oke, tapi Agam mau lebih banyak" Alea mengangguk. Mengecup pipi Agam lagi sebelum berdiri lalu mengunci pintu rumah. "Agam ingin berjalan kaki atau naik sepeda?"  "sepeda" "oke" Alea langsung menarik sepeda roda tiga yang memang ada di teras rumahnya.  Jarak rumahnya dan kantor desa memang tidak jauh, jika di tempuh dengan jalan kaki, masih cukup mudah dan tidak membuat betis pegal seperti naik gunung. "I'm ready mom!" semangat Agam saat sudah duduk di sepeda roda tiganya. Alea tersenyum lebar. Agam benar-benar sumber kebahagiaannya, melihat Agam tertawa benar-benar memberikan energi untuknya. "oke, let's go baby boy" sahut Alea sambil mendorong sepeda Agam dengan besi panjang yang memang disediakan sebagai alat bantu dorong.  "ma, kapan kita kerumah kakek?" tanya Agam  "Agam sudah rindu kakek?" tanya balik Alea, kakek yang dimaksud jelas adalah papanya Mika. Minggu lalu mereka memang berkunjung karena rindung dengan Agam. "iya. Agam juga ingin ke rumah kakek" Alea tersenyum, selama ini, kedua orang tua Mika memang yang selalu berkunjung, sedangkan Alea dan Agam belum pernah. Alea masih takut. Takut jika Alea keluar dari desa ini dia bertemu Maya. *** Jika Alea merasa hidupnya berjalan normal, begitupun Jonathan- menurutnya. Semua berlalu begitu saja tanpa bisa dia ubah, termasuk rasa benci kepada Alea. Normal baginya untuk membenci Alea dengan apa yang telah perempuan itu lakukan kepadanya.  "bang, abang abis pecat orang lagi?" Angel masuk dan langsung bertanya. "kamu ngapain kesini Ngel?" "bener yang di bilang sekretaris abang? bulan ini udah tujuh orang lho yang abang pecat. Empat office boy, satu office girl dan dua staff keuangan. Aku ingatkan kalau abang lupa"  Jonathan memilih membuka map daripada menjawab ocehan Angel yang sudah terlalu sering dia dengar. "bang!" "apasih Ngel, kamu udah tahu, kenapa nanya lagi?" "ya Angel pengen tahu, kenapa abang begini. Keselahan mereka kayanya gak fatal dan gak harus dapat hukuman pemecatan" "kamu tahu alasan abang" "bang, bisa gak abang hidup normal?" "abang hidup normal. Kerja. Abang juga pulang ke rumah" Angel menggeleng. Normal menurut Jonathan tapi tidka untuk Angel. Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan sang kakak. "setiap malam abang ke club, mabuk. Jam kerja yang gak terbatas. Abang pikir itu normal?" "ya, itu normal" "orang gila yang bilang itu normal" "dan abang waras" "abang!" "apa sih Ngel? kalau kamu cuma mau ngoceh gak jelas, mending pulang, atau belanja. Disini kamu berisik, ganggu" Angel berdecak. Sungguh dia rindu sosok kakanya beberapa tahun lalu. Bukan karena sosok kakaknya itu jahat kepada dirinya. Jonathan masih sangat baik dan peduli kepada dia dan yang lain, tapi sosok itu tidak peduli kepada diri sendiri. Laki-laki itu benar-benar gila kerja dan club, tempat itu seolah menjadi rumah kedua untuknya. Padahal saat dulu bersama Alea, kakaknya itu tidak pernah menginjakkan kakinya ke tempat itu.  Jonathan juga lebih arogan, gampang marah dan tidak bisa menerima sedikit kesalahan, kejam sangat cocok untuk mendefinisikan dirinya saat ini. "Angel cuma pengen abang berubah, Angel sayang abang. Kalau abang terus begini, Abang bisa sakit" "gak ada yang perlu dirubah Ngel dan abang sehat. Sangat. Jadi, kamu mau pulang atau tetap disini? tapi tolong jangan ngomel karena itu benar-benar berisik" Lagi, Angel berdecak. Sang kakak sepertinya benar-benar ingin Angel segera keluar ruangannya. "Angel mau bilang sesuatu,  Angel mau pindah dari rumah" Mata Jonathan yang sebelumnya fokus melihat berkas langsung terangkat, menatap Angel dengan satu alis terangkat. "Angel mau mandiri" lanjutnya Jonathan masih diam, menunggu Angel menyelesaikan penjelasan. "Angel udah kuliah, Angel juga merasa udah cukup bisa untuk tinggal terpisah. Jadi Angel mau izin untuk kos di dekat kampus" Jelas Angel "kamu udah bilang mama?" Angel menggeleng. "Angel mau minta bang Jo yang bilang ke mama, sekalian minta izin buat Angel" "kalau Bang Jo sendiri gak setuju gimana?" Angel langsung membulatkan matanya mendengar ucapan sang kakak. "abang harus setuju" "kamu maksa?" "iya" "kamu yakin dengan rencana kamu?" "yakin" lantan Angel "tapi abang gak yakin" "abang!" "Ngel, bukan rahasia lagi kalau kamu anak kesayangan mama dan papa, kalau boleh abang bilang, hidup kamu penuh dengan previlege. Kamu gak pernah ngerasain orang tua nyuruh kamu untuk cuci piring, nyapu atau pekerjaan rumah lain. Untuk makan, kamu hanya tinggal duduk dan makanan tersedia. Baju kotor hanya perlu kamu masukan keranjang dan setelahnya kamu tahu sudah bersih dan masuk ke lemari kamu. Pindah ke kosan, memang terlihat mudah, tapi belum tentu setelah di jalani. Hal yang terlihat kecil dan mudah bisa sangat sulit nantinya. Kamu siap?" Angel mengangguk. "maka dari itu Angel ingin kos, Angel ingin belajar lebih mandiri. Angel ingin bisa bersih-bersih, meskipun tidak jago, setidaknya Angel bisa masak telur untuk sendiri. Angel gak mau bergantung ke papa dan mama juga abang secara terus-terusan. Suatu saat Angel akan punya suami, setidaknya Angel akan lebih percaya diri mengurus suami. Bukan belajar menjadi pembantu, tapi belajar untuk tidak ketergantungan dengan semua previlege yang ada" "oke, Abang setuju kalau kamu sudah yakin dengan hal itu. Tapi untuk tempat kosan, biar abang atau mama yang tentukan" Angel tersenyum lebar, langsung bangkit dan menghampiri kakaknya "makasih abang, izin mama, Angel serahkan ke abang" ucap Angel sambil memeluk kakaknya Angel melepas pelukan dengan sang kakak saat mendengar ponsel milik sang kakak berbunyi, sebuah tanda notifikasi masuk. Jonathan langsung melihatnya, menghela napas kasar dan meletakan ponselnya kembali dengan kasar. "kenapa bang?" tanya Angel penasaran. "nenek" "nenek? kenapa?" "jodohin abang lagi" Angel langsung memutar bola matanya. Sang nenek dan perjodohan Jonathan memang hal yang tidak bisa di jauhkan. Benar-benar konsisten sejak Jonathan masih di bangku kuliah hingga kini. Mungkin kalau Angel boleh menilai, hidup sang nenek hanya bertujuan untuk menjodohkan Jonathan. "lagi? bulan ini nenek udah promosi dua cewek bang. Masa mau nambah lagi. Banyak banget stok nya" "biarkan, abang gak peduli" "lagian, nenek punya gudang cewek apa gimana sih. Mama dulu gak di jodohin kan sama papa?" "engga. Papa yang ngejar mama, meskipun nenek memang sempat mau jodohin mama" "oh my god. Bener-bener kaya obsesi" Melirik jam yang melingkar di tangannya Angel langsung menghampiri tas nya yang berada di sofa. Dia harus kembali ke kampus karena satu setengah jam lagi dia akan ada kelas" "Angel mau ke kampus lagi, masih ada kelas. Malam ini abang langsung pulang ya, jangan mampir ke tempat setan dulu"  "jangan atur abang kalau kamu mau izin dari mama" "abang!" protes Angel Jonathan tersenyum meledek sambil mengangkat bahunya. "sana keluar" usirnya sebagai candaan. "gak usah ngusir, Angel emang mau keluar!" sahut Angel dan berjalan ke luar ruangan Jonathan dengan kaki menghentak, kesal. *** Pekerjaan Alea hari ini tidak begitu banyak, bahkan sebelum memasuki jam makan siang pekerjaannya sudah selesai. Tinggal menunggu pekerjaan lain menyusul, tapi semoga saja tidak banyak. Matanya terus berfokus kepada Agam yang tengah menonton kantun di tab yang lagi-lagi dihadiahkan sang kakek. Melihat Agam, ada rasa bangga terhadap dirinya sendiri. Ke-keras kepalaan dirinya dalam memohon agar dokter itu tidak mengaborsinya selalu membuat dia bersyukur karena telah memilih hal yang tepat.  Tapi rasa takut juga tidak bisa hilang dari benaknya. Jika dulu ketakutan Alea hanyalah Maya. Kini ketakutan lain ada di benaknya. Agam, di umurnya yang masih sangat kecil harus mengidap penyakit jantung reumatik dan kenyataan pahit itu baru Alea ketahui enam bulan lalu. Sebuah penyakit jantung yang di dapat atau bukan bawaan sejak dia lahir. Penyakit jantung reumatik ini adalah dimana kondisi katup jantung yang mengalami kerusakan. Sejauh ini, Alea terus berusaha agar penyakit tersebut tidak semakin parah yang kemudian mengakibatkan gagal jantung. Setiap membayangkan kemungkinan terpahit, Alea benar-benar merasa hancur. Agam masih sangat kecil, tapi harus merasakan hal seperti itu. Dia ingin Agam sehat, memiliki umur panjang. Dia ingin membuat Agam selalu bahagia, mengajak Agam berlibur, membuat banyak kenangan indah. Termasuk mengabulkan permintaannya untuk bertemu sang Ayah. Alea janji akan mempertemukan Agam dengan ayahnya, tapi nanti. Saat Maya tidak lagi menjadi ancaman. Alasan sakit itulah yang membuat Alea untuk selalu membawa Agam kemanapun dia pergi, termasuk ke kantor. Dia ingin selalu bisa mengawasi Agam. Alea ingin selalu bersama Agam. Alea takut Agam akan kelelahan dan berakibat buruk kepada tubuhnya jika Alea tidak mengawasinya.   "mama, kapan Agam dapat coklat?" Tanya Agam tib-tiba yang langsung mengalihkan fokusnya dari layar tab. "coklat?" "yap, mama. Agam mau coklat" Alea tersenyum, mengusap kepala Agam lembut. Alea pikir Agam sudah lupa dengan coklatnya. Ternyata anaknya ini ingat lagi. "bagaimana setelah makan siang dan minum obat?" Alea mencoba bernegosiasi. Sebenarnya lebih ke usaha agar Agam lupa dengan coklatnya. Cukup kemarin Agam memakan coklat, hari ini tidak lagi. "kalau es krim? sekarang boleh" dengan bibir yang tertarik ke bawah, Agam mencoba meminta yang lain. "sepertinya es krim tidak boleh" Agam menghela napas, wajahnya semakin cemberut tapi tetap terlihat menggemaskan dimata Alea. "baiklah, coklat setelah makan siang dan minum obat" Alea tersenyum lebar, memindahkan Agam ke pangkuannya untuk dia kecup wajahnya. "anak mama benar-benar menggemaskan" Alea terus mencium wajah Agam, membuat Agam sesekali protes karena geli. "mamaaa, stop" rengek Agam membuat Alea semakin gencar melayangkan kecupannya. "oh iya, besok mama Mika datang. Mau menitip sesuatu?" tanya Alea. Mata Agam langsung membulat dengan binar bahagia. Mama Mikanya akan datang. Sosok yang dia panggil mama sejak dia belajar berbicara itu benar-benar menjadi salah satu orang yang Agam sayangi. "Agam mau pesan banyak snack, ice cream, coklat dan cookies" semangat Agam mengabsen keinginannya "mama harap mama Mika lupa semuanya" goda Alea yang membuat Agam langsung menatapnya penuh protes Alea langsung mengecup Agam "bercanda sayang, nanti kita telpon mama Mika dan kamu bilang apa yang kamu mau" "yey!!!! love you mama" sorak Agam senang lalu mengecup bibir Alea.  *** "Lea, mana anak gue?!" tanya Mika langsung saat panggilannya dengan Alea terhubung. "gak ada sapa dulu atau basa-basi, langsung nanyain Agam. Dasar" "gak penting Lea, cepet mana anak gue. Kangen banget gue sama bocah ganteng itu" Alea hanya tersenyum lebar dengan semangat Mika yang menanyakan Agam. Segera Alea keluar kamar, menemui Agam yang tengah belajar bernyanyi lalu daerah lewat tanyangan video di televisi. "sayang, mama Mika" Alea menyodorkan ponselnya kepada Agam yang langsung di raihnya. "mamaaaa!" teriak Agam kencang, penuh semangat. Alea tertawa, dia yakin bahwa Mika terkejut dengan teriakan Agam. "sebentar, mama pinjam dulu" Alea kembali meraih ponselnya dari tangan Agam. Lalu menekan tombol loadspeaker. "sayang, telinga mama sakit" protes Mika  "maaf mama. Mama Mika besok kesini?" "iya, kamu kangen mama?" "iya. Agam kangen mama" Alea tersenyum hangat sambil mengusap lembut kepala Agam. "mama juga kangen Agam. Kakek dan nenek juga" "Agam juga mau ketemu kakek dan nenek" teriak Agam lagi penuh semangat. "boleh, tapi nanti ya, kakeknya sedang sibuk sekarang" Agam mengangguk dengan ucapan Mika, Alea kembali tersenyum lebar karena gemas, sepertinya Agam tidak sadar bahwa Mika tidak akan bisa melihat anggukannya. "mama, besok mama bawa snack yang banyak ya mama, coklat juga, permen dan es krim" rajuk Agam kemudian. "wah, kalau mama bawa semuanya, Agam bisa habiskan?" Agam kembali mengangguk "bawa ya mama" pinta Agam lagi denga imutnya "kalau gigi Agam bolong?" "Agam kan setiap hari minum obat, jadi gigi Agam tidak akan bolong. Gigi Agam kuat" Ucapan polos Agam langsung membuat Mika dan Alea terdiam. Rasa sesak langsung muncul ke permukaan hati mereka lagi. Menarik napas dalam dan perlahan mengembuskannya, Alea mengusap lembut kepala Agam.  "nanti mama bawakan, berdoa agar mama tidak lupa ya" jawab Mika dengan suara yang Alea dengar sedikit bergetar. Sepertinya sahabatnya itu mencoba terdengar normal. "okay mama, besok Agam ingatkan lagi agar Mama Mika tidak lupa" "iya sayang. Tolong berikan ponselnya ke mama Lea" pinta Mika kemudian. Alea menerima ponselnya dari Agam. Berjalan menuju kamar untuk melanjutkan obrolannya dengan Mika dan Agam kembali fokus dengan lagu daerahnya. "halo Mik" ucap Alea setelah menonaktifkan loadspeaker. "Lea, gue ketemu Jonathan" Ucapan Mika langsung membuat tubuh Alea kaku, jantungnya berdegup kencang.  "te-terus?" gagap Alea "gue ketemu dia di rumah sakit. Gue gak tahu apa yang dia lakukan disana, gue ketemu dia saat gue mau ambil obat untuk Agam." jelas Mika "dia bilang sesuatu?" "dia cuma tanya gue sedang apa" "gak nanyain gue?" "engga Lea, gue bahkan ngerasa kalau dia natap gue dengan tatapan marah. Entah cuma perasaan gue atau memang benar" Alea menghela napas. Kalau Jonathan menatap Mika dengan tatapan marah, bagaiman dengan dirinya? Jonathan bukan lagi menatap Alea marah tapi tatapan ingin membunuh. Alea yakin itu. "dan besoknya, gue ketemu Angel lagi. Lagi, dia nanyain lo" "anak itu benar-benar keras kepala" "yap. Gue setuju" "sepertinya hanya Angel yang gak benci gue" "itupun gue setuju. Angel titip pesan, dia bilang kalau memang gue gak mau ngasih tahu dimana keberadaan lo, setidaknya gue harus sampaikan ke lo kalau dia adalah orang yang akan tetap berada di sisi lo. Gak peduli semua orang di keluarganya benci lo, termasuk Jonathan. Angel akan selalu menerima lo lagi meskipun tanpa lo menjelaskan, dia percaya lo. Selalu. Se sayang itu dia sama lo Lea" Tanpa di komando, air mata Alea turun membasahi pipinya. Angel, gadis manja yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri ternyata masih menjadi orang yang mempercayainya.  Dan kalau boleh Alea berharap meskipun hanya setitik, dia ingin Jonathan juga melakukan hal yang sama. Masih mempercayainya. Terdengar mustahil, tapi Alea ingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN