Alea menatap kalender di ponselnya. Senyumnya terbit saat melihat tanggal yang tertera. Sebentar lagi, dia akan mendapatkan gajian pertamanya. Satu bulan rasanya berjalan begitu lambat untuknya. Setiap bentakan Jonathan masih terekam jelas dalam otaknya. Bagaimana laki-laki itu memerintah, menyalahkan juga menghina. Seperti naga yang tengah menyemburkan kobaran api yang dapat dengan mudah menghancurkan hati Alea. Tapi dibalik itu, satu yang Alea bisa syukuri. Sengamuk apapun Jonathan, laki-laki itu tidak sampai menggunakan kekerasan fisik kepadanya. Tapi tetap saja luka yang di torehkan sama sakitnya. Ojek pesanannya sudah tiba, segera dia pergi ke depan setelah berpamitan dengan Agam dan sang Mama. Hari ini Mika tidak bisa mengantarnya karena sejak pagi dia sudah pergi untuk membeli be

