Part 8 - Meet Him

608 Kata
"Lif, kita ngopi-ngopi lah dulu sebelum balik ke habitat kita." ajak Ryan kepada sepupunya itu. Khalif hanya berdecak pelan. Sebenarnya dia malas untuk keluar. Dia sedang tidak mood untuk nongkrong dan minum kopi. Dia hanya ingin mengetahui kebenaran tentang anak itu. dia masih penasaran. Bahkan semalaman dia tak bisa tertidur karenannya. Hari ini tugas mereka sebenarnya sudah selesai. nanti malam mereka akan kembali ke kantor pusat. Tapi rasanya Khalif ingin tetap disana. dia merasa, Namira ada di dekatnya saat ini. "Boss ayolah. Tadi kata klien kita ada kedai kopi terkenal disini. ada banyak kue juga. Kita coba yuk." Pintanya lagi dengan nada memohon. "Hmm." Ujarnya yang membuat Ryan tersenyum lega. Walaupun hanya deheman tetapi itu sangat berarti bagi Ryan. Deheman itu bisa diartikan 'Ya, ayo. Kita berangkat'. Untung saja Ryan sudah mengenal Khalif selama bertahun-tahun jadi dia sangat mengerti kamus bahasa Khalif. Mereka pun akhirnya berangkat ke kedai kopi tersebut. dengan mengandalkan google maps akhirnya mereka pun sampai disana. memang tempat itu nyaman dan banyak yang bisa mereka nikmati disana. Ryan memesan kopi Coffe latte serta cream cheese coffee cake dan redvelvet yang best seller di kedai itu, sedangkan Khalif hanya memesan americano saja. Ryan dengan bahagianya menyantap kopi dan kue yang telah tersaji di hadapannya itu. "Gila. Ini kue terenak yang pernah gue makan. gak salah Klien kita tadi merekomendasikan kedai kopi ini." ujarnya dengan mata berbinar. Ryan memang pakarnya makanan. dia senang berwisata kuliner jadi lidahnya bisa membedakan mana makanan yang benar-benar enak dan mana makanan yang hanya standart saja. "Cobain deh Lif. Lo bakalan ketagihan." Ujarnya sembari menyuapi Khalif tapi Lelaki itu menolaknya. Ryan pun tak ambil pusing dan melahap habis kue tersebut. Ketika sedang asyik menikmati kuenya, tiba-tiba saja ponsel Ryan berdering. Dia pun keluar sejenak untuk menerima telepon tersebut. biasanya dari klien penting yang ingin mengadakan meeting dengan mereka. Khalif memandang ke sekeliling kedai kopi tersebut. dia melihat detail setiap ornamen dan hiasan pada kedai tersebut. dia merasa tak asing dengan lukisan dan hiasan yang terpampang disana. tapi dia tak terlalu memusingkan hal itu. Ketika sedang menjelajahi setiap sudut ruangan itu, matanya tertuju kepada seorang perempuan yang sedang menggendong seorang anak lelaki. Tanpa melihat dua kali pun dia tahu bahwa perempuan itu adalah perempuan yang ia cari-cari selama ini. Khalif menegakkan badannya lalu dia meneriakkan sebuah nama. "Namira!" Perempuan itu menoleh. Mata mereka saling beradu tatap. Lalu sejurus kemudian Namira langsung berlari ke dalam. Dia seakan menghindari lelaki itu. Khalif pun tak tinggal diam. Dia berlari mengejarnya. Namun sayang, Namira sudah masuk ke dalam sebuah ruangan. Dia menguncinya. "Namira please buka! Aku tahu itu kamu. buka pintunya Namira. Kita bicarakan semuanya baik-baik." ujar Khalif sembari berusaha membuka pintu tersebut. Lelaki itu tak bisa kehilangan kesempatannya lagi. dia akan menunggu sampai Namira mau bertemu dengannya. dia sudah menunggu begitu lama sampai akhirnya Takdir Tuhan mempertemukan mereka kembali. "Mir, please. Sudah lima tahun aku menunggumu. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. aku ingin berbicara denganmu. aku tahu, surat dan gugatan cerai itu bukan kemauan kamu. aku percaya padamu." Ujar lelaki itu lagi memohon. Namira tetap tidak ingin keluar dari sana. dia bahkan tak bersuara sama sekali. tapi Khalif tidak berputus asa. Dia masih terus menunggu dia di depan pintu. Karyawan Namira hanya saling tatap. Mereka juga tidak tahu dengan apa yang terjadi. Mereka tak mengerti ada apa dengan bosnya itu. "Maaf, tidak boleh membuat keributan disini. anda bisa pergi karena bu Namira sedang tidak ingin diganggu." Ujar Arhan yang penuh keberanian menegur Khalif. "Gak usah ikut campur. Lo gak tahu masalahnya." bentaknya tapi tak membuat Arhan bergeming sedikitpun. "Ini urusan saya, karena anda telah membuat keributan di tempat saya bekerja." jawabnya lagi dengan berani. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN